Aku perempuan, dan (seharusnya) aku tidak (perlu) takut

Aku lupa di mana aku pernah membaca daftar hal-hal yang tidak akan pernah dimengerti oleh laki-laki tapi merupakan hal yang selalu dilakukan perempuan, seperti misalnya: ketakutan berjalan pulang sendiri, apalagi di malam hari; selalu waspada terhadap suara derap kaki di belakang kita; selalu memantau keadaan sekitar untuk melihat apakah ada orang lain yang bisa mendengar teriakan kita, atau tempat umum tempat kita bisa melarikan diri; perlunya mengabari teman bahwa kita sudah sampai di rumah. Dengan selamat.

Akhir 2012. Aku sudah hampir setahun tinggal di Jenewa, Swiss, sendirian di sebuah apartemen di pinggir kota. Deretan hal di atas merupakan hal yang otomatis kulakukan setiap hari, ditambah pula dengan berganti-ganti rute supaya tidak bisa dihadang orang. Tidak ekstrim, tidak paranoid, hanya berhati-hati. Toh Jenewa merupakan kota yang aman, dan aku santai saja sekalipun harus pulang malam, terkadang melewati taman yang gelap supaya tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk sampai di rumah.

Suatu malam, aku berada di bis dalam perjalanan ke Gereja untuk latihan Paduan Suara. Hal yang kulakukan setiap minggu. Cara termudah dan tercepat untuk sampai ke Gereja tempat latihan tersebut adalah turun di sebuah halte di atas bukit yang sepi, lalu berjalan melewati deretan pertokoan kota tua yang gelap. Terkadang, aku merasa khawatir dengan jalur ini, dan akan memilih jalur lain yang membuatku harus berjalan menanjak cukup jauh, tapi paling tidak aku akan berada di tengah keramaian kota. Hari itu, aku terlalu lelah untuk berjalan menanjak, lagipula aku sudah hampir terlambat.

Aku pun tetap duduk selagi bis berhenti di tengah kota dan sekian banyak orang turun, meninggalkan bis yang relatif kosong. Beberapa orang duduk di belakangku, dan seorang laki-laki berdiri di depan pintu, tepat pada garis pandang mataku. Dia cukup tampan, dengan gaya yang mengingatkanku pada James Dean di film Rebel Without a Cause (aku belum pernah menonton film lawas itu, tapi aku mengenal posternya).

Pandangan mata kami bertemu, dan detik itu juga aku diliputi kekhawatiran. Aku mengalihkan pandangan dan berusaha menenangkan hati. Rasanya aku mengenal pandangan mata itu, tapi mungkin hanya perasaanku saja.

Bis berhenti dan aku cepat-cepat turun. Laki-laki itu melihatku dan ikut turun juga. Tidak apa-apa. Mungkin kebetulan saja. Dia tersenyum padaku.

“Siapa namamu?” tanyanya dalam Bahasa Perancis.

Sorry, aku tidak bisa Bahasa Perancis,” kataku.

“Bahasa Inggris? Siapa namamu?” tanyanya lagi, kali ini dalam Bahasa Inggris.

Dia menyesuaikan diri dengan kecepatan jalanku, dan aku berjalan semakin cepat. Beberapa orang mungkin akan bertanya-tanya mengapa. Bukankah pertanyaannya biasa saja? Kenapa tidak dijawab saja, dan berkenalan? Jawabannya ada pada intuisiku yang bekerja berdasarkan pengalaman. Ini bukan pertama kalinya laki-laki tak dikenal mengajakku bicara, dan tampaknya aku sudah terlatih membedakan kesempatan mana yang bisa dipakai berkenalan, dan kapan aku harus menghindar. Tapi, kami berada di lorong yang gelap dan aku memutuskan lebih baik menjawab pertanyaannya. Aman. Lorong ini tidak terlalu panjang.

“Dari mana asalmu? Mau ke mana? Bagaimana kalau kita bertemu lain kali? Boleh minta nomor telponmu?”

Aku mempertimbangkan hendak memberi nomor asal-asalan. Tapi laki-laki itu memegang handphonenya dan tentu akan mencoba menelponku saat ini juga. Terakhir kali aku memberikan nomor yang salah kepada seorang laki-laki yang mengajakku berkenalan di supermarket, dia memarahiku dan memakiku dengan kata-kata yang tidak enak didengar. Aman. Aku memberikannya nomor telponku dan kami berpisah jalan. Aku sedikit memutar untuk memastikan dia tidak mengikutiku dan menungguku selesai latihan. Aman.

