Aku perempuan, aku juga mahasiswa S3

Saya ini seorang Batak yang besar di kota kecil di Jawa Tengah. Orang tua saya Batak tulen yang diimpor langsung dari mainland Tano Batak sono. Mungkin saya ngikutin jejak orang tua kali ya? Selesai SMA, saya merantau ke Depok buat kuliah di kampus jaket kuning di jurusan ilmu komputer. Selesai kuliah di Depok, saya lanjut S2 di Eropa di jurusan interdisipliner antara ilmu komputer dan fisika. Setelah itu saya langsung lanjut lagi S3 di bidang ilmu komputer, di Prancis dan Norwegia.

Sebenernya nih, saya sudah bukan mahasiswa S3 lagi. Saya baruuuu saja lulus akhir Desember 2016 kemarin. Masih fresh banget sih. Pengalaman saya sebagai seorang doktor usianya belum ada 2 bulan. Jadi saya lebih mau cerita pengalaman saya selama menempuh S3 aja kali ya?

Perempuan itu masih makhluk langka di bidang ilmu komputer. Apalagi, kalau kamu ada di jenjang pendidikan/ karir yang semakin tinggi. Surem cuy! Awalnya saya berpikir, “Ah apa sih pengaruhnya? Saya juga bisa bergaul dan bekerjasama dengan laki-laki kok.” Ah naif sekali saya waktu itu. Kuliah S3 saya memang puji Tuhan lancar, selancar keringat dan air mata frustrasi yang keluar menjelang tenggat waktu pengumpulan ini dan itu. Tapi, hidup selama S3 kan nggak melulu soal kewajiban sebagai mahasiswa.

Suatu hari waktu saya di Prancis, saya ketemu seorang murid dari profesor pembimbing saya di bus menuju apartemen saya. Terus kami ngobrol cukup lama. Mulai dari hal-hal ringan, akhirnya obrolan sampai juga ke topik ‘berat’. Orang ini berasal dari benua Afrika. Dan kok ternyata concern dia soal perempuan mirip-mirip sama yang di tanah air beta. Soal kenapa pusing-pusing sekolah tinggi-tinggi dan soal ‘kodrat’ wanita untuk membina keluarga. Dan percakapan selanjutnya seolah-olah menyiram bensin ke api yang sudah membara. Jadi, menurut dia, profesor saya itu sukanya sama murid perempuan. Makanya hidup saya sebagai mahasiswa S3 kok bahagia-bahagia aja, paper lancar-lancar aja.

Hal yang nggak jauh berbeda terjadi di Norwegia. Profesor saya yang di Norwegia ini orangnya super sibuk, ada nggak ada di kantornya, beda tipis sama dedemit. Nah saya mikir nih, kalau saya nggak pernah ada diskusi dengan dia, bisa runyam S3 saya. Di sisi lain, jadwal dia penuh sesak nggak bisa gerak kayak KRL Bogor-Kota sekitar jam 7 pagi. Bikin janji sama dia hampir mustahil. Jadi, ya, akal saya begini. Saya samperin aja kantornya tiap hari kira-kira di jam makan siang atau 15 menit sebelum jam pulang kantor. Jangan pikir ini hal yang gampang buat saya. Siapa sih yang suka diganggu pas jam istirahat? Tapi saya tebelin muka aja. Dan lama-lama, saya bisa menemukan dinamika yang pas dengan si profesor dan dia pun jadi lebih terlibat dalam S3 saya. Anak bimbingan dia bukan cuma saya. Ada beberapa orang lain juga, yang semuanya laki-laki. Dari obrolan santai dengan beberapa dari mereka, saya jadi tau bahwa mereka berpikir bahwa si Bapak itu lebih baik dan perhatian sama saya karena saya perempuan.

Moral cerita: Profesor laki-laki itu lemah terhadap perempuan dan kalau ada mahasiswa perempuan yang berhasil pasti itu karena bantuan ekstra dari pembimbingnya.

Terus, kalau pandangan mereka memang sudah seperti itu, saya bisa apa? Bisa memaki dalam hati, mungkin. Saya mau membela diri di tempat pada saat itu juga tidak mungkin. Semacam tidak ada hal konkret yang bisa dijadikan bukti atau dasar dari argumen saya. Kalau saya berargumen dengan mengatakan bahwa mereka seksis… Kata feminisme sudah punya reputasi yang cukup buruk di antara mereka. Kalau saya membela diri saya demi diri saya sendiri seperti, “Oh, jadi kemampuan saya nggak seberapa ya sebenarnya walaupun pencapaian saya sedemikian?” nanti saya dibilang terlalu sensitif dan emosional.

Inilah hal-hal yang jadi perjuangan batin saya hampir setiap hari. Keinginan untuk membuktikan dan membela diri saya bahwa saya berjuang sekeras orang lain. Dan bahwa pencapaian saya adalah sesuatu yang well-deserved. Di sisi lain, saya terlalu memperhatikan dan selalu menganalisis reaksi dan kata-kata saya, jangan sampai saya dianggap baperan.

Ironis ya? Katanya hidup saya lebih mudah karena saya perempuan. Pada kenyataannya, saya harus melakukan sesuatu yang lebih untuk membuktikan kepada dunia kalau saya juga bisa. Karena semua ini tidak pernah cukup, karena pencapaian dan kerja keras saya seringkali diberi headline: Perempuan dan kemudahan hidupnya.

 

Penulis

Hilda adalah seorang peneliti (postdoc) di salah satu universitasi di negeri super dingin Norwegia, yang puji Tuhan adalah cita-citanya sejak kecil. Kegiatannya sehari-hari adalah duduk di depan komputer dan mengurus seekor kucing obesitas berbobot 8kg. Dia (Hilda, bukan si kucing) adalah salah satu kontributor di blog ilmuwarna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s