Aku perempuan dan tubuhku membuatku tidak nyaman

Sejak kecil, aku gak pernah mungil. Walaupun sebelum kelas 3 SD aku kurus karena males makan, tetap aja aku lebih tinggi dari teman-teman seusiaku, bahkan dari kakak-kakak kelasku. Gak cewek, gak cowok. Sampai kadang-kadang, aku dipanggil “tiang listrik” karena aku tinggi cungkring. Eventually, aku agak sedikit menggemuk dan badanku kelihatan lebih proporsional. Ketika masuk SMP pun cowok-cowok banyak yang mulai lebih tinggi dari aku. Tapi tetep aja aku yang paling tinggi di antara mayoritas teman-temanku.

Dari kecil sampai SMA, aku gak pernah peduli-peduli banget sama bentuk, berat, atau tinggi tubuhku. Emang sih, temen-temenku banyak yang lebih kurus dan mungil imut-imut, tapi aku merasa nyaman-nyaman aja sama tubuhku. Aku malah bangga karena aku lebih tinggi dari teman-temanku. Badanku yang lebih bongsor pun sering jadi aset kalau pelajaran atau ekskul olahraga. Sampai kira-kira awal kuliah, aku masih aktif olahraga baik dari pelajaran Penjaskes atau dari ekskul. Pas masuk kuliah, saking sibuknya dan karena sering pulang ke rumah, aku jadi nyaris gak pernah olah raga. Mayoritas waktu selalu dihabiskan dengan duduk ikut kelas. Kerjanya juga ngemil melulu. Akhirnya, pelan-pelan beratku semakin bertambah.

Ketika jaman kuliah, walaupun aku masih gak ngerasa “gemuk”, aku mulai sadar sama tubuhku sendiri. Jaman kuliah dulu, ada beberapa teman di grup pertemananku yang kerjanya hampir tiap saat ngeluh kalau mereka gemuk, perutnya buncit, pahanya besar. Lucunya, menurut teman-temanku saat itu, aku masih kurus. Atletis. Dan kalau boleh jujur, saat kuliah dulu aku merasa masih kurus. Tapi, karena sering banget ngedenger keluhan-keluhan kayak begini, entah kenapa rasanya mulai gelisah. “Apa ada yang salah ya, kalau aku gak ngeluh?” Terus aku mulai melihat teman-teman sekitar dan membandingkan tubuhku dengan tubuh mereka. Aku sadar kalau paha dan betisku besar. Aku sadar kalau lengan atasku lumayan besar. Aku juga sadar kalau perutku gak rata.

Tapi, saat itu aku masih merasa aman dan oke-oke aja. Tau gak kenapa? Soalnya, adik perempuanku dulu lebih pendek dan lebih chubby dari aku. Ukuran baju dia satu ukuran di atasku. Aku ingat, dulu aku sering bercanda memanggil dia “gendut”. Kalau misalnya kami dibelikan atau dijahitkan baju yang sama untuk acara kondangan dan sejenisnya, aku selalu bilang gampang tau baju yang mana yang punya siapa. “Punyamu lebih pendek dan lebih lebar,” kataku.

Iya, aku jahat banget. Sampai sekarang aku merasa bersalah banget kalau ingat masa-masa itu.

Tapi emang ya yang namanya hidup tuh kayak roda. Jadi ceritanya adikku tuh karena mengubah gaya hidup dan lain-lain tiba-tiba beratnya turun banget gitu. Sementara, beberapa tahun terakhir tuh masa-masa yang berat buatku. Karena stress sama kerjaan dan melewati masalah-masalah yang berat banget secara emosional, aku jadi gak memperhatikan kesehatanku sendiri. Aku makan gak karuan, dan lebih sering beli makan di luar karena gak ada tenaga ngapa-ngapain. Tidur gak karuan. Gak pernah olahraga sama sekali. Tiba-tiba, dalam 2 tahun berat badanku naik 10 kg. Tiba-tiba, dalam pertama kalinya dalam hidupku, aku jadi lebih “gendut” dari adikku.

