Aku perempuan dan aku cantik apa adanya

Sejak kecil, aku sudah sangat familiar dengan perkataan-perkataan orang tentang betapa kurusnya aku dan gelapnya warna kulitku. Yup, setiap orang yang membaca tulisan ini pasti punya pengalaman tersendiri tentang bagaimana penilaian orang yang kita dengar berulang kali (disadari atau tidak) banyak berpengaruh pada bagaimana kita menilai diri kita sendiri. Dalam kasusku, sayangnya, aku tumbuh dengan mempercayai bahwa aku kurang indah karena aku terlalu kurus dan warna kulitku terlalu gelap.

Sewaktu aku kecil, keluarga besarku sangat sering berkumpul di rumah nenek, terutama di masa-masa libur sekolah. Di momen-momen seperti inilah para tante mengambil kesempatan untuk membandingkan anak-anak mereka, baik dalam segi prestasi maupun penampilan fisik. Untuk topik yang kedua, tentu saja aku merupakan target yang enak untuk dijadikan patokan minimum. Memang pada saat itu aku termasuk anak yang sulit makan dan karena itu badanku sangat kurus dibandingkan dengan anak-anak lain pada umumnya. Tentu saja hal ini menimbulkan tekanan tertentu pada ibuku sehingga beliau mencoba berbagai cara untuk membuatku lebih doyan makan, mulai dari vitamin penambah nafsu makan yang rasanya manis sampai sari temulawak yang pahitnya bukan main di lidahku. Dan aku tetap kurus. Ajaibnya, semenjak memasuki bangku SMP, entah karena hormon atau memang kegiatan sekolahku yang sangat padat, aku selalu merasa lapar. Dalam sehari aku bisa makan 4 sampai 5 kali porsi makan normal dengan menu yang didominasi oleh nasi. Dan… Aku tetap kurus. Tentang warna kulitku pun, salah satu kakak dari ibuku berkomentar, “kamu hitam karena kamu kurus, kalau kamu gemuk kan kulitnya bisa melar dan warnanya lebih terang” (seakan-akan aku ini balon). Teori yang sebenarnya menggelikan.

Semakin besar aku semakin mempercayai bahwa aku tidak menarik secara fisik, oleh karena itu aku lebih memfokuskan diriku untuk meraih prestasi dalam bidang akademik. Ini menjadi pelarian yang baik, tentu saja, dan aku merasa nyaman dengan duniaku: sekolah dan buku-buku. Akan tetapi permasalahanku dengan gambar diri menjadi satu hal yang terus mengganggu karena aku menjadi sangat tidak percaya diri dan tidak nyaman dengan keadaan fisikku. For a high school girl, that was a big deal. Hal ini semakin didukung dengan segala bentuk media yang selalu menekankan bahwa kulit putih adalah definisi dari kecantikan, dan walaupun aku mencoba memakai produk-produk pemutih kulit yang beredar di pasaran, berharap bahwa kulitku akan berubah se-putih model yang terpampang di packaging-nya, ya tentu saja hal ini tidak akan pernah terjadi.

Lama-lama aku tidak lagi memusingkan diriku dengan apa yang tidak kumiliki dan lebih berfokus pada apa yang aku bisa kembangkan. Aku belajar lebih keras, bekerja lebih giat, dan berlatih untuk menghilangkan kecanggungan dalam bersosialisasi. Setelah lulus kuliah dan bekerja selama beberapa waktu lamanya, aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Eropa.

Pada awalnya aku cukup terkejut karena di sini orang-orang menginginkan warna kulit yang lebih gelap agar tidak terlihat pucat (walaupun aku sering melihat di film-film bagaimana orang bule suka sekali berjemur, tapi tetap saja aku kaget waktu mereka mengatakan, “your skin is so perfect” atau “you’re so beautiful”. lol). Baru sekarang aku benar-benar mengerti bahwa tidak ada yang bisa mendefinisikan kecantikan dan menjadikannya sebagai satu-satunya patokan. Pada dasarnya orang akan menginginkan apa yang mereka tidak miliki, dan inilah opini yang dibangun oleh “pasar” for the sake of selling their products. Saat ini aku tidak lagi terganggu (sama sekali) apabila seseorang berkomentar, “kok kamu tambah kurus” atau “kok kamu tambah item”. Alih-alih, aku merasa senang karena hal itu tidak lagi menyakitiku.

