Aku perempuan, aku juga seorang ibu bekerja

Menjadi perempuan kadang kala tidak mudah. Pertanyaan jaman masih singleKapan nikah?” lebih sering ditujukan kepada para perempuan. Karena perempuan semakin berumur dan belum menikah sepertinya terlihat lebih negatif dibandingkan dengan laki-laki yang semakin berumur malah dianggap semakin matang. Setelah menikah pun akan berlanjut dengan pertanyaan selanjutnya “Kapan punya anak?” dan seterusnya. Dilema menjadi perempuan tidak berhenti di situ saja.

Buat saya sebagai seorang Muslim, menikah dan mempunyai anak adalah kodrat seorang perempuan. Hanya saja kedua hal tersebut tidak bisa disamakan pada usia berapa akan terjadi pada satu perempuan dengan perempuan lainnya. Singkat cerita saya memutuskan untuk menikah di usia 27 tahun. Dan di usia tersebut pula alhamdulillah saya langsung dikaruniai seorang anak laki-laki. Mempunyai anak secepat itu setelah menikah sebenarnya belum ada pada rencana hidup saya saat itu. Namun mau tidak mau saya harus segera mempersiapkan segala sesuatunya dari awal kehamilan saya, karena saya akan menjadi seorang ibu bekerja.

Menjadi ibu bekerja adalah pilihan. Dan ini memang pilihan saya semenjak awal saya bekerja. Salah satu alasan saya bekerja adalah sebagai ladang mengamalkan ilmu saya. Alasan kedua adalah kedua orangtua saya. Saya ingin membahagiakan mereka dengan cara saya. Maka lengkaplah hidup saya ketika saya dikaruniai pasangan hidup yang mendukung saya untuk bekerja 🙂

“Kalau kamu kerja, anakmu sama siapa di rumah?”

Iya ini pertanyaan utama. Nanti kalau dijawab “Sama orangtua,” terus bakal ada yang ‘ngatain’ saya anak kurang ajar karena nitipin anak saya di saat orangtua harusnya menikmati masa tua mereka. Padahal orangtuanya sendiri yang menawarkan diri untuk mengasuh cucunya (Nah loh!) Terus kalau dijawab “Sama pengasuh/ baby sitter,” terus bakal dibilang kalau saya tega banget nitipin anaknya ke orang asing. Padahal ketika si ibu mendapatkan baby sitter yang sangat terlatih mengurus bayi, bahkan si ibu banyak belajar dari si baby sitter ini. Kemudian kalau dijawab “Di daycare/ tempat penitipan anak”, terus bakal dibilang “kasihan anak masih bayi kok udah dititipin.” Padahal di daycare jadwal makan-minum-tidur si anak terkontrol dengan baik, perkembangan motoriknya diasah, dan anak jadi belajar sosialisasi sejak dini. Dan dari sekian opsi ini, anak saya sejak umur 7 bulan sampai sekarang berumur 11 bulan, saya percayakan pada daycare dekat rumah selama saya bekerja.

“Mau jadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi.”

Pernah dengar quote yang katanya berasal dari seorang artis cantik-yang-nggak-pernah-terlihat-bertambah-tua (baca: pemeran tokoh Cinta di film AADC) ini? Banyak sekali yang suka dengan kutipan ini. Tapi tunggu dulu, pernahkah kalian berpikir apakah semua orangtua kita berpendidikan tinggi? Apakah nenek kita juga berpendidikan tinggi? Saya pribadi kurang setuju dengan quote ini. Banyak tokoh hebat terlahir dari rahim seorang ibu yang bahkan tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Karena sesungguhnya pendidikan tidak hanya didapatkan dari segi akademik saja, attitude juga tidak kalah penting untuk diajarkan agar membentuk karakter seseorang.

“Kalau waktunya lebih banyak di kantor, gimana caranya anak bisa dekat dengan ibunya?”

Saya akan menjawab dengan nasihat mama saya waktu saya sedang galau akan kembali bekerja setelah 6 bulan cuti pasca-melahirkan “Yang terpenting itu kualitasnya, Mbak, bukan kuantitasnya.” Ini makjleb banget. Padahal mama saya adalah seorang ibu rumah tangga hingga saya SMP, sebelum beliau memutuskan untuk menjadi seorang dosen. Iya, saya selalu memanfaatkan waktu bersama anak saya sebaik mungkin. Justru dengan tidak adanya pengasuh di rumah, saya dan suami memiliki keterikatan yang lebih dengan anak karena semuanya kami lakukan bersama 🙂

“Jadi ibu rumah tangga itu lebih susah, lebih enak jadi ibu bekerja!”

Kebetulan saya mendapatkan cuti pasca-melahirkan selama 6 bulan. Karena saya melahirkan secara caesar dan mendadak, maka selama 6 bulan penuh saya merasakan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Dua bulan pertama saya dan suami mengasuh anak sendiri tanpa bantuan orangtua maupun mertua. Saya tahu bagaimana repotnya mengasuh anak pertama, memandikan, mengganti popok tiap beberapa jam, dan banyak kerepotan lainnya dengan bekal pengetahuan seadanya. Mendapatkan waktu untuk mandi, memasak, dan makan adalah keberuntungan. Belum lagi jam tidur yang berantakan karena harus begadang tiap malam. Sempat merasakan sedikit yang namanya baby blues juga. Iya, saya merasakan menjadi ibu rumah tangga sangat repot. Tapi bukan berarti menjadi ibu bekerja juga lebih enak. Pagi hari sebelum subuh saya sudah bangun untuk memasak bubur atau nasi tim untuk makanan anak saya seharian. Sambil menunggu matang, saya memompa ASI. Sampai di kantor saya juga memompa ASI, dilanjutkan siang saat makan siang dan sore sebelum pulang. Sampai di rumah setelah menidurkan anak saya, saya meracik bahan makanan untuk dimasak keesokan harinya. Baru saya bisa benar-benar istirahat. Tapi semua jadwal tersebut tidak akan berjalan dan akan berantakan jika anak atau ayahnya sakit. Ibunya malah tidak boleh sakit sama sekali.

Jadi, tolonglah berhenti menghakimi ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Keduanya merupakan profesi mulia. Sama-sama pernah merasakan mengandung dan berjuang mempertaruhkan nyawa. Semuanya adalah masalah pilihan, bukan soal prioritas. Masih banyak perempuan di luar sana yang tidak memiliki pilihan karena diharuskan bekerja karena keadaan. Berbahagialah, wahai para ibu. Status mulia kalian kelak akan membuka lebar jalan menuju ke surga-Nya, apapun profesinya.

 

 

Penulis

Ririz, editor blog Kami Perempoean, adalah seorang Structure Engineer di sebuah perusahaan Engineering, Procurement, Construction terkemuka di selatan Jakarta. Menjadi seorang ibu baru bagi anak laki-lakinya merupakan petualangan menakjubkan dalam hidupnya. Di rumah dia suka bereksperimen membuat aneka jenis masakan, saat ini jenis masakan yang sering dieksperimen adalah makanan pendamping ASI, terinspirasi dari mamah-mamah muda di Instagram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s