Rak Buku Kami, #1

Halo pembaca setia #kamiperempoean! Apa kabar? Di minggu yang baru ini, kami mau memberikan rekomendasi buku bacaan yang temanya seputar pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender. Buku-buku di bawah ada dari macam-macam genre, mulai dari biografi sampai fantasi. Dan tentunya, buku-buku ini sudah kami baca sendiri. Semoga kalian jadi tertarik membacanya juga yaa.. 🙂 Oiya, kalau kalian mau merekomendasikan buku untuk kami baca juga boleh lho, tinggal tulis di kolom komentar saja. Terima kasih dan selamat membaca! 🙂

***

perempuan2-penembus-batas-500x500.jpgPerempuan Penembus Batas | Bahasa Indonesia | Biografi

Buku ini adalah kumpulan biografi singkat dari 45 perempuan tangguh dari berbagai bidang yang usianya masih di bawah 45 tahun ketika buku ini diterbitkan. Dan yang membuat mimin sangat mengapresiasi buku ini adalah bahwa perempuan-perempuan yang ditampilkan di buku ini adalah mereka yang mungkin namanya hampir tidak pernah terdengar di khalayak ramai. Salah satu profil favorit mimin adalah Sheila Agatha, seorang perancang busana kelas dunia yang membuka bengkel jahitnya di Purbalingga, Jawa Tengah. Selain dari perjalanan hidupnya sendiri yang begitu menginspirasi, para pekerja di bengkel jahit Sheila ternyata adalah orang-orang tunawicara. Ada juga Hayu Dyah Patria dari Jawa Timur yang mendirikan Matasa, lembaga yang meneliti tanaman liar sebagai bahan pangan. Di samping keberhasilannya mengidentifikasi lebih dari 300 jenis tanaman, ia juga melakukan pendampingan bagi ibu-ibu rumah tangga di sebuah dusun di Jombang. Dan pendampingan ini pun terbukti bermanfaat karena ibu-ibu ini jadi bisa mengolah tanaman liar sebagai bahan makanan. Buat mimin sendiri, benang merah dari kisah singkat perempuan-perempuan ini adalah betapa mereka adalah pejuang yang tangguh. Bagaimana tidak tangguh? Begitu banyak halangan yang mereka hadapi, seperti misalnya orang lain yang mengatakan bahwa ide mereka tidak berguna, atau ketiadaan fasilitas dan skill. Tapi itu semua tidak membuat mereka menyerah. Selain itu, mereka bukan hanya berjuang demi kepentingan dan kekayaan pribadi. Mereka adalah pembela kalangan yang terbuang. Menginspirasi? Sangat!

***

Men Explain Things to Me | Bahasa Inggris | Kumpulan esai

Buku ini lebih dikenal khalayak ramai karena esai pertamanya, di mana si penulis mengisahkan pengalamannya dalam soal mansplaining. Tapi ada esai lain mengenai kesetaraan dalam hubungan pernikahan, judulnya In Praise of the Threat: What Marriage Equality Really Means. Sepanjang sejarah dunia barat, secara hukum, pernikahan membuat dua manusia (suami dan istri) menjadi satu entitas. Hal ini kemudian membuat suami menjadi seorang pemilik dan istri sebagai sebuah objek yang dimiliki. Ya ini lalu berarti sang istri tidak lagi punya hak apapun secara hukum. Boro-boro mencari keadilan dalam hal kekerasan dalam rumah tangga, harta warisan dari kedua orangtuanya pun akan otomatis menjadi milik suaminya. Di jaman ini (dan juga dalam konteks hukum Indonesia), situasinya memang tidak sesuram itu lagi. Tapi ini bukan berarti bahwa kita sudah mencapai titik ideal soal kesetaraan gender dalam pernikahan. Sebentar, sebentar, jangan protes dulu. Kesetaraan gender dalam pernikahan itu bukan melulu sesuatu yang asing dan ribet dan melanggar kitab suci kok. Buku ini memberikan sebuah contoh di mana peran suami dan istri sangatlah tidak setara dalam sebuah pernikahan. Seorang laki-laki kenalannya yang baru saja meninggal, pada saat ia muda mengambil tawaran pekerjaan yang mengharuskannya pindah ke sisi lain negaranya. Dan keputusan ini ia ambil tanpa berdiskusi dahulu dengan istrinya. Ia bahkan sama sekali tidak memberi tahu istrinya bahwa mereka akan pindah beribu kilometer jauhnya dari tempat mereka saat itu. Situasi ini tidak begitu asing kan di telinga kita? Inilah salah satu contoh ketidaksetaraan gender dalam pernikahan karena sang istri sama sekali tidak memiliki andil dalam keputusan hidup yang juga adalah hidupnya sendiri. Pernikahan adalah soal dua orang (dan lebih lagi ketika ada anak di dalam keluarga) dan bukan hanya soal sang suami.

