Rak Buku Kami, #3

Selamat hari Senin! Hari ini #kamiperempoean ngasih rekomendasi buku yang ketiga nih. Kamu udah baca buku-buku yang kami rekomendasikan sebelumnya kah? Kalaupun belom, semoga paling gak udah masuk daftar to-read yah.. Hehe 😀 Oiya, sebelumnya mimin-mimin mau minta maaf nih. Kami sebenernya berusaha banget supaya buku yang kami rekomendasikan seberagam mungkin, cuma kali ini lebih didominasi sama nonfiksi, dan semua bukunya cuma tersedia dalam Bahasa Inggris. Maklum, mimin-mimin udah lama gak pulkam jadi stok buku berbahasa Indonesia-nya udah abis. Oiya, kalau kamu pengen ngerekomendasiin buku yang bertema feminisme atau kesetaraan gender, boleh banget lho. Tinggal mampir aja ke laman Hubungi Kami. Yaudah yuk, sekarang langsung aja ke rekomendasi buku di bawah. Dan sampai ketemu lagi minggu depan! 😀

***

31423180[1]

Shrill: Notes by a Loud Woman | Bahasa Inggris | Memoir / Otobiografi

Lindy West gak kayak “perempuan-perempuan lain”. Kalau orang ngebayangin perempuan ideal, Lindy West bukan gambar yang mereka bayangkan. Dia gemuk, berisik, dan gak takut menyuarakan pendapatnya dia. Mimin harus ngaku, awalnya mimin agak-agak merinding baca buku ini karena kebanyakan curse words-nya, tapi setelah satu bab, mimin gak bisa berhenti baca buku ini. This book is raw, Lindy gak ragu-ragu ngasih liat sisi vulnerable-nya dan mengemukakan pergumulan dia dengan berbagai hal, mulai dari insecurity-nya dia tentang tubuhnya, relationship, sampai pengalaman dia harus aborsi. Dari Lindy, mimin belajar hal-hal baru tentang orang-orang “plus size” dan harus mengkonfrontasi prejudice yang mimin punya. Selain seorang penulis, Lindy ini juga aktif di dunia komedi. Di salah satu bagian buku ini, dibahas juga kalau “bercandaan” itu ada batasnya dan ada hal-hal yang gak sepantasnya dibercandain, seperti misalnya kasus perkosaan atau misogini.

Yang buat mimin ngena banget dari buku ini adalah keliatan banget kalau Lindy ini orangnya baiiik dan sangat thoughtful. Dia berjuang buat hak-hak orang lain, karena dia pernah (dan masih) ngerasain gimana gak enaknya berada di kelompok orang yang dikucilkan. Dia gak takut untuk memakai fasilitas yang dia punya untuk berbicara, walaupun efeknya kadang-kadang dia diejek, diancam, dan generally di-harrass sama para troll di internet. Mimin mungkin gak pernah denger tentang Lindy West sebelum baca buku ini, tapi mimin sekarang fans beratnya dia.

***

9780399591013

Reset: My Fight for Inclusion and Lasting Change | Bahasa Inggris | Memoir / Otobiografi

Di buku ini, Ellen Pao bercerita tentang perjalanan karirnya di Sillicon Valley dan pengalaman-pengalaman diskriminasi yang dialaminya karena gendernya. Pengalaman ini akhirnya membawa Pao untuk menuntut kantornya, firma venture capital Kleiner Perkins, dalam sebuah gugatan yang sangat publik tahun 2012 lalu. Walaupun pada akhirnya Pao kalah dalam gugatan itu, tapi gugatan dia banyak dikredit orang sebagai titik awal orang-orang mulai sadar dan berani berbicara tentang diskriminasi gender di Sillicon Valley dan industri tech secara umum.

