Yuk, berani angkat bicara!

Cowok 1: “Gila, si Cewek A tadi pagi ngeselin banget! Gue ngerjain apa aja kayaknya salah.”
Cowok 2: “Iya, tadi gue juga lagi ngobrol terus pas kita ketawa-ketawa dia melototin kita!”
Cowok 3: “Ah biasa, cewek. Mungkin dia lagi dapet kali!”
Satu meja: *ketawa*
Cewek B: *screaming internally* *pengen jambak orang*

Familiar dengan perasaan kayak gitu? Mimin sih familiar banget soalnya mayoritas kolega mimin juga cowok. Saking biasanya mengalami lelucon-lelucon seksis macam itu, sering kali mimin jadi ngebiarin aja hal itu berlalu. Tapi apakah pembiaran itu hal yang benar untuk dilakukan? Well, nope. Mimin-mimin percaya bahwa ini sudah waktunya kita mulai protes ketika lelucon gak lucu atau komentar gak enak seperti di atas dilontarkan. Dan karena ini juga lah di artikel minggu kemarin, kami nge-release mixtape kedua dalam seri “Menolak Diam.”

Kenapa kita mesti angkat bicara?

Emang sih, sebenernya tuh kalau kita diem aja tuh lebih nyaman. Gak usah konfrontasi orang, gak dianggap gak kewl sama orang-orang, dan gak membahayakan diri sendiri. Intinya, gak ngomong apa-apa tuh sebenernya adalah the easy way out. Tapi, mimin sih lama-lama gondok juga. Pertama, ketika mereka komentar atau bikin lelucon kayak gitu tentang cewek, sebenernya mereka tuh gak sadar kalau… kamu juga cewek? Dan kalau dipikir-pikir, sebenernya bisa aja suatu saat kamu ngelakuin hal yang sama dengan Cewek A untuk alasan apapun, dan mereka… bakal ngomongin kamu juga! Kalau kamu bayangin diri kamu di posisi yang sama dengan cewek A, kamu pasti berharap ada orang yang belain kamu, iya gak sih? Tapi, kalaupun misalnya kamu mengkonfrontasi mereka dengan bilang bahwa kamu juga cewek dan bahwa mereka sebenernya lagi ngomongin kamu juga, bisa aja mereka malah bilang ke kamu, “Ah kamu sih beda, kamu kan cewek pinter!” Dalam situasi seperti itu, jangan ngerasa senang. Kenapa? Well, kalau kamu gak ngerti kenapa tanggepan ini problematik, kamu bisa liat artikel kami soal “gak kayak cewek-cewek lain” dan adu domba perempuan di layar lebar.

Alasan kedua sih gampang aja: Soalnya lelucon kayak gitu tuh biasanya mengandung kebenaran. Mungkin kalau kamu konfrontasi, mereka bakal bilang “Ah itu kan bercanda, serius banget sih.” Tapi kalau dipikir-pikir, sebenernya bercandaan kayak gitu tuh nunjukin banget gimana cewek dipandang sama orang-orang dan bisa berakhir ke kesimpulan yang gak enak. Misalnya nih, pandangan bahwa cewek itu mahluk emosional yang lebih mengandalkan emosi daripada logika. Apalagi kalau lagi dapet, widih, ilang deh tuh semua rasionalitas. Nah alur selanjutnya dari pandangan itu adalah: karena cewek setiap sebulan ilang rasionalitasnya, makanya cewek gak cocok jadi pemimpin. Uh, wait, what? Ya gitu deh kira-kira. Dari hal-hal yang kecil kayak “lelucon” bisa memicu hal-hal yang besar.

Kenapa angkat bicara itu susah?

Mimin-mimin terus terang memang orang-orang yang lumayan vokal. Tapi itu bukan berarti kalau menegur ketika seseorang melontarkan lelucon atau komentar seksis adalah hal yang gampang atau natural aja buat kami. Sama sekali enggak. Jangankan angkat bicara langsung terhadap orang yang bersangkutan, pas kami baru mulai bikin blog ini aja, deg-degannya setengah mati. Yang takut salah dan gak sempurna dalam semua argumen kami lah, takut menyinggung orang lah, takut dibilang feminis radikal gak pake beha lah…. Macem-macem deh sebenarnya ketakutan kami. Walaupun pada akhirnya kami memilih buat angkat bicara, ketidaknyamanan itu sebenernya gak ilang juga walaupun agak berkurang karena udah biasa.

