Aku perempuan, Batak, tapi berperasaan halus

“Baper”. Saya sebel banget sama kata yang merupakan singkatan dari “Bawa Perasaan” ini. Menurut saya, 2 kata ini cenderung menunjuk ke arah negatif. Nangis dikit, dibilang baper. Marah dikit, dibilang baper. Tersinggung dikit dbilang baper. Dikit-dikit baper, baper, baper, serius saya muak sama kata BA-PER.

carla

Ini hasil tes kepribadian saya dari sebuah situs di Internet. Well, dari hasil tes kelihatan kalau saya tipe orang yang sensitif dan ekspresif. Emang yang namanya sensitif itu pasti bawa-bawa perasaan, tapi seperti yang saya bilang barusan, kata baper itu lebih terdengar ke arah yang negatif. Entah dari mana dan sejak kapan kata baper-baper itu muncul ke permukaan. Saya lebih seneng kalau saya dibilang “punya perasaan yang sensitif” (tentunya bukan dengan nada yang mengejek), daripada saya dibilang “baper-an”. Atau lebih seneng dibilang sensitif, daripada dibilang sensi (well, sensi emang singkatan dari sensitif. Tapi kata “sensi” pun terdengar menyebalkan buat saya). Hahahahaha, tolong dimaklumin kalau nantinya kalian menemukan banyak hal-hal yang menyebalkan buat saya, karena saya ini orang yang sangat sensitif :p

Saya terlahir di keluarga Batak. Semua orang tahunya kalo suku Batak itu termasuk suku yang keras. Sebenarnya, saya berasa punya krisis identitas. Kedua orangtua berasal dari Tanah Batak, tapi saya punya tampang kayak peranakan Cina-Jepang. Dan tahu apa yang paling kontras? Karena saya Batak, tapi punya perasaan yang sensitif dan halus banget, sering gampang menangis karena hal kecil sekalipun. Beneran beda banget sama pandangan orang-orang tentang suku Batak…Tapi ya pada kenyataannya, saya punya marga di belakang nama saya. Ironis memang…

Tapi ya balik lagi, terlepas dari suku sekeras apapun kita, kalau masalah hati dan perasaan, itu nggak ada sangkut pautnya. Semua orang terlahir dengan karakter yang berbeda. Yang mau saya bahas tentang kali ini adalah gimana perempuan-perempuan yang dari lahir perasaannya itu udah lembut banget (contohnya saya, karena ini dari sudut pandang saya sebagai perempuan yang kelewat sensitif), gampang terharu, gampang tersakiti oleh kata-kata yang untuk orang lain mungkin simpel, lebih suka mikirin apa-apa pakai perasaan, empati, dan nggak jarang suka lupa bawa logika. Emang sih nggak cuman perempuan aja yang punya natur bertingkah laku berdasarkan feeling atau perasaan, laki-laki juga ada kok. Saya kenal beberapa laki-laki yang juga punya perasaan halus. Cuma kebanyakan mereka gak nunjukin aja kalau mereka emang tipe sensitif dan mereka bisa lebih pintar untuk menyembunyikannya.

Jujur kalau bisa milih, saya mau kadar rasional dan emosional saya imbang, cuma saya juga nggak bisa berbuat apa-apa ketika keadaan sekitar saya dari dulu berhasil membentuk saya menjadi pribadi yang kelewat sensitif. Saya mencoba untuk mengontrol emosi saya, tapi seperti yang kita tau, mengubah natur yang udah melekat di darah daging itu butuh waktu yang nggak singkat, dan nggak gampang. Dan saya yakin, nggak cuman saya, tapi perempuan-perempuan di luar sana yang punya perasaan kelewat sensitif seperti saya, berusaha untuk melawan kadar kesensitifan kami hari lepas hari.

Well, bukannya bermaksud membela diri atau menyalahkan mereka-mereka yang logika dan rasionalnya mungkin lebih jalan daripada perasaan. Tapi tolonglah mengerti bahwa untuk orang-orang yang memiliki perasaan terlewat halus dan sensitif, kami (saya dan perempuan-perempuan seperti saya) butuh dukungan kalian untuk menerima kami dalam lingkungan kalian. Kami juga menghargai masukan dari kalian, agar kami bisa lebih bijaksana dengan perasaan halus dan sensitif kami. Dan hal-hal ini bisa membangun kami, dibandingkan dengan cemoohan atau kata-kata kalian tentang kami yang “baper” atau “sensi”, ketika kami menunjukkan emosi kami dengan menangis ataupun dengan cara lain. Karena itu malah menjatuhkan kami…

Tapi percayalah, di balik perasaan halus ini, kamipun juga perempuan yang kuat, tegar, dan tahan banting. Kami memiliki cara tersendiri dalam menggunakan kekuatan, ketegaran dan ke-tahan-banting-an kami. Kami perlu waktu sedikit lebih banyak dalam menghadapi situasi sulit, dibandingkan dengan kalian kaum rasional. Memang awalnya kami akan menangis, bingung, tersinggung, akan hal-hal yang terlihat biasa saja bagi kalian, tetapi berat bagi kami. Tapi kami juga bisa menghadapi situasi tersulit sekalipun, meski dengan perasaan yang terlihat sangat “fragile“…

Dan bisa saja pada kenyataannya, ternyata kami yang memiliki perasaan halus ini, jauh lebih “strong” dibandingkan kalian yang menyebut kami si “BAPER”.

 

Penulis

Carls, perempuan batak tulen kelahiran jakarta, yang punya hati kelewat sensitif. Kabur merantau ke Jerman setelah lulus SMA, dan sedang menunggu jadwal thesis-defence, ketika tulisan ini di tulis, sembari mencari-cari pekerjaan di Indonesia dan di Jerman dalam bidang Biotechnology (mungkin ada yang punya kenalan? :p)

2 Replies to “Aku perempuan, Batak, tapi berperasaan halus”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s