Menjadi wanita adalah menjadi manusia

Fenomena menarik terjadi di Indonesia selama dekade terakhir ini. Semakin banyak pergerakan-pergerakan kewanitaan yang digadang oleh srikandi-srikandi tanah air. Seiring dengan pertumbuhan Indonesia di tengah-tengah dunia global, negara juga tidak mau terlihat acuh. Negara berusaha mengimplementasi kebijakan-kebijakan yang memberikan kesempatan bagi wanita-wanita bangsa untuk dapat berdiri bersisian dengan pria dalam hal karir dan pendidikan. Namun, sepertinya ada sudut pandang yang salah kaprah dalam pengertian mengenai kesetaraan gender’ yang justru mengkhianati jiwa dari pergerakan itu sendiri.

Memang perlu diakui bahwa wanita berada pada sisi yang kurang menguntungkan, sehingga perlu diberikan batu loncatan untuk dapat mengakselerasi dirinya agar dapat sejajar dengan pria. Oleh karena hal ini lah maka dibutuhkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Komnas Perempuan. Diperlukan jalur-jalur spesial, seperti beasiswa khusus wanita, agar wanita yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang masih cenderung mengedepankan peran laki-laki dan melupakan hak wanita dapat mengembangkan potensinya dan ikut berkontribusi dalam kapabilitas yang sama di masyarakat.

Namun, tentunya mematahkan suatu pandangan dan dogma yang sudah mengakar kuat dalam adat istiadat, budaya, agama, dan norma bukanlah suatu hal yang mudah. Oleh karena itu, jalan pintas yang diambil hanya dapat mengantarkan masyarakat sampai ke suatu titik di mana diperlukan usaha dan kekuatan yang lebih agar tujuan ‘kesetaraan’ tercapai. Tanpa edukasi yang secara terbuka menolak ide dan pandangan yang mendiskriminasi perempuan, wanita akhirnya diperlakukan seperti warga negara berkebutuhan khusus sehingga perlu diberikan fasilitas-fasilitas khusus seperti gerbong khusus perempuan, parkir khusus perempuan, area khusus perempuan di Transjakarta, dsb.

Tulisan ini sendiri tercetus karena sebuah pembicaraan yang saya alami beberapa hari lalu. Seseorang, yang saya yakin bermaksud baik, berusaha memberikan perlakuan spesial kepada saya. Kira-kira pembicaraannya seperti ini:

Rumput yang bergoyang (RYB): “Jadi, kapan kamu ada waktu buat ketemu lagi?”
Saya: “Wah, aku nggak tahu nih. Soalnya belum tau kapan balik ke Jakarta.”
RYB: “Oke, aku cuma menyampaikan aja. Aku tahu kamu punya pilihan, sebagai wanita. Kamu bebas kok menentukan mau ketemu lagi apa nggak.”
Saya: *…cengo…*

Untuk memberikan konteks pembicaraan di atas, orang ini sepertinya dalam tahap PDKT dengan saya. Terlepas dari awkwardness situasi tersebut, kalimat orang tersebut membuat saya jengah. Apa maksudnya? Tentu saja saya punya pilihan. Bukan karena saya wanita, melainkan karena saya adalah manusia bebas yang memang selalu punya pilihan dalam segala sesuatu. Karena saya adalah manusia yang diciptakan untuk selalu memilih dengan akal budi saya sampai hembusan napas terakhir.

Dari rangkaian cerita-cerita di #kamiperempoean sendiri terlihat jelas benang merah yang menggerakkan para kontributor untuk membagikan kisah mereka. Terlepas dari latar belakang, kepribadian, dan prinsip kami yang berbeda-beda, kami wanita, khususnya wanita Indonesia, meghadapi suatu tembok tinggi dan kokoh yang sudah ada sejak sebelum kami ada. Sebuah tembok yang telah menjadi bagian dari realita kami dan tidak pernah kami pertanyakan sebelumnya. Sebuah tembok yang telah menjadi sama faktualnya dengan ‘jatuh ke bawah dan naik ke atas’ yang membentuk cara pandang kami terhadap diri kami sendiri. Bahwa “wanita jangan sekolah tinggi-tinggi, nanti cowok-cowok pada takut”, bahwa “wanita kalau ketawa jangan lebar-lebar”, bahwa “wanita jangan terlalu banyak berpendapat”, bahwa “wanita itu makhluk yang lemah”, bahwa “wanita tidak boleh jadi pemimpin”, bahwa “wanita itu kodratnya mengurus suami dan anak”, bahwa “wanita itu tempatnya di dapur”. “Fakta-fakta” sosial ini secara tidak sadar telah membentuk sudut pandang masing-masing pribadi, pria maupun wanita, mengenai standar wanita ‘normal’ dan ekspektasi yang mengikutinya.

