Cewek-cewek IT di alam liar

“Wah lo mau masuk teknik? Gila lo macho banget!”

“Kalau cewek belajarnya gak usah susah-susah lah. Ntar cowok-cowok pada takut, susah cari suami.”

“Gak usah lah jadi engineer. Ntar kalau udah punya anak kan mesti berhenti kerja ngurusin anak.”

“Wah, buat ukuran cewek lo jago juga ngodingnya ya.”

Pernah denger celetukan-celetukan di atas? Kalau belum pernah, berarti kamu termasuk orang yang beruntung. Buat para mimin yang kebetulan berkecimpung di jurusan IPTEK, celetukan-celetukan seperti di atas udah sering banget terdengar. Jaman dulu pas mesti milih jurusan kuliah, celetukan-celetukan macam begini kadang-kadang bikin ragu-ragu juga. Udah dasarnya bingung mau pilih kuliah apa, takut gak lulus ujian, pakai ditakut-takutin pula nanti mukanya berubah kaya angka kalau pilih jurusan matematika! Gak heran, banyak cewek-cewek yang enggan untuk memilih bidang IPTEK sebagai bidang pendidikan lanjut mereka.

Stereotip memang bukan satu-satunya alasan kenapa perempuan menyingkir dari bidang IPTEK. Namun, salah satu hal yang paling banyak dikutip sebagai alasan kurangnya partisipasi wanita di bidang IPTEK adalah kurangnya figur panutan wanita. Selain dari masalah figur panutan, mungkin mereka juga bingung soal pilihan pekerjaan atau profesi yang tersedia setelah selesai kuliah. Apakah kuliah ilmu komputer pasti bakalan jadi programmer atau helpdesk yang katanya jam kerjanya gak tentu dan orang-orangnya jarang mandi itu? Apakah kuliah teknik elektro cuma berarti bakalan jadi teknisi yang manjat-manjat tiang listrik? Apakah kuliah di kimia kerjanya bakal nyampur-nyampur cairan yang katanya bahaya buat rahim perempuan? Ya enggak dooong mas mbaaakk….

Nah, berhubung kami berkecimpung di bidang IPTEK dan Kami Perempoean bertujuan untuk membagikan cerita-cerita para perempuan Indonesia, dalam seri ini kami ingin membagikan cerita-cerita perempuan yang berkecimpung di bidang ini. Untuk artikel pertama dalam seri ini, kita bakal mendengar cerita dari 4 kontributor yang berkecimpung di bidang ilmu komputer/ teknologi informasi. Selain keempat kontributor kita, dua mimin Kami Perempoean pendapatnya juga ikut nimbrung di artikel ini. Gak, bukan karena pengen ikutan nampang, suer! Mimin cuma pengen memperluas variasi orang-orang yang berkecimpung di dunia IT aja, gitu lhooo.

google site (4)

Clara, Mahasiswa S3 di University of Edinburgh, topik penelitiannya di seputar Natural Language Processing
Ikuma, Budak korporat di bagian IT di sebuah institusi perbankan, tepatnya di bagian IT Business Process
_On, Pegawai Negeri Sipil, dengan pekerjaan di bagian monitoring dan evaluasi
Kika, Radio Network Performance Engineer di sebuah perusahaan di Jepang

Mimin Bibay, Software Developer di sebuah perusahaan multinasional, yang kerjanya membuat aplikasi untuk mengembangkan chat bot dalam berbagai bahasa internasional
Mimin Hilda, Peneliti post-doktoral di NTNU Norway, dengan topik penelitian pemrosesan citra digital dan aplikasi pada objek-objek budaya seperti lukisan dan manuskrip tua.


Dulu apa sih alasannya, kok bisa-bisanya kalian milih buat kuliah di jurusan Teknologi Informasi/Ilmu Komputer/Sistem Informasi?

