Menolak Diam #1: Bukan salah kami!

(Trigger warning: post ini mereferensi beberapa kasus kekerasan dan pelecehan seksual)

Beberapa minggu terakhir, media sosial ramai membicarakan kasus di mana beberapa aktris-aktris Hollywood membuka ke publik bahwa Harvey Weinstein, produser film terkemuka, pernah melecehkan mereka secara seksual. Berbagai tanggapan pun muncul dari publik, mulai dari yang mengecam keras, bersimpati, dan bahkan berbagi tentang pengalaman pelecehan seksual yang pernah mereka alami. Tapi, gak sedikit juga yang skeptis dengan pernyataan para aktris ini.

“Alaaah, paling cuma cari muka.”

“Ada yang satu yang ngomong baru pada ikut-ikutan ngomong. Caper.”

“Kalau udah kejadian dari lama, kenapa gak ngomong dari dulu ngomongnya?”

Pernyataan-pernyataan di atas sering banget didengar oleh wanita-wanita yang berbicara secara terbuka tentang pelecehan atau kekerasan seksual yang mereka alami. Serius deh, topik ini bisa jadi artikel sendiri di #kamiperempoean, saking mimin-mimin udah muaknya sama victim blaming yang kayak begini. Kalau kami gak ngomong, ditanya kenapa gak ngomong. Giliran kami ngomong, gak ada yang percaya. Masih bingung kenapa kami gak ngomong dari dulu? Malu sama IQ, bang.

“Ah itu kan di luar negeri, jauh banget, gak relatable.”

Mau berita lokal? Nih baca artikel ini, gimana Kapolri Tito Karnavian berbicara tentang korban pemerkosaan, tentang bagaimana mereka perlu ditanya apakah mereka merasa baik-baik saja usai diperkosa. Yah terserah lah, mau dibilang bahwa pernyataan itu dicomot dari konteks utuhnya atau bagaimana. How can someone have the heart to utter those words already disgust me so much.

Artikel ini menggambarkan gimana susahnya seorang wanita mau melaporkan kasus pelecehan dan kekerasan seksual ke pihak yang berwenang. Mimin ngerti kalau polisi harus melakukan penyelidikan dengan asas praduga tak bersalah, tapi kenapa sepertinya dalam kasus pelecehan seksual, wanita selalu otomatis berada di pihak yang salah? Kenapa kami selalu otomatis tidak dipercayai? Terus, kalau misalnya si orang itu benar-benar seorang korban, apakah pantas menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kepada seseorang yang baru saja mengalami trauma?

Pak Tito, saya gak peduli Bapak nganggep saya wanita jalang karena saya pakai celana di atas lutut atau minum bir. Saya punya hak sebagai warga negara yang harus dilindungi, dan tugas kesatuan Bapak seharusnya untuk mengayomi publik. Kalau saya melihat orang yang sedang tidak sadarkan diri, apakah tiba-tiba saya jadi berhak mengambil nyawa orang itu (“Salah sendiri gak sadar!!”)? Kenapa gara-gara saya pakai celana pendek, seseorang jadi berhak mengambil otoritas saya terhadap tubuh saya? Apakah publik Bapak cuma yang punya buah zakar saja? Apakah kami lalu hanya sekedar objek atau properti sehingga kami seperti tidak memiliki hak-hak selayaknya manusia? Apakah perlindungan hanya diberikan kepada kami ketika kami bisa membuktikan bahwa kami sudah berusaha melindungi vagina kami dengan cara-cara yang katanya akan menjauhkan kami dari kaum binatang pemerkosa? Seperti itukah? Then again, sebagai laki-laki kok Bapak terima sih laki-laki dianggap binatang yang gak bisa mengontrol dirinya sendiri?

Kenapa? Takut denger kata buah zakar sama vagina? Grow up.

Kaget kok tiba-tiba kami yang biasanya ngejayus kok sekarang kata-katanya tidak “sedap didengar”? Salam kenal. This is us, speaking up in anger and solidarity with our sisters. Kami menolak untuk diam.

One Reply to “Menolak Diam #1: Bukan salah kami!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s