  • Argumen dianggap sebagai serangan ke individu

Pada dasarnya, kecuali kamu orang yang doyan banget nyari ribut atau udah diajarin gimana cara berargumen dari kecil, negor orang lain tuh sebenernya hal yang gak nyaman banget. Mimin ngerasa, kita tuh sebenernya gak pernah diajarin cara berargumen yang baik dan bagaimana nunjukin kesalahan orang. Seringkali di masyarakat kita (dan di masyarakat-masyarakat lain juga), berargumen dan nunjukin kalau seseorang itu salah itu dianggep sebagai personal attack. Kalau kamu berani bilang ide seseorang itu salah, seakan-akan tuh kamu bilang kalau kamu benci sama orang itu. Padahal kan gak gitu juga. Mungkin kamu pernah berdebat sama orang tua kamu karena kamu gak setuju sama pendapat mereka. Apakah itu berarti kamu nganggep mereka orang tua yang buruk? Kan gak juga.

Kalau kata orang, disagree with the idea, not the person. Tapi karena ada anggapan kayak begini, akhirnya kita jadi ngerasa gak nyaman dan takut untuk negor orang lain, apalagi kalau kita gak terlalu deket sama orang itu.

  • Cewek mesti submisif

Lebih dari itu, secara khusus buat para cewek, kita tuh dari kecil udah diajarin dan dikondisikan kalau cewek itu mesti lemah lembut, bicaranya manis, dan gak konfrontasional. Kalau ada cewek yang outspoken dan gak takut menyuarakan pendapatnya, masyarakat biasanya bakal ngecap kalau cewek itu kasar dan gak tau malu. “Nanti gak ada yang mau,” kata orang. “Jadi cewek jangan banyak bawel, ntar cowok takut.” Omongan-omongan kayak gini nih menuntut cewek jadi mahluk yang submisif yang diem aja walaupun mereka gak setuju sama sesuatu, atau at least gak ngomong di depan orangnya.

Padahal, gondok gak sih kalau pendapat dipendam-pendam? Cewek kan manusia sama kayak cowok. Kenapa cowok punya hak menyuarakan pendapatnya tapi cewek gak boleh? Kalau inget pelajaran PPKN jaman dulu, ada pasal dalam UUD 1945 yang menjamin kebebasan warga negara untuk berpendapat. Di pasal 28E,

(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Cewek sama cowok kan sama-sama warga negara yang haknya sama-sama dijamin dalam konstitusi. Terus kenapa cowok boleh berpendapat secara bebas sementara cewek dipandang dengan muka asem kalau berpendapat?

  • Terlalu sensitif?

Kadang-kadang, angkat bicara itu juga susah banget karena kita sering meragukan diri sendiri. Pernah gak sih mikir, “Ah jangan-jangan gue sensi doang”? Atau, “Jangan-jangan itu cuma perasaan gue doang”? Ada bagusnya sih kalau kita berpikir dua kali sebelom mengkonfrontasi orang. Tapi, kalau misalnya kamu ngerasa kalau kamu bukan orang yang biasanya gampang banget tersinggung dan kamu ngerasa ada yang salah, berarti jangan-jangan emang ada yang salah. Apalagi kalau misalnya bukan cuma kamu doang yang gak ngerasa nyaman sama omongan atau perilaku itu.

Bisa juga dilihat, komentar atau perilakunya itu spesifik sama seseorang atau cenderung menggeneralisasi? Kalau kamu ngerasa itu generalisasi, apalagi generalisasi yang kamu rasa salah, berarti ada yang salah sama komentar itu. Secara khusus soal bercandaan, bercandaan itu harus lucu buat yang bikin bercandaan sama yang diajak bercanda. Kalau kamu ngerasa gak lucu, apalagi ngerasa tersinggung, ya bercandaannya gagal. Lucu kan gak bisa dipaksain. Kalau ada komedian lagi ngelawak, terus gak ada yang ketawa, masa terus dia mau maksa penontonnya untuk ketawa?

Mendapatkan keberanian buat angkat bicara

Nah akhirnya kalau kita liat-liat lagi, sebenernya dengan menuruti ketakutan kita buat angkat bicara itu, bisa dikatakan kalau kita membiarkan diri kita ada di dalam “penjara.” Dan justru dengan mengutarakan ketidaksetujuan kita, mudah-mudahan kita malah akan belajar jadi orang dewasa yang lebih baik dalam berpendapat. Lagian ya, masa sih kamu gak ngerasa ada yang salah dengan ekspektasi masyarakat tentang gimana cewek itu harus diam terus dan nurut-nurut aja? Memangnya kamu manusia yang gak punya pendapat dan gak bisa berpikir untuk dirinya sendiri?

