Aku perempuan dan “pujian” kalian membuatku tidak nyaman

Di suatu siang yang cerah, Mawar (bukan nama sebenarnya) sedang berjalan santai di jalanan ibu kota. Tiba-tiba saja, tiada angin dan tiada ujan, ada laki-laki iseng yang bersiul-siul sembari memanggil “Cewe, cewe, sendirian aja. Jalan bareng yuk.” Merasa risih dan menahan kesal, Mawar langsung berjalan cepat tanpa menggubris si cowo.

Merasa adegan tersebut familiar? Kalau kamu adalah seorang perempuan, kemungkinan besar kamu punya pengalaman serupa. Walaupun tidak terbatas di negara kita saja, menurut saya, kebanyakan perempuan di Indonesia pasti pernah mengalami hal ini. Di bawah ini ada cuplikan eksperimen sosial yang ngitung seberapa sering cewe digoda-godain di jalan.

Duh… Sebagai perempuan, saya paling malas ya kalau udah di situasi seperti Mawar. Entah apa salah kami. Kata orang-orang sih, “Kamu dress-nya kebuka gitu sih pundaknya, mana pendek pula. Mengundang dia buat siul-siulin kamu!”, tapi yang pake rok panjang nan lebar dengan kaos gombrong lengan panjang aja juga bisa digodain. Pakai celana panjang aja digodain! Atau ada juga yang bilang, “Lo dandan cantik gitu sih, makanya digodain!” Lha, waktu muka saya ga pake makeup juga ada aja cowo yang ganjen. Lagian, masa terus saya ga boleh dandan dan mesti keluar kucel tiap hari?? Kadang ada juga yang komentar, “Makanya jangan jalan sendirian kalau lagi di daerah situ, barengan sama temen lah biar ga ada cowo iseng.” Padahal ya, kayaknya mau segerombolan juga klo emang cowonya iseng, ya tetep aja dia rese.

Saya sendiri pernah mengalaminya, ketika saya sedang berjalan kaki sendirian menuju gereja. Saat itu kebetulan saya sedang memakai lipstik berwarna merah. Tiba-tiba, ada saja seorang laki-laki yang nyeletuk “Merah banget, mbak, kayak Taylor Swift.” Seketika itu juga saya merasa kesal dan mempercepat langkah saya. Memangnya ada yang salah jika saya menggunakan lipstik warna itu? Pernah juga waktu itu saya sedang jalan sendiri dan agak buru-buru. Lalu, ada segerombol laki-laki yang lagi nongkrong, yang tidak saya kenal sama sekali. Tiba-tiba, mereka mengganggu saya dengan melontarkan kata-kata, “Neng, buru-buru amat sih. Mau ke mana? Sini abang anterin yuk biar cepet.”

Itulah sedikit contoh dari sekian banyak kasus yang ada tentang hal ini. Saya tidak habis pikir sih. Kenapa ya, beberapa laki-laki ada saja yang suka ngegodain para perempuan yang sedang berjalan kaki di jalan? Saya tidak bisa mengerti apa maksud dan tujuan mereka berbuat demikian. Apakah menurut mereka, mereka bermaksud ingin memberikan pujian? Kalau mau ngasih pujian, kok caranya ga enak ya? Kalau kata Wikipedia, pujian itu artinya “menyatakan sesuatu yang positif tentang seseorang, dengan tulus dan sejujurnya. Pujian itu adalah sesuatu ucapan yang membuat orang yang mendengarnya merasa tersanjung, sehingga dapat juga memberikan motivasi kepada orang yang di pujinya.” Nah, kalau orang yang dipuji bukannya merasa tersanjung, tapi kesal dan risih, berarti artinya apa dong?

Lagipula, kami juga ga minta pujian sih. Kami hanya ingin bisa berkelana dengan aman dan nyaman di mana pun dan ke mana pun tanpa harus memikirkan, “Aduh, kalau gw pake baju kayak gini, nanti ada yang nyebelin lagi di jalan” atau “Emm… Kalau gw dandan kayak gini, bakal digodain ga ya di jalan?” Yang kami perlukan adalah perasaan tenang saat kami berada di luar rumah, dan hal itu bisa Anda (para lelaki) wujudkan dengan tidak menggoda kami di jalanan. Saling menghargai satu sama lain sebagai seorang pribadi itu hal yang baik, bukan?

