Aku perempuan dan aku menerima diriku apa adanya

Hai, nama saya Yunik. Saya ini kebetulan bekerja di suatu lembaga pengawasan lembaga keuangan, dan kebetulan juga pekerjaan utama saya adalah menangani perizinan kelembagaan bank umum yang berada di wilayah kerja kantor saya, tidak lain dan tidak bukan pastinya di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Saya sering menerima penilaian-penilaian aneh soal fisik saya dari orang-orang baru yang saya temui. Padahal, saya punya fisik yang sama lah kayak rata-rata perempuan pada umumnya. Tapi yang jadi masalahnya, saya tuh ga punya potensi gemuk. Udah coba makan ini itu dan minum ini itu biar bisa nambah berat badan, hasilnya nihil, meskipun saya sehat dan ga sakit-sakitan. Alhasil, saya memiliki ukuran tubuh yang mungil, tinggi semampai (semeter ga sampai), udah gitu kurus kecil gitu. Ga heran kalo teman-teman dari SD sampai sekarang masih bisa ngenalin, karena kayaknya ga ada perubahan drastis dari diri saya bahkan ketika sudah jadi mba-mba kantoran (baca: ga cocok jadi orang kantoran).

Ada beberapa kali kasus di mana saya harus berkomunikasi dengan stakeholders, dan waktu saya nongol, mereka kayak ga percaya gitu kalo saya adalah perwakilan kantor yang bakal melakukan pertemuan dengan mereka. Sedih yaa…T_T

Termasuk kejadian yang saya ingat banget sampai sekarang. Singkat cerita, suatu ketika saya harus membantu seorang stakeholder. Dalam setiap percakapan kami, dia selalu memanggil saya “ibu” seperti standar orang kantoran pada umumnya. Nah, suatu hari dia mampir ke Kupang dan ingin bertemu saya untuk silaturahmi. Sekitar pukul 11, saya pun turun ke lobi untuk menemui Bapak ini, yang sudah menunggu bersama koleganya. Karena saya ga yakin itu Bapak yang nelpon saya, mending saya nanya ke mba resepsionis,

Saya: “Tamunya yang mana mba?”
Resepsionis: (jalan ke arah Bapak berdua yang kayaknya pura-pura ngobrol dan ga liat pergerakan kita) “Permisi Pak, ini Ibu yang ingin Bapak temui..”
Saya: “Oh, hai, selamat siang Pak, saya Yunik, ini Bapak yang di telepon ya?”
Stakeholder (S): (kaget, lalu menjabat tangan saya) “Ini Ibu yang di telepon? Yang benar saja?” (sambil tertawa ramah)
Saya: (sambil tertawa ringan) “Wah Pak, Bapak ini orang ke sekian yang nanya pertanyaan kayak tadi lho.”
S: “Habisnya di telepon itu saya bayanginnya Bu Yunik sosoknya tinggi, besar, ya kayak ibu-ibu gitu. Jadi saya agak segan dan agak berhati-hati bicara di telepon. Ternyata aslinya mungil dan masih imut begini. (sambil tertawa)
Saya: (ikutan ketawa) Iya pak ini saya, belum Ibu kok. (lalu mencoba bayangin sosok ibu-ibu yang ada di benak bapak itu)

Baiklah, penggalan kisah tadi setidaknya menggambarkan betapa perihnya hati ini menghadapi komentar-komentar pedas bak sambal Bu Rudy khas Surabaya… (Ga sih, ini lebay). Ga pedas sih komentarnya, tapi langsung nyerang ke fisik. Sebagai perempuan itu rasanya… Temen-temen bisa simpulin sendiri lah ya..

Kalau kita lihat di media, perempuan yang ideal itu sering digambarkan sebagai yang punya bentuk tubuh bak gitar Spanyol, atau tinggi bagai Victoria Secret’s Angels. Semuanya putih, bersih, tak bernoda, bagai bintang iklan body lotion yang sering nongol di TV. Tapi, kok kayanya ga realistis ya kalau standar seperti itu diterapkan ke kehidupan nyata?

Awal-awal sering dapet komentar tentang fisik saya pastinya bikin down ya. Terkadang komentar yang sifatnya bercandaan malah agak bikin mood ga enak dan ujung-ujungnya baper. Kok saya ga kayak si A atau si B atau si C, tinggi, badannya bagus, pakai baju apa aja cocok. Sementara saya, malah sering dibilang “anak SMP.” Alhasil, jadi ga percaya diri di dunia kerjaan, misalnya pas harus ketemu sama stakeholder apalagi buat ngomongin urusan yang serius. Rasanya kayak anak-anak mau ketemu kepala sekolah gitu jadinya. Jadi malah kebalik, harusnya saya yang lebih dominan dari stakeholder hihihi.. Dan hal itu terjadi hanya karena saya punya fisik mungil yang katanya kayak anak SMP. Pikir saya, “Apa iya orang mau dengar yang saya katakan? Apa iya orang mau ngelakuin instruksi saya?”

Sampai suatu hari saya ga sengaja membaca suatu artikel yang intinya mengasihani diri dan merendah diri itu ga sehat banget, cobalah menerima diri apa adanya. Dari situ saya nyadar,

The problem is from the inside, not from the outside. What’s happening outside won’t affect the inside if the inside doesn’t let it.

Intinya komentar orang tentang kita itu mah hak mereka, tapi respon kita terhadap komentar itulah yang menentukan. Kalau dulu dibilang anak SMP biasanya jadi down, tapi kalau sekarang responnya beda. Ga apa-apa dibilang anak SMP, berarti saya forever young dong. Dimulai dari hal-hal kecil seperti itu. Jadi mulai saat itu, saya mulai menghargai dan mengangkat derajat saya sendiri, ga ada lagi rasa rendah diri dan sedih sama ukuran tubuh yang mungil kayak anak SMP ini.

Mungkin ada teman-teman yang mungkin merasa senasib sepenanggungan dengan saya, atau mungkin pernah mengalami hal yang sama, mungkin ceritanya mirip, atau agak-agak nyerempet dikit. Buat teman-teman yang sering ga pede dengan bentuk tubuh sendiri, jangan berkecil hati. Kita ini perempuan, mau kurus, kecil, gendut, besar, tinggi, pendek, semuanya bakal disebut cantik kok. Intinya bentuk fisik bukan hal besar yang harus diributin. Kalau kita bisa nunjukin potensi kita dan buktiin kalo kita mampu, penampakan dan wujud kita hanya jadi hal kedua yang bakal orang lain lihat.

Semoga kisah saya tadi bisa ngasih sesuatu lah ya buat teman-teman yang udah baca.. ga enak hati kan, udah baca panjang-panjang malah hasilnya kentang ^^ Akhir kata, kalo D’masiv bilang “Jangan Menyerah!”, saya bilang “Jangan Merendah!”

Salam ceria selalu.

 

 

Penulis

Nama saya Yunik. Sejak SD hingga SMA, saya bersekolah di Kupang, kemudian menempuh jenjang perguruan tinggi di Kampus Jaket Kuning Depok, dan akhirnya kembali ke kampung halaman saya untuk bekerja hingga sekarang. (Ini mau nulis CV untuk ngelamar kerjaan apa mau nulis blog sih? Hahaha…) Saya yang sering dikira anak SMP padahal sih emang forever young aja ini punya cita-cita mengunjungi Liverpool.

 

One Reply to “Aku perempuan dan aku menerima diriku apa adanya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s