Menyanjung Semua Tanpa Menjatuhkan Yang Sudah Disanjung

Saya mau pengakuan dosa.

Pos yang akan kamiperempoean publish di hari Senin selepas hari Kartini hampir saja berisi yet-another-rant tentang bagaimana seharusnya Kartini tidak dijadikan wajah dari perempuan Indonesia secara keseluruhan dan bagaimana masih banyak wanita-wanita lain yang berkontribusi banyak terhadap perjuangan pada umumnya. Saya sudah mulai menyiapkan draft berapi-api tentang bagaimana Martha Christina Tiahahu (pahlawan pribadi saya),Maria Walanda Maramis, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Dewi Sartika, dan masih banyak perempuan lain lagi, seharusnya ikut disanjung. Saya sudah menyiapkan sebuah pos unek-unek tentang bagaimana Kartini adalah seorang perempuan yang pada waktu itu cukup memiliki privilege dan bagaimana pada akhirnya Kartini sebenarnya tidak banyak berbuat apa-apa walaupun surat-suratnyan menjadi inspirasi bagi seorang Belanda untuk membangun sekolah atas namanya.

Saya mau pengakuan dosa lagi: saya tidak pernah membaca surat-surat Kartini secara utuh.

Sejak kecil, ketika hari Kartini saya selalu dipaksa mengenakan baju daerah dengan sarung yang membuat jalan terseok-seok, kebaya yang membuat kepanasan waktu upacara, dan make up yang membuat makan susah. Ternyata, teman-teman, tanpa saya sadari, saya menginternalisasikan hari Kartini sebagai hari saya harus menjadi seorang perempuan yang mengikuti cetakan tertentu. Tidak apa-apa berpendidikan, tapi jangan lupa kodrat ya! Saya yang versi kanak-kanak tentunya tidak bisa membedakan bahwa hari Kartini sebenarnya belum tentu relevan dengan ide-ide Kartini yang sesungguhnya. Tidak terlintas di pikiran bocah ingusan itu kalau tanggal 21 April itu sebenarnya adalah yet-another-propaganda yang digunakan sistem yang ada untuk mengekang perempuan. Tidak terlintas di pikiran bocah itu kalau itu bukan salah Kartini, tetapi salah orang-orang yang menggunakan nama Kartini untuk kepentingan mereka.

Tidak terlintas di pikiran saya kalau saya yang sudah dewasa ini, yang sudah lebih banyak tahu dan sudah lebih banyak belajar, barangkali masih menyimpan beberapa keluguan dan bias dari masa kecil saya. Tidak sampai saya membaca beberapa artikel luar biasa yang ditulis orang-orang luar biasa di tanggal 21 April lalu.

Tulisan ini yang dipublikasikan pada tahun 2014 membuka mata saya bahwa barangkali selama ini saya sudah salah menginterpretasikan ide Kartini karena saya tidak pernah membaca tulisan beliau secara utuh. Tanpa saya sadari, saya berlaku seperti orang-orang yang sering membuat saya naik darah karena mereka main comot kutipan-kutipan baik dari buku maupun dari pernyataan orang lain tanpa mempedulikan konteks secara keseluruhan. Memang, ada beberapa kutipan dari tulisan Kartini yang saya kurang setuju atau saya anggap kurang relevan dengan pemikiran modern. Tetapi saya lupa kalau pada masanya dan kedudukannya saat itu, Kartini merupakan seorang pemikir wanita yang sangat progresif. Lagipula, saya tidak perlu setuju dengan semua pemikiran Kartini untuk menganggap bahwa beliau adalah pemikir yang luar biasa. Saya dan beliau bukan Tuhan, pemikiran kami sama-sama tidak sempurna. Bisa saja saya benar dan beliau salah, atau sangat mungkin juga sebaliknya.

