Aku perempuan, aku penari, dan aku anak ITB

Saya seorang perempuan dan saya Batak. Dibesarkan di tanah Jawa (baca: ngapak) dan jauh dari sanak saudara membuat saya terkadang merasa dan nggak jarang mendapat julukan “Batak Abal.” Keabalan saya terletak di, pertama, wajah. Seringkali, orang mengira saya ini orang Jawa, Bali, atau bahkan Manggarai. Yah, kalau soal ini saya nggak bisa apa-apa juga sih. Sudah pemberian Tuhan, jadi ya disyukuri saja. Kedua, dengan tingkat kegawatan medium, adalah soal logat. Nggak usah deh satu kalimat atau satu kata, cukup denger saya melafalkan huruf B, D, G, atau J saja orang-orang pasti langsung tau kalau saya bukan halak kita, tapi ngapak mbakeeee… Yang terakhir dan yang paling gawat, saya nggak tau apa-apa soal bahasa dan tradisi Batak. Sampai tahun pertama kuliah, yang saya tau dari Batak itu cuma ulos, lapet, dan arsik.

Tapi, kemudian, keabalan saya sedikit demi sedikit semakin berkurang berkat kelabilan saya semasa kuliah di ITB. Pada tahun kedua saya berkuliah di sana, saya ikut-ikutan temen bergabung ke dalam Unit Kesenian Sumatera Utara (UKSU) di kampus. Seneng sih, di sini saya jadi sedikit banyak tau tentang seni dan budaya suku saya, walaupun kalo soal bahasa tetep aja nggak bisa. Di unit ini, setiap anggota bebas memilih untuk berkontribusi dalam musik atau seni tari. Nah, dimulai dari sini lah saya kemudian menjadi seorang penari pemula. Kami-kami yang penari UKSU ini sering diajak jadi penari di pernikahan Batak oleh salah satu alumni dari unit yang punya usaha menyediakan katering, dekor, dan penari untuk pernikahan adat Batak.

Menjadi penari di acara pernikahan adat Batak sebenarnya adalah pengalaman yang menyenangkan buat saya. Buat yang sesama anak kost pasti mengerti dan paham betul. Saya bisa nambah uang jajan dan perbaikan gizi. Itu dua hal. Tapi, bukan itu yang paling bikin saya senang. Pada saat itu, menari dan mendengarkan musik gondang Batak memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Namun, terlepas dari semua sisi positif yang bisa saya dapatkan, ada satu hal yang saya sangat tidak suka. Mungkin saja ini hanya pengalaman pribadi saya dan tidak berlaku umum, tapi seringkali orang memandang kami sebagai, “hanya seorang penari di pernikahan.”

Memang ada yang salah dengan menjadi penari di pernikahan? Rasanya tidak. Terus terang, pandangan orang yang seperti ini terhadap saya seringkali membuat pandangan saya terhadap diri sendiri jadi ikut-ikutan kurang baik. Untunglah saya punya teman-teman penari yang hebat dan bermental baja. Saya belajar dari mereka untuk masa bodo, karena toh apa yang saya lakukan ini adalah hal yang positif.

Kami yang “hanya penari pernikahan” ini kadang digodain pemusik (catatan: mereka bukan anggota UKSU maupun mahasiswa kampus saya). Ada satu pemusik yang malesinnya luar biasa. Kalo perform bareng sama pemusik yang satu itu, waktu latian saya udah langsung pasang muka jutek. Walaupun, menurut saya, ujung-ujungnya fail karena default muka nggak bisa dibikin galak. Alih-alih pasang tampang jutek, yang ada malah terkesan ngantuk atau bahkan planga-plongo.

Kami yang “hanya penari pernikahan” ini juga pernah nggak dibolehin ambil makanan dengan alasan, “Tadi udah ambil kan? Ini buat orang kantor, takut nggak cukup.” Perhatian banget mbaknya sampe hapal kalo kita udah ambil. Padahal yah, ada juga nih yang sepertinya bukan temen-temen kantor mempelai yang ambil makanan tapi nggak ditegur. Kalo menurut saya sih, terlalu.

Pernah juga nih, kami yang hanya penari ini dimintain nomor HP sama bapak-bapak tidak dikenal, katanya buat dikenalin ke anaknya siapa tau bisa jadi menantu. Dan bukan cuma si Bapak ini, temen-temennya juga nggak kalah antusias ngobrol dengan kami, apalagi setelah mereka tau kalau kita mahasiswa ITB. Saya gak ada maksud buat pamer. Tapi, memang inilah yang saya rasakan. Ketika saya membawa-bawa status saya sebagai mahasiswa ITB, orang-orang seolah-olah punya pandangan yang lebih baik tentang saya.

Yang saya ceritakan di atas hanya sekian contoh dari perlakuan verbal yang kami alami. Tapi, seringkali pandangan mata lebih banyak bercerita daripada ucapan lidah bibir, bukan? Jadi yaa… Yang non-verbal nggak bisa juga saya lukiskan dengan kata-kata. Sepertinya memang cukup kami saja yang merasakan.

Saya bingung. Mengapa untuk dihargai, seorang perempuan harus terlebih dahulu menggembar-gemborkan status dan latar belakangnya? Dan mengapa status saya sebagai mahasiswa ITB seakan-akan membuat derajat saya lebih tinggi ketimbang ketika saya “hanya” seorang penari di sebuah pernikahan?

 

 

Penulis

Aya, sudah lulus dari ITB dan sedang berada dalam fase mencari tujuan hidup. Ia seorang family-centric yang sangat ingin berdampak di bidang lingkungan dan terlibat dalam kegiatan mencerdaskan anak bangsa. Hobi Aya saat ini adalah karaokean di kamar sambil berbaring main Solitaire Classic.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s