Jika menurut kalian, para lelaki, kami terlalu sensitif dan bereaksi berlebihan atas situasi ini, seperti yang biasa dialami oleh seorang perempuan pada umumnya, coba bayangkan kondisi seperti ini. Ibu, saudara perempuan, atau sahabat perempuan kalian sedang berjalan seperti biasa di jalan, lalu tiba-tiba ada seorang laki-laki entah dari mana ngegodain mereka. Coba tanyakan pada mereka, seperti apa perasaan mereka? Saya yakin mereka akan merasa risih dan terganggu dengan perbuatan laki-laki itu, sama seperti yang kami rasakan. Dan bagaimanakah perasaan kalian? Saya yakin, kalian pun akan marah karena tidak terima ibu atau saudara kalian diperlakukan seperti itu.

Lagian, kenapa kalau ada cewek yang ga nyaman digodain, kesannya yang salah itu ceweknya? Salah bajunya lah, salah make upnya, salah jalan sendirian… Padahal seperti yang udah saya sebutkan di atas, mau pake baju super tertutup, muka kucel, dan jalan rame-rame aja masih digodain! Bayangin deh kalau ada cowok yang lagi jalan terus tiba-tiba dikeroyok preman? Masa terus pada mau bilang, “Makanya bajunya jangan nonjolin otot tangan, dikira nantang“? Atau, “makanya kamu jangan suka ke gym, nanti kamu dikira ngajak ribut“? Atau, “Kamu sih jalannya cepet-cepet“??? Kan aneh.

Jadi para pria, hargailah kami, para perempuan. Jika memang kalian mau berkomentar tentang penampilan kami, cukup jadi konsumsi pribadi saja tanpa perlu kami ketahui. Jika memang niatnya hanya iseng mau ngegodain, bisa dipikir-pikir dulu. Tidak semua perempuan suka akan “perhatian” yang demikian. Yang ada, kami malah merasa jengah dan jengkel. Komentar terhadap tubuh dan penampilan kami dari seorang pria asing membuat kami merasa tidak nyaman dan terancam. Pujian seharusnya membuat kami merasa senang dan datang dari penghargaan yang tulus. Tetapi, ketika pujian itu datang dari orang yang tidak kami kenal di jalan, apalagi jika disertai dengan raut muka yang tidak mengenakkan, apakah salah jika kami mencurigai kalau ada maksud tersembunyi di balik pujian itu yang dapat mengancam keamanan kami?

 

 

Penulis

Febby hanyalah seorang anak bontot biasa yang emang suka lipstik merah dan lagu-lagu Taylor Swift. Kadang juga suka aja jalan-jalan sendirian, walaupun​ ga ada temen.

3 Replies to “Aku perempuan dan “pujian” kalian membuatku tidak nyaman”

  1. saya dulu pelaku catcalling macam itu sewaktu SMA. rasanya gagah bisa goda-goda cewek bareng temen-temen, apalagi sewaktu bolos dan main ke sekolah lain atau terminal. semacam ada rasa kepuasan dan pemenuhan diri sebagai remaja lelaki bersama geng-nya.

    sebelum akhirnya adik saya digituin sewaktu saya antar ke sekolahnya, dan saya marah lalu mukulin siapa pun yg catcalling ke adik saya. dan pas pacaran pertama, saya coba tanya ke kekasih dan ternyata dia nggak suka digodain di jalan atau di-catcalling oleh segerombolan lelaki tua atau muda. saya lgsg berhenti ngelakuin yg begituan.

    kalo dipikir sekarang: “saya dulu bener-bener goblok!”

    Suka

    1. serius deh on, dipikir2 dulu gue rambut bondol trus selalu berpenampilan kek cowok tuh partly defense mechanism. biar rada aman kalo pulang malem2, ato kalo pas lewat terminal ato pangkalan ojek gak digodain. krik.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s