30 Hari Mencari Cinta dan Mengadu Domba Perempuan

Akhir minggu kemaren, mimin-mimin yang ceritanya lagi kurang hiburan dan pengen nostalgia masa muda memutuskan buat nonton ulang sebuah film layar lebar Indonesia yang sempet ngetop banget di jaman kami masih sekolah dulu: 30 Hari Mencari Cinta. Buat yang lupa plotnya karena ini film udah kelamaan atau yang malah gak tau plotnya karena tahun 2004 masih belum cukup umur (duh, nak…), 30 Hari Mencari Cinta bercerita tentang tiga orang sahabat karib, Keke, Olin, dan Gwen yang, well, mencari cinta. Ceritanya tiga cewek ini udah lama jomblo. Suatu hari, setelah beberapa kali konfrontasi dengan seorang cewek di kampus mereka, Barbara, tiga sobat ini memutuskan untuk bikin kompetisi. Dalam 30 hari, siapa yang berhasil dapat pacar boleh memperbudak yang gak dapat pacar selama setahun.

Buat yang pernah nonton film ini, pasti ingat kalau di awal-awal film ini ada banyak dialog yang agak-agak questionable di antara para cewek ini. Yang paling gampang diingat dan jadi plot utama film ini ya itu: mereka menganggap kalau ada yang salah sama mereka karena mereka gak punya cowok. Sepanjang film mereka bener-bener berusaha keras banget mengubah diri mereka dan berkompromi sama cowok-cowok yang rada-rada aneh cuma demi dapet cowok. Bahkan, mereka sampai saling berantem gara-gara cowok yang tindakannnya udah jelas-jelas gak bener. Untungnya, di kesimpulan film ini tuh akhirnya mereka sadar kalau mereka tuh gak butuh cowok untuk jadi spesial, dan bahwa persahabatan mereka tuh mestinya gak dikorbankan cuma buat cowok-cowok yang bahkan gak istimewa itu. Hore, masalah selesai, semua senang? Gak sih, gak juga.

Di film ini, ada satu masalah yang gak terselesaikan dan ngebikin kami super bete pas nonton ulang film ini. Ada satu korban yang gak dituntaskan ceritanya, dan korban itu bukan Olin, Keke, atau Gwen.

Kalau kita balik lagi ke awal filmnya, awal mula tiga sohib ini bikin taruhan konyol ini adalah gara-gara mereka kesel sama seorang cewek yang namanya Barbara. Barbara ini tuh ditampilkan sebagai tipikal seorang cewek yang cantik dan populer di antara cowok-cowok. Nah, berdasarkan percakapannya Gwen, Keke, sama Olin nih, si Barbara ini tuh kayaknya kucing garong banget. Si Barbara bego, cuma fisiknya doang yang bagus. Si Barbara seminggu ganti cowok 3 kali, kayak ganti celana dalem. Si Barbara suntik silikon, padahal dari sananya juga udah gede. Semua prekonsepsi ini tuh muncul gitu aja, padahal mereka bertiga juga keliatannya gak pernah-pernahnya ngobrol sama Barbara. Sekalinya mereka berinteraksi, Barbara marah karena mereka bertiga ngomongin dia dan ujung-ujungnya Barbara jadi ditonjok sama Gwen.

Duh, serius deh, sepanjang film tuh mereka bertiga jahat banget sama Barbara. Misalnya nih, ya, pas mereka lagi belanja, mereka ngobrol kayak di bawah ini.

suntiksilikon1.png

Keke (K): Eh, gue heran deh ngeliat cewek kayak Barbara gitu. Kayanya demi digilain sama cowok-cowok, sampe mesti suntik silikon segala.
Gwen (G): Ga mungkin banget deh! Ngapain ngelakuin itu demi cowok?
Olin (O): Kalo gue sih gak anti sama yang namanya mempercantik diri. Sah-sah aja. Banyak kok artis-artis yang sedot lemak, operasi hidung, bibir, bahkan suntik silikon buat nambah percaya diri. Penting tuh!
K: Ya iya sah-sah aja. Tapi HELLOOOO… Si Barbara kurang gede apanya lagi sih? Pake mesti suntik-suntik silikon segala? Lo gak liat apa? Udah kayak balon begitu, hah? Kalah dong Pamela Anderson! Eh, kalo kayak gue nih, papan penggilisan begini, itu baru mungkin!
G: Tapi yah, kalo gue jadi Barbara, daripada gue suntik silikon, mendingan gue cangkok otak biar gak bego.
O: Bego-bego tapi cowoknya banyaakk
G: Pake susuk kali!
O: Ah, udah-udah! Mulai ngaco ngomongnya. Penting ya ngomongin gituan?

Ladies, we get it. Lo orang pada sirik sama Barbara gara-gara dia digilain cowok-cowok. Tapi serius deh, cangkok otak? Kenapa jadi tiba-tiba menghina seperti itu? Kalian ngerasa lebih pinter daripada Barbara? Udah gitu, kan kalian sendiri yang nyimpulin kalau si Barbara suntik silikon. Padahal, bisa jadi kalau hari itu dia pakai push-up bra, atau malah sumpelan kayak yang dipake sama si Keke pas kalian clubbing. Munafik? Standar ganda? Simpulin sendiri deh. Trus, sepanjang film ini, yang jadi voice of reasonnya tuh cuma si Olin, yang sama orang-orang yang lain dianggep lemot. Ngerti gak implikasinya gimana? Karena image-nya Olin itu lemot, pendapat dan logika dia itu jadi gampang untuk tidak dianggap sama sekali. Dan pada akhirnya omongan-omongan jahat Gwen dan Keke jadi tervalidasi sebagai sesuatu yang pantas dan sudah sewajarnya.