Di suatu sore di usiaku yang ke-27, aku duduk dan merenung.

  1. Sebenarnya ketika aku kecil, para orang dewasa bisa berkomentar tentang hal-hal yang lebih membangun gambar diri positif, seperti “Kamu lincah ya” atau sekedar bertanya “Oh kamu suka membaca ya? Buku cerita apa yang kamu suka?”. Dengan begini, secara tidak langsung si anak diajari untuk lebih melihat hal-hal yang baik dari dirinya. Sekarang aku sudah dewasa dan akan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
  2. Kurus bukan berarti kurang nutrisi. Ibuku pernah bercerita bahwa sejak bayi, walaupun terlihat kurus tapi berat badanku selalu termasuk dalam kategori hijau (sehat dan tidak kekurangan gizi). Kesehatan lah yang esensial. Anakmu kurus? Tapi dia sehat dan lincah? Then it is fine 😉
  3. Sehat juga lebih penting dari sekedar cantik. Sekarang aku lebih memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuhku dan juga mulai membiasakan untuk berolah raga.
  4. Orang berkulit gelap memiliki lebih banyak pigmen yang melindungi kulit dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sinar matahari. Hal ini patut disyukuri. Yang berkulit putih perlu lebih banyak sun screen dari yang berkulit hitam. Jadi yang berkulit gelap, tidak perlu merasa tertekan lalu suntik vitamin C just to fit in. Kulit hitam, kulit putih, semuanya diciptakan indah oleh Yang Kuasa.

Aku bersyukur dapat menyadari bahwa waktu yang aku habiskan untuk berkutat dengan segala pemikiran yang membuatku tidak berdamai dengan diri sendiri adalah waktu yang terbuang sia-sia. At the end of the day, we are who we are. We’ll have to live with ourselves for the rest of our lives, and if we have to choose whether or not to accept how we look, better choose to accept and be grateful and content with it. Because it is too exhausting not to 🙂

 

 

Penulis

Kristyajeng Suryo Putri. Lahir di Pamekasan (Madura) dari orang tua yang dua-duanya Jawa tulen. Dibesarkan di Bojonegoro, sebuah kota kecil di Jawa Timur, kemudian merantau untuk menempuh pendidikan SMA di Salatiga. Merantau sedikit lebih jauh lagi ke Bandung untuk menyelesaikan jenjang perguruan tinggi di sebuah Institut yang dulunya bernama Technische Hoogheschool. Saat ini berdomisili (sementara) di sebuah negara dimana aku bisa dengan bangga mengatakan, “Ja jsem Kristy, jsem z Indonesie!”.

3 Replies to “Aku perempuan dan aku cantik apa adanya”

  1. Saya sangat terdukung membaca tulisan anda. Karna apa yg saya alami lebih parah dari apa yg anda alami. Di usia saya yg lebih dari setengah abad ini, masih saja ada orang yg berkomentar bahwa ukuran kaki dan tangan saya bukanlah ukuran wanita. Risih ( risau dan sedih ) saya mendengarnya, tapi apa boleh buat saya toh tdk bisa merubah sesuai keinginan saya. Terima kasih, tulisan anda menghibur saya. Masih banyak hal yg bisa dilakukan dari pada hanya memikirkan fisik yg menjadi bagian diri kita. Dia sang pencipta pasti punya rencana indah pada insan yg dikasihiNya.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Setuju sekali, “masih banyak yang bisa dilakukan..” daripada terpaku pada apa yg tidak bisa diubah 🙂
      Terima kasih untuk komentarnya!

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s