Siapa bilang Teknik Elektro jurusan cowok?

Halo para pembaca! Kembali lagi dengan seri perempuan-perempuan Indonesia yang bergelut di bidang IPTEK. Seperti artikel sebelumnya tentang perempuan-perempuan yang bergelut di bidang teknologi informasi, kali ini kami akan ngobrol dengan beberapa perempuan yang bergelut di bidang Teknik Elektro. Kalau dari yang kami denger nih ya, ternyata Teknik Elektro perempuannya lebih langka dari IT! Mimin-mimin yang gak tau apa-apa tentang teknik elektro penasaran banget nih sama pengalaman para kontributor kita yang bergelut di bidang yang katanya “jurusan cowok” ini.

Kali ini, Kami Perempoean berkesempatan untuk ngobrol dengan 3 kontributor di bawah ini. Kenapa cuma 3? Ya habisnya yang lain gak ada yang ngejawab pas mimin email! 😛 (Note: bitter ya ini? xD)

Ai, Software developer di salah satu perusahaan vendor telekomunikasi
Gyna, Research student soon to be master student (hopefully) di Tokyo Institute of Technology. Bidang penelitiannya soal 3rd generation solar cell dengan material CIGS dan Perovskite.
Faya, Mahasiswa S2, yang nyambi jadi asisten peneliti buat power system analysis and control lab.


Dulu apa sih alasannya, kok bisa-bisanya kalian milih buat kuliah di jurusan Teknik Elektro?

Entah sejak kapan saya jatuh hati sama dunia power system. Kayanya sejak kelas 2 SMA deh,” kata Faya. “Dan juga didukung lingkungan, karena tumbuh di lingkungan yang kaya gitu.” Kalau Ai, dia memilih elektro karena suka matematika, yang kalau mimin perhatiin tuh sebenernya alasan banyak orang-orang untuk masuk teknik. Selain itu, Ai juga memilih Teknik Elektro ITB karena banyak mendengar review bagus. Sementara Gyna awalnya masuk teknik elektro karena pengen buat Iron Man 0_0. Mirip Ai, dia juga memilih teknik elektro karena suka Matematika dan Fisika. Selain itu dia bilang dia gak mau samaan sama kakaknya lagi, yang kuliah di jurusan IT.

Buat kalian, kerjaan yang sekarang nyambung gak sama yang dipelajarin pas kuliah?

Walaupun titelnya software developer (yang mestinya bidangnya para mimin), ternyata pekerjaan Ai saat ini lumayan nyambung sama apa yang dia pelajari ketika kuliah dulu. Soalnya, software yang dia kerjakan itu dipakai untuk pengolahan sinyal wireless, yang merupakan ilmu elektro dan khususnya teknik komunikasi. Buat Gyna, risetnya saat ini sebenernya masih nyambung dikit sama dasar-dasar yang dia pelajari di kuliah, seperti arus, tegangan, dan dasar teknik elektro. Tapi, sebenarnya di luar kelas-kelas dasar yang dia ambil, kelas-kelas lain yang dia pelajari pas jaman kuliah dulu, sekarang gak dibutuhin. Sebelum mulai jadi research assistant di Seoul Tech dan bergelut di bidang hybrid microgrid, Faya sempat kerja jadi technical assistant di sebuah perusahaan konsultan engineering. Saat dia kerja dulu, banyak hal-hal yang dia pelajari di kuliah yang bisa dia pakai di kerjaannya. Tapi, di tempat kerjanya itu dia butuh kemampuan managerial juga, yang sayangnya gak dipelajari di kuliah.

Ada nyeselnya gak kalian kuliah di bidang Teknik Elektro?

