Perempuan idaman di mata mereka

“Seperti apa sosok perempuan idaman di matamu?”

Saat pertanyaan ini tiba-tiba muncul dari salah seorang pengasuh KamiPerempoean, terbersit hal yang membuat saya penasaran tentang perspektif perempuan idaman dari orang-orang di sekitar saya. Tanpa membuang waktu, saya bereksperimen menanyakan hal ini ke beberapa teman sekantor, kolega di komunitas, satpam, sahabat yang tinggal di kota berbeda, sahabat yang juga pengusaha hingga nenek saya. Singkatnya saya mencoba secara acak mewawancarai singkat responden yang berbeda latar belakang okupansi, gender, dan usia yang berkisar dari 20 hingga 65 tahun.

Meski saya yakin bahwa hasil observasi mini ini kurang mampu merepresentasikan pandangan secara umum tentang perempuan idaman, tapi saya menemukan hal yang cukup menarik untuk dibagi. Hampir keseluruhan wanita yang saya wawancarai mengungkapkan bahwa perempuan idaman adalah sosok yang kuat secara mental maupun fisik, cerdas, mandiri, punya visi, berani, kreatif, serba-bisa yang juga lemah lembut, baik dalam bertutur, anggun dalam berperilaku. Di antaranya juga menambahkan kriteria wanita sebagai panutan yang berdasarkan agama. Saya pun sebagai wanita juga membayangkan jika sosok sempurna tersebut dapat diistilahkan sebagai wonder woman, yang ‘super’ dalam hampir segala hal, namun juga mampu menunaikan tugasnya sebagai ibu dan istri yang penuh kasih sayang. Sosok yang bagi saya jauh untuk diraih, belum mencapai jangkauan tangan mengingat betapa beratnya peran sebagai wanita di dalam keluarganya.

Lain halnya dengan responden pria, yang saya bagi ke dua kelompok besar. Dari jawaban yang saya dapatkan terlihat dua pola yang sangat berbeda berdasarkan umur dan status pernikahan. Seluruh responden yang belum menginjak jenjang pernikahan dan notabene berusia di bawah 30 tahun beropini bahwa perempuan idaman bagi mereka cenderung sederhana, yakni orang yang dapat menerima apa adanya, bisa merasa nyaman untuk bersama di dekatnya (seru, enak diajak ngobrol, humoris), jujur, dan cantik/ good looking. Bahkan ada juga yang berargumen, “Perempuan yang kadar bapernya tidak terlalu tinggi atau tidak terlalu banyak drama.” Jika dibandingkan dengan perspektif responden perempuan di paragraf sebelumnya, terlihat begitu tajam perbedaannya.

Sementara itu, sosok perempuan idaman melalui perspektif responden pria yang sudah menikah adalah wanita yang bisa mencintai seutuhnya, mau berkorban, dan bisa mengurus anak. Salah satu berpendapat bahwa mengurus anak adalah hal yang sangat sulit. “Cantik, pintar, tapi nggak bisa mengurus anak, ya nggak idaman. Itu menurut gue setelah berkeluarga dan punya anak,” tukas Teguh, seorang pegawai senior. Hal ini membuat saya berpikir, mungkin seiring bertambah waktu dan bertambah jauhnya perjalanan hidup seseorang, kriteria sosok wanita idaman dapat pula bergeser mengingat realitas dan level kehidupan yang berbeda.

Di antara keseluruhan, ada salah satu argumen yang menurut saya sangat unik. “Menurut gue, perempuan idaman gue bisa dilihat dari sejauh mana gue kenal sama diri gue sendiri,” ungkap Anthony, seorang entrepreneur. Menurutnya, wanita dikatakan idaman ketika dia bisa melengkapi dirinya. “Selama gue belum bener-bener kenal sama diri gue, gue ga bisa jawab sosok idaman gue seperti apa,” tambahnya. Sebagai contoh, dirinya adalah orang yang cenderung melihat hal atau permasalahan secara general. Meski hal tersebut banyak memberi sisi positif bagi dirinya dalam menyelesaikan masalah, namun ia seringkali melupakan hal-hal yang bersifat lebih detil. Oleh karena itu, salah satu kriteria sosok idaman bagi Anthony adalah wanita yang bisa melihat suatu hal dengan detil.

Selepas menyelami berbagai sudut pandang ini, saya bertanya pada diri saya sendiri. Sebetulnya untuk apa sih kita perlu tahu seperti apa sosok wanita idaman? Untuk apa kita perlu dapat mendefinisikannya? Menurut saya jawabannya sederhana. Bukan untuk menjadi ‘sempurna’, memiliki kekuatan ‘super’, atau apapun itu. Cukup menjadi pengingat bagi diri kita sebagai perempuan untuk tidak diam, terus berusaha menggunakan kemampuan kita agar menjadi versi terbaik dari diri sendiri untuk orang lain dalam hal yang baik.

Menarik?

Lalu, bagaimana sosok perempuan idaman menurutmu?

“The perfect woman, you see is a working-woman; not an idler; not a fine lady; but one who uses her hands and her heart for the good of others.” –Thomas Hardy

 

 

Penulis

Raissa. Bukan istrinya Hamish. Asli orang Jawa tapi karena tampang suka dikira keturunan Chinese. Terobsesi dengan handmade bar soap dan sedang mengejar cita-cita jadi aviationair transportation expert.

Catatan Kami Perempoean

Dengan dituliskan dan dipublikasikannya artikel ini, Kami Perempoean tidaklah bermaksud untuk mempromosikan kriteria atau standar tertentu bagi perempuan. Tujuan kami memberikan pertanyaan di atas (mengenai sosok perempuan idaman) pada dasarnya adalah untuk melihat seberapa jauh ekspektasi/tekanan yang diberikan kepada perempuan oleh masyarakat atau oleh perempuan itu sendiri. Dari artikel di atas, harapan kami adalah bagi para pembaca untuk kembali berpikir untuk dirinya sendiri. Apakah Anda kemudian membuat daftar kriteria perempuan idaman Anda sendiri, atau mungkin Anda malah berpikir bahwa membebankan ekspektasi terhadap orang lain adalah sesuatu yang absurd dan egois. Akan tetapi, kami sepaham dengan penulis dan Thomas Hardy, bahwa jika dilihat dari sisi diri kita sendiri, self-improvement adalah hal yang baik jika itu dipergunakan tidak hanya untuk kepentingan pribadi tapi juga orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s