Aku perempuan dan aku seorang bidan di kaki pegunungan

Kami Perempoean kali ini berkesempatan untuk mewawancarai seorang perempuan yang berprofesi menjadi seorang bidan, Ibu Ria (demi menjaga etika profesi dan kerahasiaan narasumber, kami tidak menggunakan nama sebenarnya), 29 tahun, yang berdinas di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Selain menjadi bidan, dia juga seorang istri dan seorang ibu bagi anak semata wayangnya.

Kami Perempoean (KP) : Halo, Mbak! Terima kasih sebelumnya ya sudah mau menyempatkan diwawancarai di tengah kesibukan mengabdinya.

Ria : Halo juga. Iya, nggak apa-apa kok.

KP : Mba Ria udah lama ya jadi bidan?

Ria : Iya, sudah 6 tahun 7 bulan

KP : Wah lama ya. Ditempatkan di mana saja selama 6 tahun, Mbak?

Ria : 4 tahun pertama masih sebagai bidan kelurahan di pusat kota kabupaten. Kebetulan rumah tidak jauh dari pusat kota. 2 tahun selanjutnya dipindahkan menjadi bidan di kelurahan  sekitar 8 kilometer dari pusat kota. 2016 sampai sekarang ditempatkan di sebuah desa di kaki pegunungan yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota.

KP : Wah makin jauh dari rumah ya. Setiap hari pulang pergi atau gimana, Mbak?

Ria : Hehe, nggak akan sempat Mbak kalau pulang pergi.  Aku jadi bidan desa yang harus siaga 24 jam penuh jika ada yang melahirkan karena memang tenaga kesehatan jarang di sini. Aku tinggal di rumah dinas di desa / PKD. Anak semata wayangku ikut aku bawa serta dan bersekolah di sini.

KP : 24 jam? Wow. Liburnya kapan kalau jadi bidan desa gitu?

Ria : Liburnya nggak tentu. Tanggal merah belum tentu libur. Normal jam kerja sebenarnya jam 07.30-14.30, tapi ada piket pagi jam 08.00-17.00 dan piket malam jam 17.00 sampai jam 08.00 pagi besoknya. Dan sering dapat jaga tugas begini.

KP : *speechless* Terus pulang ke rumah setiap apa, Mbak?

Ria : Dalam seminggu dapat libur 1 hari. Kalau mau perpanjang waktu keluar desa, harus ijin dulu ke Pembina Wilayah di Poliklinik Kesehatan Desa (PKD). Soalnya agak butuh usaha dan waktu buat pulang, karena desa ini kondisi geografisnya rusak parah dan jalannya masih banyak berupa tanah, belum beraspal. Kalau udah dapat ijin, tetap harus memastikan ada bidan yg berada di sekitar wilayah kerja kita.

KP : Kalau jam kerja begitu, anak gimana ngurusnya, Mbak? Umur anaknya berapa sekarang?

Ria : Ya, kalau piket sesekali anak aku bawa juga. Tapi lebih sering aku tinggal, soalnya kasihan, capek. Di rumah dinas kebetulan ada saudara yang Alhamdulillah mau jagain anakku. Sekarang anakku umur 4 tahun. Aku sekolahkan di taman bermain di desa.

KP : Anak betah, Mbak, tinggal di desa?

Ria : Sebenernya ya kasihan. Tapi mau bagaimana lagi. Kalau misal jadwal libur dan tidak ada jadwal piket, saya sempatkan pulang (ke rumah orangtua). Sambil bawa anak jalan-jalan ke tempat keramaian seperti kebun binatang, kolam renang, dan lainnya agar dia tidak bosan dan dapat hiburan.

KP : Mbak Ria long distance marriage ya sama suami? Suami kerja di mana?  Pulang setiap apa?

Ria : Iya. Suami pulang 3 bulan sekali. Tapi itu tidak mesti pulang. Dia dinas di Kalimantan.

KP : Anak nggak pernah protes kah kalau jarang ketemu sama ayah dan ibunya gitu, Mbak?

Ria : Protes sih sering banget. Hehehe. Sering bilang “Mama kerja terus, aku pengen sama Mama…” Tapi kalau sama ayahnya ya udah aku kasih pengertian kalau ayahnya bekerja mencari nafkah.

KP : Kalau suami gimana ngejalanin LDM begini dengan kegiatan Mbak sebagai bidan yang full time?

Ria : Jujur awalnya sebelum menikah juga dia sudah tau kalau pekerjaan bidan begini. Tapi, keadaan sebenarnya sekarang dia tidak setuju dengan pekerjaanku. Berulang kali aku disuruh resign untuk mengikutinya ke Kalimantan. Tapi hati nuraniku belum bisa, hatiku masih terikat dengan profesi ini dan aku masih punya tanggung jawab pada orangtuaku di sini.

KP : Tapi, dengan semua hal yang sedang dilalui sekarang ini, apa Mbak Ria masih menikmati profesi Mbak sebagai bidan? Atau malah menganggap profesi ini menjadi sangat berat buat dijalani?

Ria : Alhamdulillah masih menikmati, Mbak. Karena bagiku sekarang kerja bukan sekedar mengejar materi semata, tapi aku anggap sebagai ibadah untuk bekal di akhirat nanti. Bekerja juga sebagai bentuk ikhtiar untuk masa depan anakku juga. 😊

Sekian wawancara singkat dengan Bidan Ria, yang bagi Kami Perempoean adalah sosok pahlawan wanita masa kini. Pengabdian dan pengorbanan Bidan Ria lah yang telah menjamin akses persalinan dan kesehatan kepada ibu-ibu yang tinggal di desa terpencil tempatnya mengabdi. Bidan Ria masih terbilang muda, tapi sudah berapa banyak nyawa yang dia selamatkan dan persalinan yang dia tolong? Pahlawan tanpa tanda jasa? Tepat sekali!

Sekali lagi, Kami Perempoean ingin berterima kasih pada Bidan Ria untuk kesediaannya berbagi cerita. Dan terlebih lagi kami juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sangat besar untuk pengabdiannya! Terima kasih!

 

Catatan: Sekitar beberapa minggu setelah Kami Perempoean melakukan wawancara dengan Bidan Ria, kami mendapat kabar kalau Bidan Ria akhirnya resmi diangkat menjadi PNS setelah hampir 7 tahun perjuangan mengabdi sebagai bidan honorer. Semoga rejeki Bidan Ria bisa menjadi berkah untuk mewujudkan masa depan anaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s