Aku perempuan, aku juga seorang programmer

Dari kecil, saya gak pernah jadi cewek girly. Memang sih, saya dulu kadang-kadang pakai dress dan boneka saya waktu kecil banyak banget, tapi itu semua biasanya hadiah atau baju dipilihin mama. Setelah saya agak sedikit besar dan bisa memilih sendiri, baju andalan saya kaos sama celana jeans. Uang jajan saya habis buat beli komik, buku, dan gadget, gak seperti kebanyakan temen perempuan saya yang uang jajannya dipakai buat beli baju dan make up. Jaman muda dulu, ada perasaan bangga karena saya “beda dari cewek-cewek lain” dan kalau boleh jujur, saya agak memandang sedikit rendah teman-teman saya yang demennya beli baju, make up, dan punya cowok. Setelah agak gede dan gak terlalu labil lagi, saya jadi sadar dulu itu sombong banget. Kenapa juga saya memandang rendah mereka? Yang namanya hobi kan beda-beda: ada yang demennya nyoret-nyoret muka, ada yang demennya nyoret-nyoret buku, ada yang demennya nyoret-nyoret tablet. Gak ada yang salah, dan saya tentunya gak lebih baik daripada teman-teman saya itu.

Sebenernya kesadaran ini datang baru pas saya mulai kuliah S1. Entah memang saya pubernya telat atau karena berada di lingkungan baru di mana gak ada yang kenal sama saya, mendadak saya kepengen eksperimen. Waktu itu, teman dekat saya juga sejenis ngasalnya: pake kaos sama celana, sendal, gak peduli banget deh pokoknya. Terus sepertinya kami sama-sama puber bareng atau gimana, kami memutuskan untuk eksperimen jadi cewek. Kami mulai cari-cari dress dan liat-liat make up di online shop, walaupun gak beli yang aneh-aneh. Hasilnya sih gak ekstrim-ekstrim banget: kami kadang-kadang pake dress dan BB cream. Cuma karena seumur hidup saya gayanya slengean, waktu itu bokap sampai nanya dengan waswas ke adek saya, “Kakak kenapa sih? Lagi jatuh cinta ya?”

Gara-gara akhirnya kami sadar kalau kami cewek (?), saya dan teman saya itu jadi sering diskusi apa hal-hal yang dihadapi perempuan yang memilih bidang yang punya image sebagai bidang laki-laki seperti Ilmu Komputer. Hal yang paling berasa buat kami adalah kami merasa kalau kami selalu berusaha menjadi one of the boys. Maksudnya, kami selalu berusaha bersikap supaya kami bisa diterima di “geng” para programmer yang mayoritas laki-laki. Kami berusaha bersikap cool, suka hal-hal yang mereka suka, ngomongin hal-hal yang mereka omongin… Terus terang, buat saya hal ini gak masalah karena memang apa yang mereka bahas mayoritas sesuai dengan minat saya. Tapi, kadang-kadang agak sulit juga kalau butuh teman untuk berdiskusi tentang hal-hal yang secara stereotip lebih “cewek”.

Ambil contoh ketika saya menjalankan studi S2. Waktu S1, saya termasuk beruntung karena angkatan saya jumlah pria dan wanitanya lumayan berimbang. Ketika saya S2, baru benar-benar terasa kalau Computer Science itu “bidang cowok”. Saya senang-senang aja sih bergaul sama para pria ini, tetapi terkadang gak nyaman juga. Waktu S2 tahun pertama di Jerman, teman-teman cowok saya suka bercanda yang agak-agak jorok. Sebenarnya saya gak ada masalah, cuma kadang-kadang mereka suka kelewat batas dan agak-agak seksis. Seringnya, saya hanya diam saja dan tidak merasa bisa menegur mereka karena saya takut saya akan kehilangan reputasi cool saya dan tidak lagi dianggap sebagai one of the boys.

Waktu awal saya masuk di tempat saya bekerja sekarang, saya satu-satunya wanita dan satu-satunya orang asing di tim yang isinya 30 orang. Memang sih, staf HR yang mengurusi operasional kami seorang wanita. Tetapi, kalau ada rapat-rapat atau seminar, kadang-kadang saya merasa situasi saya berasa seperti perawan di sarang penyamun. Rekan-rekan kerja saya tidak pernah membeda-bedakan saya karena saya seorang wanita atau orang asing, tetapi lagi-lagi kadang-kadang banyak topik-topik bahasan yang saya tidak setuju yang tidak bisa saya utarakan karena saya takut tidak dianggap one of the boys.

Saya tahu kalau insecurity saya itu tidak hanya dialami oleh saya seorang, atau bahkan tidak hanya dialami oleh wanita yang bekerja di IT saja. Saya sering kali mendengar kalau wanita yang bekerja di bidang yang didominasi pria itu dipanggil “kurang cewek”. Saya take offense dengan pernyataan itu karena tiga hal. Pertama, tidak ada yang salah dengan menjadi “kurang cewek”. Standar “kecewekan” itu memangnya siapa yang memutuskan? Kalau ada pria yang gak suka bola atau mobil, tidak ada yang memanggil mereka “kurang cowok”. Lalu kenapa kalau wanita yang gak suka pake rok dan gak suka dandan dipanggil “kurang cewek”?

Kedua, ketika seorang wanita di “bidang cowok” berusaha menjadi lebih “cewek” di tempat kerja, seringkali mereka tidak dianggap serius. Kalau kami pakai dress, kami dianggap too distracting. Kalau kami pakai baju bunga-bunga buat presentasi, kami dianggap too bubbly. Ketiga, tanpa berlaku “cewek” sekalipun, menjadi seorang wanita di bidang yang didominasi pria tidak mudah. Seringkali pendapat kami dianggal invalid hanya karena kami seorang wanita. Pernah dengar istilah mansplaining? Itu bukan cuma jargon, tapi hal itu benar-benar terjadi dan kadang-kadang saya alami sendiri. Terkadang, kalau kolega pria kami mengusulkan sesuatu, pendapat mereka lebih didengar dibandingkan pendapat kami.

Sampai di sini pasti banyak yang bilang saya baper. Yah, itu satu lagi hal yang bikin ngenes jadi perempuan: apa-apa dibilang baper. “Cuma perasaan kamu aja,” kata orang. “Kamu kok sensitif amat sih?” kata orang. Yang paling juara, “Kamu lagi dapet ya?” Apakah karena saya seorang wanita yang “emosional”, pengalaman yang saya alami menjadi tidak valid? Bagaimana caranya kamu bisa lebih mengerti apa yang saya alami dibandingkan diri saya sendiri? Kata orang, sebelum mengkritik seseorang, you have to walk a mile in their shoe. Sebelum mengkritik seorang wanita yang mengeluh tentang ketidaknyamanannya, bagaimana kalau kamu mencoba mendengar dan mengerti pengalamannya?

 

Penulis

Bibay adalah seorang research software engineer di salah satu perusahaan multinasional terkemuka di Republik Ceko. Kalau tidak sedang bekerja, dia bisa ditemukan sedang ngejayus atau mendiskusikan dunia fana dan penderitaan manusia. Kadang-kadang, dia menulis di blog pribadinya, yang berisi mulai dari puisi galau sampai surat marah-marah untuk tukang angkot.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s