Aku perempuan dan pendidikan adalah prioritasku

Dari kecil saya suka belajar. Gak tau kenapa tapi sejak kecil saya menganggap belajar itu menyenangkan. Jarang banget orang tua saya memaksa saya untuk belajar. Kebiasaan saya dan adik adalah masuk ke kamar masing-masing setiap jam 6 sore dan belajar semampunya.

Semakin besar, saya semakin suka belajar. Ada saja yang ingin saya pelajari. Menurut saya banyak sekali hal-hal menarik di dunia ini, dan kalau bisa saya ingin mencicipi semua yang menarik bagi saya. Rakus ya? Tapi karena ini lah saya selalu semangat dan gak pernah bosan dengan yang namanya hidup.

Bagi saya pendidikan itu penting dan kayaknya saya bukan satu-satunya. Semua orang ingin anaknya sekolah dengan baik. Lihat saja di sekeliling anda, zaman sekarang anak-anak pelajarannya jauh lebih advanced ketimbang dari zaman saya dulu. Misalnya, banyak anak kecil yang sudah lancar bahasa Inggrisnya, padahal usianya masih batita. Hebat sekali.

Di Indonesia, saking pentingnya pendidikan semua orang berlomba-lomba ingin anaknya cepat pintar. Semua orang ingin anaknya masuk ke sekolah favorit, hal ini biasanya berlangsung sejak TK hingga S1. Selain itu, anak-anak juga diharapkan mendapatkan nilai yang baik di sekolah. Saya ingat betul betapa sengit persaingan di antara anak-anak di kelas saya untuk mendapatkan ranking 1. Kalau mendapatkan ranking yang bagus, pasti banyak yang memuji. Yaaa sebagai anak kecil, siapa yang gak suka dipuji.

Saat saya kuliah S1 pun, ketika IPK saya bagus, orang-orang ikut bangga dengan prestasi saya. Saya diharapkan bisa sukses dan bisa bekerja di perusahaan yang bagus. Selesai kuliah S1, saya pun langsung bekerja sebagai programmer di suatu perusahaan di Jakarta. Namun, sebenarnya hati kecil saya ingin sekali kembali ke dunia pendidikan, saya ingin banget melanjutkan pendidikan saya ke jenjang berikutnya.

Suatu saat saya mendapatkan beasiswa S2 ke Eropa.

Tentunya saya sangat senang. Akhirnya setelah begitu lama mencoba mendapatkan beasiswa, akhirnya saya berhasil. Orang tua, adik dan beberapa teman saya menyelamati saya, bersukacita atas keberhasilan yang saya raih.

Namun, ada beberapa orang yang mempertanyakan keberhasilan saya dan memberikan “nasihat”.

“Wah S2? Jangan lupa cari pacar lho, inget umur!”
“S2? Habis itu mau lanjut S3 gak? Wahhh lu jangan tinggi-tinggi deh belajarnya, entar gak ada cowok yang mau sama lu”
“Inget ya kamu tambah tua, butuh pasangan hidup juga”

Saya bahkan ingat ada salah satu bos saya yang khusus mendatangi saya. Saya kira dia akan memberi selamat ternyata dia malah memberi masukan bahwa sebaiknya saya tidak “sekolah terus” karena mengingat umur saya (yang saat itu 24 tahun) yang seharusnya sudah mulai mencari pasangan hidup.

Bayangin saja, saya yang waktu itu sedang sumringah, senang karena mendapatkan sesuatu yang sudah lama saya inginkan, tiba-tiba dihantam dengan perkataan-perkataan seperti itu. Teman-teman yang memberi “nasihat” itu pun juga bukan teman-teman yang tidak saya kenal, mereka adalah teman-teman yang lumayan dekat dengan saya, yang setiap hari bertemu dan telah mengenal saya sejak saya mulai bekerja di tempat ini.