I felt like crap. Semua bagian-bagian tubuh yang tadinya udah keliatan besar di mataku makin keliatan besar. Baju-baju yang tadinya muat dan gak muat lagi bikin aku stress. Tiap kali belanja baju, aku selalu berusaha nyobain baju di ukuranku yang biasanya. Lama-lama, akhirnya aku harus menyerah dan mulai membeli satu ukuran di atasnya. Dan yang bikin aku lebih tertekan lagi adalah komentar-komentar orang sekitar. Mulai dari komentar-komentar “manis” macam “Wah, sekarang makmur ya? Banyak rejeki? Seneng ya?” sampai yang langsung ke sasaran macam “Gemukan ya sekarang!”. Tanpa komentar-komentar itu, isi kepalaku udah menyalahkan diri sendiri dan merasa gak berguna. Komentar-komentar itu rasanya memvalidasi ketakutan-ketakutanku.

Yang paling bikin hati sakit itu adalah komentar-komentar dari orang-orang terdekat. Gak tau ya, apa karena mereka merasa dekat dan merasa bisa lebih jujur, komentar-komentarnya tuh kadang-kadang bikin aku pengen nangis. Aku tau mereka berpikir kalau mereka menunjukkan karena mereka peduli dan berusaha membantu, tapi kalau boleh jujur, komentar-komentar macam “Kamu mesti kurusan biar menarik! Nanti gak ada cowok yang mau.” itu sama sekali GAK MEMBANTU. Mereka seperti gak peduli apa alasan berat badanku naik dan bagaimana perasaanku mendengar ucapan-ucapan semacam itu.

Tapi tau gak, ada satu orang yang gak pernah berkomentar nyakitin: adikku. Adikku terlihat lebih khawatir tentang kesehatanku, dan dia kadang-kadang menyemangatiku untuk berolahraga. Gak pernah sekalipun aku dipanggil “gendut”. Padahal, kalau ada orang yang berhak memanggilku gendut, mestinya dialah orangnya. Yang sintingnya, beberapa waktu lalu dia curhat kalau berat badannya mulai sedikit naik lagi. Dan tau gak? Di dalam hatiku ada sedikit perasaan senang. Senang karena bukan aku sendiri yang kesulitan soal berat badan. Senang di saat adikku sedih.

Sakit jiwa.

Dan tau gak, sampai aku terpikir nulis artikel ini, aku gak pernah sadar kalau aku punya masalah ini. Aku tau kalau dari dulu padanganku tentang badanku sendiri gak positif-positif amat. Aku sadar kadang-kadang aku merasa gak nyaman karena aku merasa paling besar sendiri. Aku sadar kalau aku kadang-kadang meringis melihat pantulanku di cermin. But I thought I was dealing with it. Aku gak sadar kalau ternyata pandanganku terhadap tubuhku sendiri ternyata seburuk ini, sampai-sampai aku persepsiku tentang tubuhku sendiri bergantung pada persepsiku terhadap tubuh orang lain. Aku gak sadar kalau ternyata kepercayaan diriku tentang tubuhku segitu rendahnya sampai-sampai aku merasa senang kalau orang lain gak percaya diri sama tubuhnya sendiri.

Kesadaran itu memunculkan borok-borok yang baru lagi buatku. Sebagai perempuan yang “berpendidikan” dan “modern”, aku pikir aku lebih baik dari ini. Aku pikir aku gak sepicik ini. Aku pikir aku “beda dari cewek-cewek lain”. Menyadari dan menerima bahwa aku gak lebih baik dan malah mungkin lebih bobrok dari orang-orang lain adalah hal yang sangat berat buatku. Sampai saat aku menulis artikel ini, aku masih menyalahkan diriku sendiri karena aku “lemah”. Pandanganku terhadap tubuhku sendiri juga belum membaik. Baru-baru ini, aku pergi ke gym dan menangkap pandangan tubuhku sendiri di cermin. Rasanya aku ingin sembunyi karena aku jijik melihat tubuhku bergerak.

Tapi, aku juga sadar kalau aku gak bisa begini terus. Untungnya, aku punya teman-teman yang bisa aku ajak berdiskusi dan mau mendukungku untuk perlahan-lahan menerima diriku apa adanya. Mereka mau mendukungku untuk merawat dan menghargai tubuhku sendiri, untuk berolahraga dengan alasan yang benar (supaya sehat, dan bukan supaya kurus), untuk berusaha meningkatkan apa yang bisa ditingkatkan dan menerima apa yang tidak bisa diubah. Perjalananku masih panjang, tapi aku gak akan berhenti berusaha dan bergumul melawan pikiran negatifku sendiri.

 

 

Penulis

Penulis memilih untuk tidak menyertakan nama dan latar belakang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s