Buat Ai yang dulu kuliah di ITB dan boleh memilih antara Teknik Elektro dan Teknik Informatika setelah tahun pertama, sebenarnya ada sedikit penyesalan. “Setelah dipikir-pikir sebenernya saya lebih suka Informatika,” katanya. Gyna sama sekali gak ada penyesalan kuliah di bidang ini. “Soalnya seru, dan pilihan ke depannya banyak banget,” katanya. Menurut Gyna, bidang ini juga salah satu sumbu utama perkembangan teknologi yang punya impact ke kehidupan orang banyak. Faya kadang-kadang suka membayangkan dirinya kuliah di bidang lain, tapi gak berlama-lama. Faya sadar kalau ini jalan yang dia pilih dan dia gak akan menyesali pilihannya. Way to go, Faya!

Pelajaran paling berguna apa yang didapat dari kuliah?

Menurut Gyna, sepertinya bidang teknik dan sains terapan itu mengajarkan hal yang sama, kayak misalnya cara berpikir sistematis dan problem solving, gimana beradaptasi dalam situasi apapun, fleksibilitas terhadap perubahan, rasa percaya diri, presentasi, dll. Ai juga merasakan hal yang sama, yang buat dia terutama didapatkan dari pengalamannya saat mengerjakan Tugas Akhir alias skipsi.

Kuliah itu gak cuma tentang belajar, karena ada banyak hal lain yang juga penting yang bisa didapat selama kuliah. Walau Faya juga menekankan, “Tapi tetep lah jaga IPK lo wkwk..” Contoh hal penting ini misalnya seperti membangun koneksi dengan banyak orang, dan kalau kata Gyna, “Nanya kalau gak tau.” Hahaha.. Ini bener banget lho. Kalau gak tau, ya nanya dong, jangan didiemin aja. Kebodohan atau ketidaktahuan itu jangan dibiarkan begitu saja.

Selain pelajaran itu, ada hal-hal lain gak yang gak disangka-sangka didapat dari kuliah di jurusan ini?

Mimin baru tau dari Ai, kalau ternyata kuliah di Elektro butuh kemampuan coding yang oke juga! Berhubung skill itu gak intensif diajarkan di kuliah, jadi Ai harus pinter-pinter belajar sendiri. Wah, Ai berarti skill belajar sendirinya oke banget nih! Buktinya sekarang kerjanya jadi software developer! Buat Gyna, dia sama sekali gak nyangka bakal mempelajari bidang yang dia geluti sekarang ini. “Diawali dengan Iron Man, yang mungkin lebih ke arah kontrol, terdampar di ilmu yang nggak ada praktisinya (karena belom ada industrinya) di tanah air. Bahkan saat ini industrinya sebenernya kuat di Cina, dan negara-negara lain lebih fokus ke research and development,” katanya. Selain itu, sampai SMA, Gyna termasuk anak yang gak aktif di organisasi. Sementara waktu kuliah tiba-tiba banyak bidang yang bisa dicobain dan ketemu berbagai jenis orang dari berbagai latar belakang. Selama masa kuliah, Faya juga belajar beberapa hal tentang kehidupan. “Menemukan orang-orang yang bisa dipercaya adalah hal sulit, dan ketika lo menemukan orang itu, jangan dilepas, jangan hancurkan kepercayaan orang,” katanya.

Susah gak menurut kamu jadi perempuan di bidang ini?

Nah, ini nih yang bikin mimin penasaran banget. Apa iya kuliah di teknik elektro terus jadi susah gara-gara perempuan itu makhluk langka di sana? Ternyata gak juga lho. Mimin demen banget deh baca respon Ai, Gyna, sama Faya.

Nggak sih, biasa aja. Senior-senior elektro yang jago-jago juga banyak yang perempuan. Justru tantangannya adalah mengubah mindset bahwa elektro tuh bidangnya laki-laki. Kita harus bisa meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa perempuan juga bisa jadi engineer elektro yang sukses, karena secara skill emang nggak ada bedanya perempuan atau laki-laki.” —Ai

