Tentang (sulitnya) menerima pujian

Belum lama ini, aku mendadak jadi suka sekali lipstik berwarna merah, sampai tidak sadar kalau aku sudah punya 4 buah lipstik merah yang sebenarnya merahnya gak beda-beda amat juga. Sebagai catatan, aku ini bukan orang yang suka pakai make up, jadi 4 buah lipstik merah itu luar biasa banyaknya. Suatu hari, aku berlipstik merah ke kantor dan salah satu kolegaku melihat ada yang berbeda dari penampilanku.

Dia: “Wah, bibirmu merah sekali hari ini. Cantik!”
Aku: “Oh, cuaca hari ini mendung sekali, jadi aku butuh sedikit warna biar hariku tidak terlalu suram.”

Responku terhadapnya siang itu mengganggu pikiranku, bahkan berhari-hari setelahnya. Aku jadi diingatkan kembali pada masalah yang ada dalam diriku sejak sejauh yang aku ingat, yaitu ketidakmampuanku untuk menerima pujian. Sesuatu yang kurasa bukan hanya masalahku seorang.

A: “Wah tumben hari ini pakai rok. Cantik lho!”
B: “Iya niih.. Celanaku lagi kotor semua, tinggal rok aja yang ada.”

Pembicaraan di atas terdengar familiar tidak? Kalian pernah juga ada dalam situasi seperti itu atau memberikan respon seperti si B? Kalau iya, mungkin kalian juga sama sepertiku, tidak bisa menerima pujian. Alih-alih berterima kasih atas pujian yang dilontarkan, kita malah merasa tidak nyaman dan lalu sibuk mencari justifikasi dari pujian tersebut. Tahu tidak? Ketidakmampuan menerima pujian ini sebenarnya problematik sekali. Kenapa?

Jauh di lubuk hati, sepertinya kita menganggap bahwa kita tidak pantas menerima pujian yang orang lain berikan. Untuk diriku sendiri, kurang percaya diri mungkin adalah karakteristik terakhir yang akan orang gunakan untuk mendeskripsikanku. Tapi, setiap kali aku mendapatkan pujian entah itu soal pekerjaan atau penampilanku, aku lalu merasa sangat tidak nyaman. Sejauh yang aku bisa ingat, pujian selalu menjadi beban buatku. Dan setelah kupikir-pikir lagi, mungkin ini karena aku tidak pernah merasa cukup baik. Bagaimana bisa ia menganggapku cantik kalau hidungku pesek, kulitku hitam, dan perutku buncit seperti ini?

Dengan berpikir bahwa kita tidak seperti pujian yang diberikan, tanpa sadar sebenarnya kita menganggap bahwa si pemberi pujian either sedang berbohong, tidak tulus dan ada maunya, atau memang seleranya saja yang buruk. Kesimpulannya kejauhan? Ah gak juga! Let’s say bahwa faktanya kita memang tidak cantik, lalu buat apa orang itu memuji kita cantik? Kan alasannya paling-paling ya satu di antara yang sudah disebutkan di atas. Jadi, dengan menolak pujian yang orang berikan, kita sebenarnya sudah menganggapnya sebagai seseorang yang tidak baik. Dan ini sesungguhnya menyinggung sekali bagi si pemberi pujian.

Tapi, selain masalah kepercayaan diri yang kemudian mempengaruhi bagaimana kita bersikap pada orang lain, masih ada alasan lain yang mungkin mengakibatkan ketidakmampuan kita untuk simply berterima kasih atas pujian dari orang lain. Dengan berkata terima kasih, kita berarti mengakui pujian yang diberikan sebagai sesuatu yang benar. Untukku sendiri, sejak kecil aku diajari untuk jadi orang yang rendah hati, bahwa kesombongan adalah sesuatu yang tidak baik. Nah, berterima kasih atas pujian orang itu seolah-olah mengatakan, “Iya, aku tahu kalau aku cantik,” dan aku tidak ingin dianggap sebagai orang yang sombong. Padahal sebenarnya tidak seperti itu.

Berterima kasih adalah respon yang paling benar atas pujian dari orang lainMungkin di dalam hati kita masih belum merasa pantas atas pujian yang diberikan pada kita. Tapi jika alternatif dari berterima kasih adalah menyinggung orang lain, sepertinya lebih baik kita berterima kasih saja dan menyimpan ketidakpercayaan diri kita bagi diri kita sendiri. Lagipula, siapa sih kita bisa-bisanya menghakimi bahwa judgment si pemberi pujian tidak benar? What if di matanya, kita benar-benar cantik, kompeten, dan pujian-pujian apapun itu? Bukankah kita justru semakin harus berterima kasih karena dia mau repot-repot mengingatkan kita kalau nilai kita ternyata lebih daripada apa yang kita pikirkan selama ini? Hey! Yang dia lakukan dengan memberikan pujian adalah mengapresiasi eksistensimu. Dan kurang dari kata “terima kasih” adalah respon yang sangat tidak pantas.

Berbulan-bulan sejak kolegaku memujiku saat aku memakai lipstik merah, aku masih terus belajar untuk berterima kasih. Sampai saat ini aku masih merasa harus merespon dengan alasan-alasan dan bukannya kata terima kasih. Dan tiap kali aku merespon dengan “terima kasih,” aku harus secara aktif mengingatkan diriku bahwa itu sudah cukup, bahwa tidak perlu ada kalimat-kalimat lain yang kuucapkan untuk merasionalkan pujian tadi. Ah, siapa sangka kalau ternyata ada kalanya kata terima kasih begitu sulit diucapkan?

 

 

Penulis

Haloo! Apa kabar? Ini mimin Hilda lagi nih yang nulis. Saat ini mimin masih meneliti dan berdomisili di Norwegia. Kegiatan mimin juga masih gitu-gitu aja, duduk di depan komputer. Walau sekarang mimin udah gak ngurus si kucing obesitas lagi 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s