Pergerakan kesetaraan gender memang seakan-akan meminta perlakuan spesial bagi wanita. Padahal, kesetaraan gender merupakan hal spesial karena ide ini mendobrak seluruh paham yang berlaku saat ini. Kesetaraan gender sama spesialnya dengan listrik di pada abad ke-16 dan internet pada abad ke-20. Bagi saya, semangat dari kesetaraan gender adalah mengenai kesetaraan dua manusia terlepas dari jenis kelamin, status sosial, domisili, warna kulit, suku, bahasa, dan perbedaan-perbedaan apapun yang terjadi di luar kendali manusia tersebut. Kesetaraan gender adalah antitesis dari perlakuan spesial. Kesetaraan gender berarti tidak ada lagi kalimat, “Wah keren banget cewek anak teknik.” dan hanya ada, “Wah keren banget anak teknik.” Tidak ada lagi kalimat, “Wah padahal cewek tapi sibuk banget ya sampai baru pulang jam 10 malem karena lembur.” dan hanya ada, “Wah sibuk banget ya sampai baru pulang jam 10 malem karena lembur.” Tidak ada lagi fasilitas-fasilitas umum khusus untuk wanita karena wanita bukan masyarakat berkebutuhan khusus.

Alih-alih menempatkan wanita pada suatu kotak khusus yang naik strata, kesetaraan gender berarti menempatkan wanita dan pria pada satu kotak yang sama. Kesetaraan gender berarti wanita tidak menghadapi hambatan khusus dibandingkan rekan-rekan pria dalam mengembangkan potensi diri dan berkontribusi. Kesetaraan gender berarti evaluasi “fakta-fakta sosial”, baik oleh pria maupun wanita, mengenai tingkah laku dan ekspektasi. Kesetaraan gender berarti edukasi yang mengakar dan terbuka dari usia dini mengenai respect dan interaksi sosial yang tidak didasarkan dengan definisi jenis kelamin. Bukan “Jangan memukul perempuan” tapi “Jangan memukul”. Bukan “Kalau ada perempuan di kendaraan umum kasih tempat duduk” tapi “Kasih tempat duduk untuk yang membutuhkan”. Kesetaraan gender berarti komunitas tanpa stereotip terkait dengan jenis kelamin.

Saya tidak mau orang menganggap saya spesial karena saya punya 2 kromosom ‘X’. Saya tidak mau orang berusaha mengenal saya karena saya adalah seorang wanita, bukan karena saya adalah seorang manusia. Saya tidak mau mendapatkan perlakuan spesial karena saya adalah seorang wanita, bukan karena saya memang pantas mendapatkan perlakuan khusus oleh karena kebutuhan saya. Menjadi wanita bukan suatu disabilitas ataupun fenomena alam.

Menjadi wanita adalah menjadi manusia.

One Reply to “Menjadi wanita adalah menjadi manusia”

  1. setuju banger sama yg ini: “Kesetaraan gender berarti wanita tidak menghadapi hambatan khusus dibandingkan rekan-rekan pria dalam mengembangkan potensi diri dan berkontribusi. Kesetaraan gender berarti evaluasi “fakta-fakta sosial”, baik oleh pria maupun wanita, mengenai tingkah laku dan ekspektasi. Kesetaraan gender berarti edukasi yang mengakar dan terbuka dari usia dini mengenai respect dan interaksi sosial yang tidak didasarkan dengan definisi jenis kelamin … Kesetaraan gender berarti komunitas tanpa stereotip terkait dengan jenis kelamin.”

    kesetaraan gender, bagi saya, adalah kesetaraan kesempatan untuk menghidupi hidup sekeras-kerasnya upaya, sebaik-baiknya, sebisa-bisanya, sesuai dengan mimpi dan hasratnya sendiri, sebagai manusia seutuhnya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s