***

The Handmaid’s Tale | Bahasa Inggris | Fiksi – Dystopia

Di akun Goodreads mimin, ada sebuah shelf yang namanya “what-the-f-did-I-just-read” dan shelf itu pertama kali mimin buat gara-gara buku ini. Tokoh utama di buku ini adalah seorang wanita bernama “Offred”. Offred hidup di Republik Gilead, sebuah rezim militer yang mengambil alih Amerika dan membatasi hak asasi manusia, terutama hak-hak wanita. Di masa ini, angka kelahiran berkurang jauh karena polusi dan penyakit menular seksual mengurangi fertilitas manusia. Sebagai usaha untuk menjaga tingkat populasi, terdapat kelompok wanita yang dipakai sebagai “mesin reproduksi” untuk kalangan masyarakat kelas atas. Kelompok ini dipanggil handmaid. Offred ditempatkan di rumah seorang komandan. Buku ini ditulis dari sudut pandang Offred. Seiring dengan berjalannya plot buku ini, Offred akan berbicara tentang sistem masyarakat di Gilead, masa lalunya, interaksinya dengan para handmaid dari keluarga lain, dan kehidupannya di rumah sang komandan bersama istri resminya, Serena Joy. Gaya penulisan buku ini membuat mimin merasa sedang berada dalam halusinasi atau fever dream seseorang. Hal-hal yang terjadi di dalam buku ini sulit dipercaya rasanya ketika dibaca di era saat ini. Tapi, kalau ditelaah lagi, sebenarnya kebanyakan kejadian-kejadian di dalam buku ini banyak diinspirasi dari kejadian-kejadian yang pernah terjadi dalam sejarah. Misalnya, di dalam buku ini wanita dilarang memiliki properti, pekerjaan, atau menjalankan bisnis. Hal ini mengingatkan pembaca kepada apa yang terjadi pada kaum Yahudi di Jerman saat Perang Dunia Kedua. Bahkan, di era modern ini ada beberapa negara di mana wanita tidak dapat melakukan banyak hal tanpa izin pria yang “memiliki”nya. Banyak hal-hal yang terjadi dalam buku ini mungkin terkenal absurd dan far-fetched, tetapi kalau direnung-renungkan ternyata bisa diambil pararelnya dengan kehidupan sehari-hari. Buat mimin, buku ini menjadi cautionary tale untuk mengingatkan kita untuk selalu mengevaluasi sistem masyarakat kita agar jangan sampai berakhir di situasi yang mungkin tidak sama persis, tetapi mirip dengan Gilead.

***

Throne of Glass | Bahasa Inggris | Fantasi – Seri bersambung

Tokoh utama dari seri ini adalah Celaena Sardothien, yang disebut-sebut sebagai pembunuh bayaran nomor satu di negeri Adarlan. Yang tidak disangka-sangka, dia ternyata adalah seorang perempuan yang masih berusia 18 tahun. Waktu mimin mau beli buku ini dan baca-baca review di internet, banyak yang ngeluh karena kok karakternya Celaena gak pas buat jadi pembunuh bayaran yang badass gitu. Jadi, Celaena itu tuh yang gampang naik darah, keras kepala, sombong, suka foya-foya beli barang-barang mahal, dan sifat-sifat lain yang ngeselin dan nyolot deh pokoknya. Tapi yah, dia kan remaja 18 tahun yang seumur hidupnya dikelilingi kekerasan, ya masa karakternya mau ngikutin stereotip perempuan tangguh yang kalem tapi dalem (?) dan menghanyutkan? Dan justru ini yang mimin suka banget dari seri ini. Tokoh utamanya, yang adalah perempuan (HOREEE!), karakternya gak stereotipikal. Tokoh-tokoh perempuan lainnya di seri ini juga karakter dan sifatnya macem-macem banget, sama seperti manusia regardless of gendernya sifatnya ya macem-macem. Karena ini lah makanya buat mimin pribadi, seri ini adalah angin segar. Gimana gak angin segar coba? Di acara tv ato novel kebanyakan, karakter cewek itu paling-paling ya antara manis-girly, imut tapi lemot, atau anak basket yang galak. Atau kalo di model-model sinetron tuh, either ibu tiri yang jahatnya gak habis pikir ato menantu yang dizolimi mulu tapi gak ngasih perlawanan sama sekali. Nah di seri ini ada Celaena yang pembunuh bayaran nomor satu tapi kok karakternya kayaknya gak cocok buat profesinya, ada Nehemia yang dari luar terlihat lembut dan bijaksana tapi sebenarnya penuh taktik, ada Manon Blackbeak yang dari luar terlihat seperti lady boss yang no mercy gitu tapi sebenarnya dia masih mencari tahu siapa dirinya sebenarnya, dan masih banyak tokoh lain yang karakternya sepertinya kontradiktif. Tapi kan manusia ya emang seperti itu, multidimensional 🙂

One Reply to “Rak Buku Kami, #1”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s