Mansplainer: Orang sotoy berlagak altruis

Di artikel kali ini, kami mau ngomongin soal mansplaining dan ngasih tips dan trik supaya kamu gak jatuh ke kesalahan tersebut. Sebelumnya kami pernah ngerekomendasiin kumpulan esai Men Explain Things to Me & Other Essays oleh Rebecca Solnit di Rak Buku Kami #1. Tapi, di rekomendasi itu kami gak membahas esai yang justru paling terkenal dari buku itu, yaitu Men explain things to me. Di esai tersebut, walaupun gak persis menggunakan istilah mansplaining, Solnit merangkum istilah tersebut dengan:

“Men explain things to me, and to other women, whether or not they know what they’re talking about… It’s the presumption… that crushes young women into silence by indicating, the way harassment on the street does, that this is not their world.” -Rebecca Solnit

Terjemahan bebas: Kalau ada cowok yang ngejelasin tentang sesuatu ke saya atau ke cewek-cewek lain, padahal belom tentu mereka tau apa yang mereka omongin, kami nangkepnya seakan-akan asumsinya mereka lebih ngerti daripada kami. Padahal, sebenernya sih mereka sotoy aja. Kesotoyan mereka itu, sadar gak sadar, ditujukan untuk membuat kami diam, dengan mengindikasikan kalau topik pembicaraan tadi ada di luar dunia kami.

Di bawah ini ada kami cantumin dua penjelasan lain tentang apa itu mansplaining atau mansplainer.

“Explaining without regard to the fact that the explainee knows more than the explainer, often done by a man to a woman.”Lily Rothman

Terjemahan bebas: Menjelaskan kepada orang lain tanpa berpikir terlebih dahulu bahwa mungkin orang yang diberikan penjelasan justru tahu lebih banyak daripada si pemberi penjelasan, seringkali dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan.

“The supremely self-impressed dude who feels the need to explain to you — with the overly simplistic, patient tone of an elementary school teacher — really obvious shit you already knew.”Marin Cogan

Terjemahan bebas: Agan-agan yang mikir kalau dirinya luar biasa maha tahu dan merasa dia perlu ngejelasin sama kamu — dengan nada yang sabar kayak guru SD — hal-hal yang saking obviousnya kamu pasti udah tau.

Jadi gimana? Maksudnya, cowok gak boleh ngejelasin apa-apa lagi ke cewek? Cewek selalu benar? Giliran cowok mau ngoreksi cewek, salah gitu cuma gara-gara gendernya cowok? Ya gak gitu juga sih. Beda banget lho berpendapat secara sopan sama mansplaining.  Kalau kata Leia Garcia, editornya Lena Dunham,

If it’s a mistake, you can correct a mistake. But that’s not what mansplaining is. It’s mostly assuming people don’t know what they are talking about — and providing extra information that shows the man does — whether or not its relevant.” –Sumber

Terjemahan bebas: Kalau emang hal itu salah, gak ada masalah kok kalau kamu ngoreksi kesalahan itu. Tapi mansplaining itu bukan ngoreksi kesalahan. Mansplaining itu berasumsi kalau orang itu gak tau apa yang dia omongin dan ngasih informasi ekstra cuma untuk ngasih liat kalau si cowok tau apa yang dia omongin, tanpa peduli informasi itu relevan apa gak.

Biar gampang, mimin kasih satu contoh mansplaining yang baru mimin alamin deh.

Pada suatu hari mimin ngepos vlog dari seorang Youtuber yang mimin follow tentang tips and trick buat orang-orang yang suka gugup di acara networking. Di video itu, si Youtuber bilang, untuk ngetes apakah kita nyaman berada di tempat publik sendirian, mungkin kita bisa coba menantang diri kita untuk ke galeri seni sendirian tanpa megang handphone seharian. Nah, mengutip saran tersebut, mimin nulis di statusnya, “Wah mesti ke galeri seni nih kapan-kapan”. Eh, tiba-tiba ada satu kenalan mimin yang komentar di status tersebut. Di komentar itu, si mas ini ngasih link ke video tentang “fakta” bahwa fine art market itu sebenernya scam. Mimin bingung dong, kok gak nyambung sama videonya? Jelas-jelas si mas ini pasti belom nonton videonya. Pas mimin tegur, si mas ini ngotot udah nonton videonya dan mengklaim bahwa pergi ke galeri buat kenalan sama orang dan mengapresiasi karya seni kan bisa jalan bareng. Lha, mimin tambah bingung dong. Kan di videonya gak ada yang nyebut-nyebut pergi ke galeri buat kenalan sama orang? Pas ditegur lagi, si mas ini gak mau ngaku salah dan cuma bilang “ya gitu deh”.