Kalau kuliahnya, gender ga menentukan kemampuan akademis sih ya. Walaupun entah kenapa mayoritas temen-temen selalu berekspektasi cewek-cewek lebih pinter karena minimal lebih sering nyatet dan lebih rapi catatannya -> NOT TRUE. Kalo buat prospek ke depannya, silakan cek di sini. Kalau secara personal, mungkin harus lebih terbuka aja dalam pergaulan. Kalau jaman SMA dulu selalu gaul sama cewek, kalau sekarang ya mesti berani gaul sama cowok. Kalau dulu jalan berdua cuma sama pacar, sekarang jalan berdua, nyambangin kosan cowok, itu mah biasa, apalagi kalo mau ujian ato lagi ngerjain laporan. Dan sebenernya, ada nilai positif bergender cewek di elektro. Biasanya bakal ada ‘Kelompok Cewek’ atau minimal kumpulan akhwat yang jumlahnya minim yang suka jalan bareng ato ngerujak.” —Gyna

Gak kok. Asal lo pintar menempatkan diri dan bergaul dengan banyak orang, dosen gak terkecuali. Tapi belajar juga yang rajin wkwk atur waktu dengan baik. Hmm.. Terus kan emang ya teknik itu mayoritas cowok, tapi jangan sampe itu menahan lo untuk mengembangkan diri. Ilmu itu gak liat mana cewek mana cowok kok.” —Faya

TUH KAN! Ilmu sama skill itu gak pilih kasih. Mau lo cowok ato cewek kek, semuanya itu bergantung sama jerih payah masing-masing. Tantangan memang ada, tapi mbak-mbak di atas bisa menemukan strategi buat mengakalinya kok..

Ada pesan gak buat temen-temen yang berpikir untuk kuliah di bidang ini?

Ketiga kontributor kita ngasih poin yang penting nih buat temen-temen yang berpikir untuk kuliah di bidang ini, “Jangan takut!”.

Jangan takut ambil Elektro, jurusan yang dicap ‘jurusan laki-laki’, toh pada akhirnya semua tergantung minat dan kerja keras kita selama kuliah. Berlaku juga buat laki-laki yang tertarik jurusan-jurusan yang traditionally mayoritas mahasiswanya perempuan – jangan takut :D” —Ai

Sementara itu, Gyna juga menambahkan pesan penting tentang gimana pasti ada mata kuliah yang gak kita sukai dan kita harus bisa terbuka dan gak membatasi diri, dan gimana image teknik elektro sebagai jurusan cowok itu sebenernya adalah stereotip yang salah!

It is not as scary as you thought. Semua orang bisa ambil Teknik Elektro as long as bener-bener tertarik, sehingga bisa enjoy. Bakal ada matakuliah-matakuliah yang kalian ga suka (Teknik Telekomunikasi, ew). Tapi itu pasti ada di semua jurusan. Teknik Elektro juga bukan jurusan cowok. Nggak semuanya manjat-manjat tiang listrik, nggak semuanya nyolder sampe rambutnya keriting. (In fact, nyolder butuh skill motorik halus yang, katanya, lebih advance di cewek). Kuliah di Elektro juga masih bisa nyalon dan kutek-an (seperti saya yang kutek-an di kelas Topik Khusus Tenaga Listrik). Just be open aja dan jangan membatasi diri.” —Gyna

Terakhir, Faya ngasih pesan penting buat temen-temen yang berminat untuk menggeluti Teknik Elektro, “Semangat!!!”  


Segitu dulu deh hasil ngobrol para mimin soal cewek-cewek kece yang bergelut di bidang Teknik Elektro! Honestly, mimin-mimin jadi terinspirasi dan bersemangat setelah ngobrol sama mereka. Semoga kalian juga mendapatkan manfaat yang sama dari mereka. Anyway, kalau kamu adalah perempuan yang berkecimpung di bidang IPTEK dan pengen ngobrol sama kami, jangan malu-malu yaa.. Langsung aja hubungi kami, bisa via kolom komentar, Twitter, atau halaman Hubungi Kami. Ditunggu lho 😀

2 Replies to “Siapa bilang Teknik Elektro jurusan cowok?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s