Ya tentu saya tersinggung dan dalam hati, saya marah. Kenapa ketika saya mendapatkan hal yang baik ini, teman-teman saya ini malah seakan-akan membuat saya merasa bersalah. Seakan-akan saya ini egois luar biasa karena ingin sekolah ke luar negeri. Seakan-akan saya ini egois terhadap diri saya sendiri yang tidak mau memikirkan “masa depan” saya sebagai seorang perempuan yang sudah seharusnya mulai membangun keluarga. Terlebih lagi, saya marah karena mengapa mereka menganggap bahwa hidup saya tidak lengkap tanpa adanya seorang laki-laki di samping saya. Kenapa hal itu lebih penting dari semuanya?

Anehnya, ketika seorang laki-laki mendapatkan prestasi yang sama dengan saya (beasiswa untuk kuliah), semua orang langsung memberi selamat dan memuji kepintarannya. Tidak ada yang bilang, “Wahhh lu jangan tinggi-tinggi deh belajarnya, entar gak ada cewek yang mau sama lu”.

Saya tidak berharap dipuji-puji karena mendapatkan beasiswa. Tidak. Saya hanya ingin orang menghargai keputusan saya. Jika saya ingin sekolah lagi, itu keputusan yang sudah saya pikirkan matang-matang dan saya ingin keputusan itu dihargai. Masalah pasangan hidup dan umur saya, itu adalah urusan pribadi saya. Lucu sekali menurut saya, komentar dari teman-teman saya itu sama saja mengatakan bahwa perempuan hanya memiliki satu pilihan hidup yang sama.

Well, here is a shocking news to you all: Gak semua perempuan itu sama. (Yeah! Shocking!). Ada yang memang sudah ingin menikah sejak muda, ada yang ingin punya anak, ada yang tidak ingin punya anak, ada yang ingin menjadi ibu rumah tangga, ada yang ingin hidup sendiri secara mandiri, ada yang ingin berkarir, ada yang ingin sekolah setinggi-tingginya. Kita bebas memilih untuk melakukan apa saja yang kita inginkan!

Saya harus mengutip kata-kata Chimamanda Ngozi Adichie dalam bukunya We Should All Be Feminists:

We say to girls, ‘You can have ambition, but not too much. You should aim to be successful, but not too successful, otherwise you will threaten the man. If you are a breadwinner in your relationship with a man, pretend that you are not, especially in public, otherwise you will emasculate him.

Terjemahan bebas (editor) — “Kita selalu bilang pada anak-anak perempuan: “Kamu boleh punya ambisi, tapi jangan berlebihan ya. Kamu boleh bercita-cita jadi orang sukses, tapi jangan terlalu sukses, karena nanti kamu bakal membuat pria-pria merasa terancam. Kalau kamu adalah pencari nafkah utama dalam hubungan kamu dengan seorang pria, kamu harus menyembunyikan hal itu, terutama kalau di depan umum. Kalau tidak, dia bakal terlihat lemah dan terluka harga dirinya.”

Itu kan yang diajarkan ke perempuan sejak kecil? “Kamu boleh sukses, tapi jangan terlalu sukses ya, nanti susah cari suami”.

Aneh sekali bagi saya ketika melihat anak-anak, terutama anak perempuan, yang diharuskan belajar dengan giat sejak kecil, yang selalu diharapkan untuk mendapatkan nilai bagus (dan terkadang jika nilainya jelek akan dimarahi oleh orang tuanya), namun ketika sampai ke umur tertentu perempuan justru “disarankan” untuk tidak terlalu sukses, untuk tidak terlalu pintar, untuk tidak mengejar pendidikan setinggi-tingginya.

Ini tahun 2017 dan masih saja saya mendengarkan komentar-komentar tersebut dilontarkan kepada perempuan-perempuan yang berprestasi. Terus terang saya bosan dan lelah mendengarkannya. Jelas ada yang salah, sudah saatnya kita mulai upgrade cara pandang kita dan mulai menghargai pilihan yang dibuat oleh perempuan-perempuan di sekitar kita. Apapun pilihan itu, OK?

 

Penulis

Aggy adalah perempuan asal Jogja yang gak bisa diam. Suka baca buku, jalan-jalan dan membuat pouch. Ocehan hariannya bisa ditemukan di https://myburumpi.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s