Keempat kontributor kita waktu milih jurusan ilmu komputer sebenernya gak gitu tau apa yang bakal kita hadapi. Kalau kata mimin Hilda sih maklum, namanya juga anak SMA. Mimin Bibay dari dulu udah control freak, jadi dulu sih dia udah tau ilmu komputer kira-kira belajar gara-gara dia kebanyakan cari tau. _On katanya dulu disuruh nyokap, beda tipis sama mimin Hilda yang dipilihin bokap karena gak tau mau kuliah apaan. Clara memang udah tetarik sama teknologi sih dan dia kurang sreg sama jurusan-jurusan teknik dan MIPA yang lain. Tapi kemudian dia ngaku, “Alasan lebih jujurnya sih dulu karena saya seneng bikin slide presentasi yang dihias-hias pake Microsoft Power Point sama main game The Sims.”

Dua kontributor kita lainnya tadinya pengen masuk jurusan yang lain. Ikuma tadinya mau masuk kedokteran, dan ketika harus nulis jurusan pilihan kedua di formulir UMB dia bingung. “Waktu SMA sempat ada mata pelajaran tambahan yang sebutannya muatan lokal (MuLok) dan kebetulan MuLok-nya ngoding Pascal dan Visual Basic, dan cukup tertarik, jadilah memilih Ilmu Komputer,” katanya. Buat Kika, yang penting dia gak mau kuliah di kampung halamannya, Aceh. Awalnya dia disuruh ambil FK sama orang tuanya, tapi beberapa kali daftar untuk undangan belum berhasil. Akhirnya, ketika UMB, dia ambil Ilmu Komputer dan Sistem Informasi. “Ngobrol sama kakak kelas yang udah di bidang itu, prospek kerjaan banyak banget IT. Gak dapet kerjaan pun bisa freelance,” tambahnya.

Kerjaan yang sekarang nyambung gak sama yang dipelajarin pas kuliah?

Dari keempat kontributor kita, yang pekerjaannya sekarang nyambung banget sama apa yang dipelajari ketika kuliah ternyata cuma Clara. “Hampir tiap hari ya kerjaan saya coding/ debugging. Berhubung lagi S3, makanan sehari-hari ya baca paper, berkutat dengan statistik/probabilitas, mikirin gimana cara implementasinya jadi program…,” ia menjelaskan. Walaupun bekerja di bagian IT, ternyata pekerjaan Ikuma juga gak terlalu nyambung dengan apa yang dia pelajari waktu kuliah dulu. “Kalau ambil S2 MTI (Magister TI) nyambung sih, tapi kalau sama S1 IlKom gak sama sekali,” katanya.

Pekerjaan _On saat ini juga gak nyambung sama sekali sama jaman kuliah, kecuali kalau dia dirotasi ke bagian IT nantinya. Pekerjaan Kika sekarang lebih berhubungan dengan teknik elektro, jadi dia harus belajar dari 0 lagi. “Gak ada training, more like on the go,” katanya. Sebenarnya, dia sudah direncanakan untuk dipindahkan menjadi developer yang mungkin akan lebih nyambung dengan apa yang dia pelajari jaman kuliah dulu. Tapi untuk saat ini, Kika masih berkutat dengan bidangnya yang baru.

Ada nyeselnya gak kuliah di bidang Ilmu Komputer/Teknologi Informasi?

Walaupun mayoritas dari kontributor-kontributor kita kerjaannya ternyata gak begitu nyambung sama apa yang mereka pelajari di jaman kuliah, ternyata mereka gak nyesel kuliah di bidang itu. “Yang terpakai mungkin bukan skill IT secara khusus yang gue dapet pas kuliah, tapi cara/alur berpikirnya,” kata _On. Ikuma bilang kuliah di bidang ini sesuai banget sama karakter dia yang doyan mikir. Kalau Clara mengaku dulu dia sempat menyesal di awal-awal kuliah karena dia sempat kesulitan sama pemrograman dan salah satu kuliah yang namanya Matematika Diskrit yang gak kalah susahnya. “Sempet mikir apa saya salah jurusan, mungkin saya salah karena mikir kalau kuliah komputer itu gampang,” renungnya. Untungnya, dia tetap bertahan di bidang ini, “Setelah tahun kedua selesai, saya jadi suka banget sama jurusan ini, dan sampai sekarang gak nyesel sama sekali. Kalau disuruh milih lagi, saya kayanya akan tetap ambil jurusan ini.”