Kira-kira, apa yang terjadi di contoh di atas? Mimin gak tau pasti sih soalnya mimin males juga nanya-nanya sama si mas (ntar dikasih link video tentang gimana cara bertanya yang baik dan bener pula, males banget). Kemungkinan pertama, si mas ini sebenernya emang belom nonton video ini dan sotoy aja, tapi malu gak mau ngaku. Kemungkinan kedua, si mas ini sebenernya udah nonton tapi gak peduli dan emang mau sotoy aja. Kesimpulannya sih satu: SOTOY. Mimin gak tau tujuannya apa ngomen dengan video itu (fine art market itu scam), tapi buat mimin ini seakan-akan mengatakan “Gue gak peduli lo mau ngomongin apa, gue gak peduli pendapat lo apa. Gue gak peduli poin lo bener apa gak, gue gak peduli pendapat gue relevan apa gak. Yang penting, gue mau nunjukin gue lebih tau daripada lo”.

Jadi, gimana dong biar kita gak terperangkap sama jebakan mansplaining? Menurut mimin, sebenernya gak susah sih, tapi emang butuh usaha.

  1. Cari tau latar belakang orang yang mau kamu “koreksi”

Misalnya ada cewek yang lagi ngomongin tentang perbedaan sistem ekonomi di Indonesia dan Malaysia. Sebelom kamu buru-buru berbagi fakta sama cewek ini, mungkin sebaiknya cari tau dulu apa latar belakang dia. Apakah cewek ini peneliti ekonomi terkemuka dari World Bank? Atau jangan-jangan dia tangan kanan Bu Sri Mulyani? ATAU JANGAN-JANGAN DIA BU SRI MULYANI??? Kalau iya sih, mendingan kamu gak usah bikin malu diri sendiri deh. Kalau masih mau komentar, sebaiknya kamu ngomongnya dengan sopan dan gak langsung sotoy.

  1. Yakinkan kamu udah bener-bener ngerti hal yang dibahas sama orang ini

Jangan kaya si mas tadi, videonya ngomong apa komentarnya apa. Atau kalau ada cewek yang lagi ngebahas sejarah ninja di Jepang, jangan kamu tiba-tiba nimbrung dengan sejarah ninja ala Naruto. Kan berabe.

  1. Cek lagi kira-kira argumen kamu masuk akal apa gak? Bermanfaat untuk diskusi yang lagi berlangsung apa gak?

Kalau kamu udah ngerti bener-bener masalah yang lagi dibahas, coba kamu selidiki lagi argumen yang mau kasih ke orang ini kira-kira masuk akal apa gak. Bukan berarti argumen kamu mesti sempurna, tapi jangan bego-bego banget lah. Selain itu, mungkin bisa dipikir lagi, kira-kira argumen kamu berguna gak untuk diskusi yang sedang berlangsung? Kalau komentar kamu ke diskusi tentang kondisi politik Indonesia saat ini cuma “pertamax!!!” atau “gue sih gak peduli sama politik, yang penting iman dan taqwa”, mendingan kamu matiin komputer aja deh terus keluar rumah cari es kelapa muda biar kamu adem dikit.

  1. Coba introspeksi dikiiiittt aja. Tujuan kamu “ngoreksi” tuh apa sih?

Ada cewek yang lagi kamu demenin dan kamu pengen dia kagum sama kamu gitu? Atau mungkin kamu pengen ngebuktiin kalo kamu pinter? Enggak? Ah masa sih.. Yakiiinnn?

  1. Usahakan komentar kamu sopan dan menghargai intelektualitas orang yang kamu komentari

Sebenernya gak susah sih, pikir-pikir aja, kira-kira kamu mau gak diperlakukan kaya gitu? Dalam berdiskusi, ada etika yang mesti diikutin. Kalaupun menurut kamu orang itu salah, sebaiknya ya kamu ngoreksinya jangan kasar juga lah. Jangan dikit-dikit, “duh goblok banget sih“, atau “ah dasar cewek, gini aja gak ngerti“, atau “dasar SJW“. Kamu gak mau kan digituin? Ya udah jangan gituin orang. Kalau kamu gak kurang ajar duluan, kami juga dengan senang hati kok berdiskusi sama kamu.

Pada merhatiin gak, sebenernya poin-poin yang di atas itu berguna buat diskusi sama semua orang, bukan cewek doang. Iya emang bener, sebenernya cewek tuh minta diperlakukan sebagai manusia yang setara sama cowok aja sih. Seperti yang udah dibilang di atas, yang ngeselin dari mansplaining itu adalah fakta bahwa si mansplainer ini seakan-akan berasumsi bahwa karena kami cewek, pendapat kami jadi lebih rendah daripada pendapat mereka.

Akhir kata, buat para cewek, sebenernya gak gampang juga untuk membedakan apakah kamu lagi apes ketemu sama mansplainer ato emang si orang ybs itu emang tulus bener-bener pengen ngejelasin. Butuh sedikit pengalaman dan kejelian juga untuk bisa mendeteksi mansplainer. Tapi ini bakalan kita bahas di artikel lain sih, biar gak kepanjangan artikelnya gan 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s