Tapi, iya, mimin-mimin juga tau banget kalau setelah ngebaca semua informasi dan argumen di atas, bukan lalu berarti kamu langsung dapet kekuatan bulan (?) dan mendadak jadi pemberani yang akan menghukummu! gak akan urung dari angkat bicara. “Terus gimana dong miiin?Well, pertama-tama sebenarnya kamu memang harus membiasakan diri. Memang, biasa bukan berarti lalu menghilangkan semua ketakutan. Tapi, dengan membiasakan diri buat angkat bicara selain kita akan mendapat keberanian sedikit demi sedikit, kita juga semakin terlatih untuk bagaimana melakukannya dengan lebih baik. Setahun yang lalu, kalau mimin-mimin mempublikasi artikel yang isinya opini banget kayak gini, mimin-mimin bisa gak tidur semaleman dan besoknya gak konsen sama kerjaan. Sekarang sih, bodo amat. Dan at the end of the day, percaya deh, kamu akan dapet skill yang guna buat pekerjaan atau hidup sehari-hari kamu. Mimin-mimin berasa banget kalau pengalaman angkat bicara di Kami Perempoean tuh membuat kami lebih asertif di tempat kerja.

Kalau keengganan kamu untuk berbicara lebih banyak didasari pada ketakutan untuk dianggap “sensian” atau “lebay” atau “terlalu serius”, alasan kamu untuk berbicara justru sebenarnya semakin besar. Hal yang membuat kamu tidak enak atau bahkan tersinggung itu gak boleh dibiarkan begitu saja. Justru kamu harus nunjukin kalau apa yang dikatakan itu membuat kamu tersinggung. Karena seringkali orang tuh gak bermaksud jahat ketika melontarkan komentar yang tidak sensitif, mereka cuma gak tau aja. Mungkin dengan sekali ini kamu menunjukkan ketidaksetujuan atau ketersinggungan kamu dengan cara yang sopan, lain kali mereka akan berpikir dua kali sebelum melontarkan komentar yang sama. Dan, mudah-mudahan, mereka juga akan jadi orang yang lebih berempati.

Kamu gak bisa menyelesaikan semua masalah dan menyelematkan semua orang, tapi ikut angkat bicara itu penting

Akhir kata, angkat bicara itu penting banget untuk dilakukan. Tapi, kadang-kadang, kita juga mesti belajar memilah-milah tergantung sikon. Kalo kata orang Inggris, you need to pick your battle. Misalnya, kalau kamu lagi ada di gang yang gelap, daripada negor orang itu, mungkin mendingan kamu diem aja. Kecuali mungkin kamu bisa silat atau kamu Sailor Moon. Karena, suka gak suka, keselamatan kamu itu prioritas utama. Kadang juga mungkin ada situasi di mana sebenernya udah gak ada lagi gunanya kamu ngomong. Si orang ybs udah hopeless aja, dan mendingan kamu irit oksigen daripada negor dia untuk yang keseribu kalinya. Dalam situasi kayak gitu, mimin-mimin setuju, kamu mendingan diem aja tapi mungkin bisa sambil pasang ekspresi gak enak. Kan siapa tau si orang itu bisa sadar aja gitu. Siapa tau aja kan. Atau, kayak yang mimin lakukan beberapa hari lalu di situasi yang mirip, mimin tinggalin aja si orang ybs. Iya, mimin melenggang pergi aja gak pake pamit saking udah gak tahannya denger ybs bacot.

Kadang-kadang, walaupun kamu gak bisa mengubah si orang ybs, bukan berarti usaha kamu untuk angkat bicara itu sia-sia. Dengan kamu berani berbicara, orang-orang yang mungkin juga merasa gak enak dalam situasi tersebut bisa mendapat kelegaan dan validasi atas ketidaknyamanan mereka. Kalau kamu lagi meragukan diri sendiri dan menganggap diri kamu lebay, terus kemudian ada orang yang melontarkan hal yang sama yang ada di pikiran kamu, kamu pasti ngerasa sedikit lebih nyaman, iya gak sih? Kalau kamu bisa membantu satu orang aja, usaha kamu gak sia-sia. Gak usah nunggu orang lain untuk berbicara. Kalau bukan kamu yang berbicara, siapa lagi? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s