Dua jam kemudian, selesai latihan, aku memutuskan berjalan agak jauh agar tidak perlu menunggu di kegelapan. Ada dua bis yang bisa membawaku ke rumah, dan aku memutuskan akan naik bis yang lebih dulu datang. Alangkah terkejutnya ketika aku melangkah masuk, dan laki-laki yang tadi berdiri di pinggir pintu. Aku mempertimbangkan untuk kembali turun, tapi itu berarti aku harus menunggu lebih lama dan aku sudah kedingingan. Lagipula bis itu penuh, tentu tidak akan terjadi apa-apa, ya kan? Aku pun mengambil tempat duduk di samping seorang ibu, dan aku berusaha keras mengabaikan laki-laki yang terus menatapku.

Dua perhentian kemudian, ibu-ibu di sampingku turun dan lelaki itu duduk, menggeserku ke dalam.

“Sungguh menyenangkan melihatmu lagi,” katanya.

“Ya, siapa sangka,” jawabku. Apakah ini terkesan seperti novel chicklit?

“Aku harus turun di perhentian berikutnya, tapi aku akan menelponmu,” laki-laki itu semakin mendekat. “Senang sekali berkenalan denganmu,” lanjutnya, sambil mengulurkan tangan.

Mau tak mau, aku menerima jabatan tangannya, dan ia menarikku, pipi kami bersentuhan, cipika-cipiki seperti yang biasa di sana, tapi detik berikutnya ia mencium bibirku.

Bis berhenti dan ia pun turun sambil tersenyum dan melambai, sedangkan aku hanya terdiam. Tidak berapa lama kemudian air mataku mengalir. Bis itu masih ramai, tapi bagi mereka yang ada di sana mungkin kami sepasang kekasih yang baru saja berpisah, dan air mataku menunjukkan rasa sedih karena perpisahan itu. Baru setelah sampai di apartemen, aku menangis sejadi-jadinya. Beberapa minggu setelah kejadian itu, aku masih was-was setiap kali harus keluar malam.

Ciuman di atas bis, dengan seorang laki-laki tak dikenal mungkin terdengar seperti petualangan yang menakjubkan, paling tidak itu yang kudapat dari reaksi beberapa orang temanku yang malah menanyakan apakah laki-laki itu tampan, dan apakah ciumannya enak. Beberapa orang lain mengatakan aku tak perlu was-was, toh itu hanya ciuman, aku bukan diperkosa atau apa. Namun kenyataannya sama saja, hak pribadiku telah dilanggar. Permasalahannya adalah bahwa hal itu terjadi di luar kehendakku. Seandainya aku memang menghendaki ciuman itu dan menyetujuinya, tentu ini akan menjadi kisah drama yang menarik. Mungkin ketika lelaki itu menelponku beberapa hari kemudian, kami akan mengobrol dan kemudian berkencan. Tapi kenyataannya tidak demikian, dan itulah yang menakutkan. Ketika laki-laki itu menelpon untuk kesekian kalinya, aku memberikan telpon genggamku kepada seorang temanku, laki-laki, yang mengaku pacarku. Laki-laki itu meminta maaf dan tidak pernah menghubungiku lagi.

Dua tahun setelah kejadian itu, aku berkunjung ke Jenewa, dan entah permainan nasib apa, aku melihat laki-laki itu di dalam bis yang sama. Aku segera turun dari bis dan berjalan masuk ke pertokoan yang ramai. Baru setengah jam kemudian detak jantungku kembali normal dan ketakutanku hilang. Beberapa minggu yang lalu, seorang laki-laki tak dikenal menatapku dengan pandangan serupa, mengikutiku, dan kemudian mengajakku berkenalan di sebuah pusat perbelanjaan. Aku berpura-pura tidak mengerti apa yang dia katakan dan segera pergi.

Mungkin benar, seharusnya aku tidak perlu takut. Mungkin laki-laki itu orang baik-baik yang ingin menambah teman. Tapi pengalaman membuatku lebih baik mencari aman.

 

 

Penulis

Aiko, introvert yang sering dituduh sebagai ekstrovert, guru yang kadang dikira (dan merasa) murid SMA. Entah kenapa masih tetap percaya kalau manusia pada dasarnya baik hati. Paling tidak suka ditanya soal rencana masa depan. Kadang menulis di http://widhidana.com

One Reply to “Aku perempuan, dan (seharusnya) aku tidak (perlu) takut”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s