1 sampai 10

“Di antara 1 sampai 10, nilai berapa yang kamu berikan kepada dirimu?” tanya seseorang kepadaku.

“Untuk hal apa?”

“Tentu untuk dirimu. Apa yang ada padamu, segala hal yang kamu punya, yang kamu capai, kemampuan yang kamu miliki, semua tentangmu. Berapa?”

“………,” aku diam sejenak, berpikir keras, banyak hal yang terlintas dalam pemikiran ini, namun aku tak bisa menjawab.

“Susah?” tanyanya kembali.

“Aku gak bisa memberikan nilai. bahkan angka 5 pun, tak berani kuberikan untuk diriku sendiri.”

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, mengalirlah pembicaraan yang benar-benar membuatku tersadar: manusia itu mampu menilai orang lain, bahkan dengan sangat gampang menghakimi. Namun, manusia mempunyai kesulitan dalam menilai diri sendiri, bahkan terkesan tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup alias minder. Sekarang aku tahu, kalau peribahasa “Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan nampak jelas” ternyata tak hanya berlaku untuk melihat kesalahan orang lain atau kesalahan diri sendiri saja, tapi berlaku juga dalam “penilaian” hal-hal baik untuk diri sendiri. Kita jauh lebih gampang memuji orang lain atau melihat nilai positif dalam diri orang lain, dibanding memuji diri kita sendiri.

Mengapa?

Saat mendengar jawaban terakhir, temanku ini menjawab:

“Kamu punya banyak hal yang bisa membuatmu memberikan nilai yang tinggi untuk dirimu sendiri.”

“Nggak, aku minus…,” dan aku tak mengeluarkan alasanku, mengapa aku mengeluarkan nilai minus untuk diriku sendiri. Miris ya… Terkesan aku tak punya sesuatu yang bisa kubanggakan…

Dia menyebutkan hal-hal yang sebenarnya sudah aku kalkulasikan di otak, ketika awal pertanyaan ini terlontar darinya.

“Banyak hal yang bisa membuatmu punya nilai yang baik… Kamu mampu menyelesaikan sekolahmu dengan baik, hingga master. Bekerja sambil sekolah, bukanlah hal yang gampang. Kamu punya kemampuan bersosialisasi yang tinggi. Kamu punya hati yang besar dan lemah lembut, bisa peduli dengan orang sekitarmu, mau memberikan waktumu untuk mereka, kamu cantik bahkan tanpa make up, bla bla bla…,” kalimatnya berisi pujian-pujian yang membuatku risih.

Aku hanya diam… Aku tahu semua penjelasannya benar, memang benar, dan aku tahu… Tapi mengapa aku tidak bisa memberikan nilai baik untuk diriku? Dan mengapa aku risih?

Karena di pemikiranku yang tak terlihat oleh temanku ini, semua kenegatifanku mencuat keluar, namun tak berani kukatakan kepada temanku. Aku memang menyelesaikan sekolahku dengan baik, tapi aku jobless saat ini. Aku punya kemampuan bersosialisasi tinggi, tapi aku tahu ada orang yang terang-terangan bilang aku terlalu eksis dan tak suka padaku. Punya hati yang besar, lemah lembut dan peduli dengan orang sekitar? Aku orang yang cukup moody-an, dan ketika mood-ku berantakan, aku tak peduli dengan sekitarku, bahkan terkesan bodo-amat dan membangun tembok Berlin dengan orang sekitar. Cantik? Well, fisikku jauh dari kata “normal” yang jadi standar di dunia. Bla bla bla. Untuk semua penilaian temanku ini, aku punya negasinya. Ini yang membuatku tak bisa memberikan nilai baik untuk diriku sendiri.

“Kamu kurang menghargai dirimu,” ujarnya singkat, namun menusuk.

Teman ini, yang baru saja memberikan nilai-nilai positif yang dia temukan dalam diriku, mampu memberikan 1 nilai negatif padaku. 1 nilai yang benar-benar membuatku tercengang, karena kalimatnya sangat mengena di hatiku.

Ya, pada saat itu aku sadar, susah memang melihat nilai baik dari diri sendiri. Karena semuanya langsung tertutup dengan segala kekuranganmu. Namun kalimat terakhirnya membuatku berjanji pada diriku, karena aku terus memikirkan kata-katanya…

“Kamu kurang menghargai dirimu,” kata-katanya berputar terus di kupingku.

Otakku terus memikirkan perkataanya, hingga aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang selama ini mungkin tidak pernah aku pikirkan…. Kalau bukan diriku yang menghargai diri sendiri, lantas siapa? Kalau aku tak menghargai diriku sendiri, bagaimana aku bisa menghargai orang lain? Aku saja tak bisa menghargai diriku sendiri, lantas mengapa aku bisa marah dan kesal ketika ada orang yang tak suka padaku? Mengapa mesti marah pada orang yang tak suka padaku, kalau pada akhirnya akupun memberikan nilai minus untuk diriku sendiri?

Sejak saat itu, aku berjanji untuk bisa belajar menghargai diriku sendiri, belajar untuk memberikan nilai yang baik untuk diri sendiri. Lantas bagaimana dengan hal-hal negatif yang aku punya? Aku tak akan menambahkan lagi nilai negatif itu ke dalam nilai diriku, tapi menjadikannya sebagai indikator. Indikator perbaikan agar nilai itu terus bertambah, bukan berkurang…. Karena hal-hal negatif itu bisa diperbaiki kalau aku mau, bukan terus dipupuk dan dijadikan “harga mati” dan digunakan untuk mengurangi nilai-nilai  yang pada dasarnya sudah baik.

Jadi, dari 1 sampai 10, berapakah nilai yang kalian sanggup berikan untuk diri kalian masing-masing?

 

Penulis

Carls, perempuan Batak tulen kelahiran Jakarta, yang punya hati kelewat sensitif. Kabur merantau ke Jerman setelah lulus SMA, dan sedang mencari-cari pekerjaan di Indonesia dan di Jerman dalam bidang Biotechnology (mungkin ada yang punya kenalan? :p)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s