Masih rada bingung ya kenapa mimin-mimin kok serius banget sama kebencian yang diarahkan ke Barbara di film ini? Oke deh, mari kita coba pecah inti masalahnya jadi poin-poin di bawah.

Stereotip cewek cantik, seksi, dan populer sebagai cewek bego dan gak punya otak

Memangnya kenapa kalau Barbara cantik dan seksi? Pernah gak kepikiran kalau emang dia udah dari sononya begitu? Kalaupun dia punya effort lebih buat penampilannya, kan bukan lalu berarti dia bodoh! Stereotip ini tuh gak bener banget. Pasti ada saja kan orang di sekeliling kita yang sudah cantik, baik, pintar pula? Atau coba deh kita lihat Rizna Nyctagina, atau yang lebih dikenal dengan Jeng Kelin. Dia tuh bergelar dokter umum dari Universitas Trisakti loh! Trus, Najwa Shihab. Kurang cantik gimana coba? Dan dia waktu SMA terpilih untuk ikut program AFS dan dia itu lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia! Masih banyak kok public figure dalam negri lain yang cantik dan berprestasi, contohnya, Maudy Ayunda, Cinta Laura, dan para CEO hebat ini. Kalau nama-nama itu masih kurang juga sebagai bukti, yuk kita lihat ke kancah mancanegara, ada MadonnaAmal Clooney, Natalie Portman, Mayim Bialik, dan masih banyak lagi. Jadi, kalau kamu masih terjebak stereotip cewek cantik dan populer itu gak punya otak, cepet-cepet aja deh bertobat dan kubur dalam-dalam paham yang merusak itu.

Bahwa perempuan nilainya lebih tinggi/ baik jika tidak masuk kategori cewek cantik dan populer

Ide ini tuh kental banget di sepanjang film 30 Hari Mencari Cinta. Karena si 3 sobat sama sekali gak seperti Barbara dan gengnya, mereka lalu merasa bahwa mereka lebih tinggi derajatnya. Karena Barbara masuk kategori cantik yang stereotipenya juga adalah bodoh, berarti 3 sobat ini adalah perempuan-perempuan pintar walaupun mereka tidak secantik dan sepopuler Barbara. Hal semacam ini gak cuma ada di TV aja, mimin-mimin juga pernah ngaku dosa dan ngebahas soal internalized misogyny di artikel berikut: Gue nggak kayak cewek-cewek lain, gue beda.

Dan pada akhirnya, perempuan selalu dikotak-kotakkan ke dalam dua kelompok yang saling bermusuhan

Mengkotak-kotakkan perempuan ke dalam kubu cantik-bodoh vs. kurang-cantik-tapi-pintar pada akhirnya hanya menimbulkan permusuhan. Iya, kita memang nggak lalu jambak-jambakan atau terang-terangan saling menyerang kayak adegan adu mulutnya si 3 sobat vs. Barbara di film ini. Tapi sedikit banyak kita pasti jadi ikut terpengaruh dalam cara berpikir kita. Dan siapa yang tersakiti dengan pola pikir ini? Ya kita semuanya juga, tanpa terkecuali. Kalau kalian diberkati dengan paras yang cantik, seumur hidup kalian, kalian harus ekstra keras membuktikan bahwa kalian juga punya kompetensi yang baik. Mungkin tidak jarang kalian akan merasa diremehkan karena tampang kalian. Kalau kalian merasa tidak cantik, kalian lalu akan mencari kelebihan di tempat lain, which is great and everything, asalkan jangan sampai lalu kalian membenci dan memandang sebelah mata pada mereka yang cantik parasnya.

Melelahkan sekali kan sebenarnya kalau kita masih memiliki cara pandang yang mungkin tanpa sadar sudah dipromosikan oleh film layar lebar ini? Untuk apa sih membiarkan pikiran-pikiran negatif bercokol di hidup kita? Kayak gak ada hal lain yang bisa dikerjakan saja.

Setelah capek-capek baca artikel yang lumayan panjang ini, mungkin ada baiknya kita instrospeksi diri. Apakah kadang tanpa sadar kita sudah menghakimi perempuan lain di dalam hati dan pikiran kita, yang sebenarnya hanya dipicu dari apa yang kita lihat di permukaan. Apakah mungkin dalam interaksi pertemanan kita, terkadang masih ada obrolan-obrolan vicious bin jahat yang ditujukan ke orang lain seperti kutipan percakapan Gwen, Olin, dan Keke di atas. Dan jika ternyata kita masih menemukan diri kita berlaku dan berpikir seperti itu, yuk, mari sama-sama mau berubah jadi orang yang lebih baik. Dan mungkin kita juga bisa pelan-pelan mengubah arah percakapan kita dengan teman-teman menjadi hal-hal yang lebih konstruktif.

Sekian artikel kami hari ini, selamat hari Senin, dan semoga seminggu ini kita semua bisa jadi pengaruh yang baik bagi sekeliling kita alih-alih menjadi mulut tajam yang menjatuhkan dan menyakiti orang lain 🙂

2 Replies to “30 Hari Mencari Cinta dan Mengadu Domba Perempuan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s