Lagipula, apakah seseorang hanya dinilai dari apa yang dia sendiri lakukan? Apakah seseorang hanya memiliki harga ketika dia sudah memegang senjata dan maju ke medan perang seperti Cut Nyak Dhien? Apakah seseorang hanya memiliki harga ketika dia membangun sekolah dengan uang simpanannya sendiri seperti Dewi Sartika? Di keluarga saya, saya anak yang paling tua di antara adik-adik saya dan sepupu-sepupu saya. Saya rasa mereka sudah muak dengan orang tua masing-masing yang sering menasihati mereka, diawali kalimat “Lihat itu Kakak Bibay”. Beberapa waktu yang lalu, saya bilang ke mereka, “Jalan yang kakak tempuh bukan satu-satunya jalan yang benar. Setiap orang punya jalan dan porsinya masing-masing.” Perhaps I should practice what I preach. Kartini mungkin tidak menjinjing senapan dan tidak mendirikan sekolah dengan tangannya sendiri, tetapi buah pikirannya menginspirasi orang lain untuk mengubah sesuatu. Mungkin memang itulah porsi Kartini.

That being said, saya tetap berpendapat bahwa Kartini seharusnya tidak menjadi wajah wanita Indonesia secara keseluruhan. Martha Christina Tiahahu, Maria Walanda Maramis, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Dewi Sartika, dan wanita-wanita lain seharusnya juga ikut ditinggikan dan tidak dilupakan begitu saja. Tetapi, meninggikan semua wanita-wanita ini bukan berarti kita menjatuhkan seseorang yang sudah ditinggikan. Seperti yang artikel ini bilang:

So here is my conclusion: I do agree that Kartini isn’t the only feminist icon out there and that there are others who have done more things than she did. But bashing a dead woman who didn’t have much to say on how her work is being appropriated by parties with selfish interests, that’s not helping anyone. The answer to this is to re-examine Kartini’s original work and look at it from her lens, as how she intended them, and not how we were told to by our educators and government.

Dalam proses meninggikan perempuan-perempuan lain, kita seharusnya juga berusaha mengkaji ulang pemikiran-pemikiran Kartini yang telah disalahgunakan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Jangan sampai generasi selanjutnya juga berpikir kalau “Kartini” identik dengan kebaya dan lomba memasak, dan bukannya kebebasan berpikir dan kesetaraan gender.

Penulis

Bibay sedang dalam proses pendewasaan diri, yang diawali dengan berani mengaku salah ketika memang salah. Bibay gak punya masalah dengan kebaya, tapi punya masalah dengan upacara bendera pakai kebaya di bawah terik sinar matahari Jakarta.

6 Replies to “Menyanjung Semua Tanpa Menjatuhkan Yang Sudah Disanjung”

  1. Saya juga sempat agak kecewa dengan glorifikasi Kartini yang sepertinya berlebihan (mungkin terpengaruh dengan opini senada yang banyak beredar di media sosial sejak bbrp tahun lalu), tapi setelah membaca The Letters of A Javanese Princess saya berpikir: ebuset ini perempuan muda bergelora dan cerdasbanget. Dia yang hidup di abad yang lalu bisa merangkai kata sedemikian rupa sampai bikin ternganga-nganga, saya salut, bangga dan juga mau banget kalau bisa seperti dia. ❤️

    Suka

    1. Iya, saya sendiri baru instropeksi diri kalau sebenarnya hal-hal yang saya tahu dari Kartini itu ya kata orang aja. Padahal, kalau dipikir-pikir perempuan jaman itu bisa nulis surat yang seelaborate itu sampai menggugah hati banyak orang dan menginspirasi itu luar biasa banget.

      Btw, saya baru sadar kalau surat-surat Kartini diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan ternyata ada di Project Gutenberg! Kemarin pas mau nyiapin tulisan hari Kartini pusing sendiri karena gak nemu terjemahan bahasa Indonesianya. Terima kasih sudah mention The Letters of A Javanese Princess. Jadi punya PR bacaan baru! 😀

      Suka

  2. saya pernah dilempar ember sama mama saya waktu mencibir “halah, mung pamer kebaya dan konde doang” pas dia sibuk nyiapin (dan bingung mau pake) baju apa untuk Kartinian di kantor kecamatan. :))

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s