Pelajaran paling berguna apa yang didapat dari kuliah?

Kalo buat Kika, dia bersyukur banget dapet kuliah Matematika Diskrit, karena kuliah itu ngebantu banget buat ngebentuk reasoning dan mengasah cara berpikir. Dan ini sesuatu yang berguna banget di hidup secara umum dan pekerjaan yang lebih teknis. Menurut dia, “Reasoning buat menghadapi masalah jadi lebih logis aja. Kayak hidup tuh ada banyak jalan, terus kita mesti bisa milih mana yang efisien dan bener.” Ikuma dan Clara juga sepaham soal kuliah ilmu komputer yang ngajarin bagaimana proses membentuk logika yang tepat, yang adalah pelajaran yang juga didapat lewat kuliah-kuliah ngoding a.k.a programming.

Selain kuliah matematika yang bejibun (matematika diskrit, kalkulus, aljabar linier, statprob, dll.) dan tentunya kuliah ngoding, Ikuma menekankan juga soal anti-plagiarisme. “Pas kuliah dulu paling diwanti-wanti buat gak plagiat. Ujungnya jadi kebawa di kerjaan, maunya bener-bener bikin kata-kata sendiri kalau nulis dokumen. Terus jadi lebih berintegritas, sebisa mungkin gak ngegampangin suatu hal, misalnya dalam proses X yang harus dilakukan adalah blablabla, ya si blablabla itu jangan sampe di-skip.”

Selain pelajaran itu, ada hal-hal lain gak yang gak disangka2 didapat dari kuliah di jurusan ini?

Buat Kika yang dulunya kuliah di jurusan Sistem Informasi, mata kuliah tentang bisnis itu bonus yang gak dia sangka-sangka. “Mikirnya anak Ilmu Komputer ya teknis aja, teknologi. Eh ternyata dapet project management, supply chain,” kenangnya. Ikuma ngerasa kalau ternyata setelah jadi lulusan jurusan ini, CV dia jadi lebih dihargai dan dia jadi mendapatkan koneksi yang tidak diduga-duga dengan orang-orang yang keren di bidang ini. Dia merasa hal ini membuka kesempatan yang luas banget buat dia.

Buat Clara, dulu tuh dia gak pernah kepikiran bahwa dia bakal berkuliah sampai jenjang S3. Tanpa dia duga-duga, ternyata dia menemukan passionnya setelah menyelesaikan skripsi S1nya. “Sampai sekarang saya masih berterima kasih banget sama pembimbing S1 saya yang mengenalkan saya tentang riset untuk teknologi bahasa,” katanya. Ngomong-ngomong, pembimbing skripsi Clara adalah Ibu Mirna Adriani, yang sekarang adalah dekan dari Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia. Keren banget gak sih??

Susah gak menurut kamu jadi perempuan di bidang ini?

Kalau dari sisi individu masing-masing dan dari sisi akademis, kami semua sih sepakat kalau gak ada hubungannya gender sama kemampuan. Kalau kata _On, “Susah ato gak, gak ngaruh sih kita itu cewek ato cowok. Lagian kalaupun susah, ya namanya hidup, masa gak mau susah?”

Tapi, ketika mulai masuk dunia kerja, mulai terlihat beberapa tantangan dari lingkungan sekitar. Buat Kika, tantangan terbesarnya adalah sangat sedikitnya jumlah engineer perempuan apalagi di tempat kerjanya. Jangan salah, bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki sebenarnya akan baik-baik saja ketika mereka terdidik dalam bersikap. Tapi Ikuma punya pengalaman yang tidak enak, “Bisa aja orangnya pinter dalam kerjaan, jabatannya tinggi, tapi tetep aja ada di antara mereka yang memandang perempuan tuh rendah, ngasih kerjaan tambahan yang kayak babu (maaf kasar) lah, megang-megang seenaknya dan nyantainya nganggep itu becandaan aja, atau kadang kata-kata yang keluar dari mulutnya itu secara implisit merendahakan perempuan dan nganggep perempuan kayak objek hiasan.”

Satu hal yang ditambahkan oleh Clara adalah soal kepercayaan diri dalam berdiskusi. Berada di lingkungan dengna mayoritas laki-laki kadang bisa membuat merasa tertekan dan akhirnya pendapat mereka lah yang jadi dominan. “Dalam situasi seperti itu wajar kalo kita ngerasa jadi minder atau gak enak. Tapi menurut saya penting juga untuk nunjukin apa pendapat kita. Pada akhirnya orang akan respect saat kita bisa menunjukkan apa yang kita punya dan bahwa kita terus berusaha untuk mengembangkan diri kita.”

Ada pesan gak buat temen-temen yang berpikir untuk kuliah di bidang ini?

Menurut Ikuma dan Kika, sebelum masuk (terjerumus?) ke bidang ini, ada baiknya kalau cari-cari tau yang bener apakah bidang ini memang sesuai minat kamu. “Supaya kebayang, daripada pas udah masuk ternyata gak cocok, bahaya,” kata Ikuma. Mimin Bibay setuju banget sih, dan ini berlaku untuk jurusan mana pun. Kalau kamu sudah belajar keras dan berhasil masuk ke fakultas tujuan kamu, Ikuma juga berpesan untuk gak lupa untuk belajar yang serius, banyak-banyak networking, dan cari pengalaman dengan ikut kompetisi-kompetisi.

Buat Clara, kalau kamu suka dan tertarik dengan teknologi, go for it. Menurutnya, awal dia masuk ke bidang ini juga karena dia terpesona dengan apa yang bisa dilakukan komputer. Sebagai penutup, Clara berpesan,

“Saya gak akan bilang kalau kuliah IT itu gampang, kuliah IT itu susah! Tapi kalau kamu enjoy jalaninnya, saya rasa kamu bakal senang dengan bidang ini. Mungkin ini klise, tapi saya percaya kalo teknologi itu bisa membantu orang dalam banyak hal. Jadi, kamu juga bisa ikut ambil bagian untuk bikin teknologi yang bermanfaat buat banyak orang, dan gak hanya sibuk dengan aplikasi-aplikasi socmed yg dibuat orang lain. IT berkembang super duper cepat, dan saya rasa bidang ini gak akan pernah membosankan.”

Mimin setuju banget, Clara!


Segitu dulu deh hasil ngobrol para mimin dengan cewek-cewek cadas yang berlatar belakang dalam bidang Teknologi Informasi/Ilmu Komputer ini. Ternyata orang-orang yang masuk bidang ini bukan cuma orang-orang yang dari bocah udah gak bisa dipisahin sama komputer aja kan? Lagian, belajar di bidang ini bukan melulu belajar ngobrol sama komputer aja. Banyak juga kuliah-kuliah yang lain mulai dari matematika sampai bisnis. Pilihan pekerjaan yang tersedia setelah lulus juga banyak banget, mulai dari yang kelihatannya gak ada hubungannya sama sekali sampai yang match made in heaven.

Kami Perempoean pengen banget membahas wanita-wanita luar biasa dari bidang-bidang IPTEK lain. Kalau kamu berminat jadi narasumber kami, atau kamu mau mencalonkan temen kamu yang menurut kamu kickass banget, langsung aja ya hubungi kami! Caranya bisa langsung lewat form Hubungi Kami, lewat twitter di @kami_perempoean, atau langsung aja kirimkan e-mail ke kamiperempoean[at]gmail[dot]com.

Sampai ketemu hari Senin depan!

One Reply to “Cewek-cewek IT di alam liar”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s