Mimin baca buku ini serius terbengong-bengong. Sebagai orang yang bekerja di bidang IT, mimin termasuk beruntung punya kolega-kolega yang “waras”. Memang sih, kadang-kadang ada komentar atau perlakuan yang bisa dianggep seksis, tapi bener-bener gak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan yang dialami sama Pao. Kalau kamu baca buku ini, mungkin kamu bakal ngerasa panas dingin pas baca tentang perilaku-perilaku pada kolega Pao terhadap dia, dan fitnah-fitnah yang dilontarkan ke media oleh kantornya ketika mereka digugat. Mimin kesel banget dia gak menang gugatannya, tapi mimin suka banget salah satu alasan yang memicu Pao untuk tetep maju walaupun dia dan keluarganya difitnah sana-sini. Pao sadar kalau dia punya privilege sebagai orang yang berpendidikan, cukup terkemuka di industri, dan punya cukup uang untuk membayar ongkos dan kerugian yang terjadi sebagai imbas gugatan ini. Dia sadar kalau banyak cewek lain yang mengalami hal yang sama tapi gak bisa ngomong apa-apa karena gak punya privilege dan security yang dia punya. “If not me, then who?“, tanya Pao pada dirinya. Buat mimin, ini sebuah contoh yang inspirational banget tentang berani angkat bicara.

Sekarang, Pao aktif di lembaga non-profit yang memberi konsultasi tentang keberagaman yang dia dirikan bersama wanita-wanita lain, Project Include. Awal dari lembaga ini diceritakan di buku ini, dan ini ngasih contoh yang baik tentang gimana wanita bisa bekerja bersama-sama untuk kebaikan bersama dan gak saling menjatuhkan.

***

11550640[1]

Maskerade | Bahasa Inggris | Fantasi

Kalo kamu penggemar fantasi dan belom pernah baca seri Discworld-nya Terry Pratchett, duh, buruan mulai atuh. Maskerade ini adalah buku ke-5 di sub-seri Witches, dan ke-18 di keseluruhan seri Discworld. Seperti biasa, Terry Pratchett gak pernah gagal bikin mimin ketawa. Di keseluruhan seri Witches, ada Granny Weatherwax yang keras kepala dan witty dan Nanny Ogg. Nanny Ogg itu, singkatnya, matriarch. Saking banyaknya anak dan cucunya, keluarga dia tuh satu kampung! Dan si Nanny itu kayak ketua sukunya, dan gak ada yang bisa menentang dia.

Selain soal 2 witches yang selalu jadi tokoh utama di sub-seri Witches, di buku Maskerade ini, ada satu tokoh utama lain: Agnes Nitt. Nah buku ini jadi bacaan yang relevan buat para feminis karena keberadaan Agnes Nitt. Agnes ini sebenernya satu kampung sama Granny dan Nanny, dari Lancre. Tapi trus dia mengadu nasib ke Ankh Morpork buat jadi penyanyi opera. Berhubung dia gak ada koneksi, dan dia pun belajar nyanyi awalnya dari Nanny Ogg, dia mesti memulai karirnya dari nol. Dan walau ini diceritain secara singkat, Agnes awalnya bisa hidup di Ankh Morpork dengan (kalo jaman sekarang) jadi penyanyi kafe. Eventually sih dia akhirnya bisa jadi penyanyi di Opera Ankh Morpork (Tenang, ini bukan spoiler kok). Inti cerita Maskerade sebenernya bukan soal Agnes Nitt, tapi mimin gak mau spoiler ah soal ini. Tapi buku Terry Pratchett bukan buku Terry Pratchett kalo gak nyentuh-nyentuh masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Dan lewat Agnes Nitt, kita bisa ngeliat soal isu citra tubuh perempuan di dunia hiburan. Basically, walaupun si Agnes Nitt itu suara dan skill nyanyinya bagus banget, dia gak diijinin jadi peran utama di drama opera apapun. Yang ada dia malah jadi ghost singer buat “penyanyi” lain yang gak bisa nyanyi tapi cakep dan kurus. Iya, Agnes itu digambarkan sebagai perempuan yang gemuk. Trus hal yang bikin mimin ngerasa gak adil adalah gimana orang-orang di opera itu gak mengenal Agnes despite her amazing talent, dan cuma mendeskripsikan Agnes sebagai orang dengan great hair and great personality. Dan ini semua karena mereka gak bisa ngeliat Agnes lebih dari penampilan fisiknya. Dan logikanya, orang kalo fisiknya gak cakep, pasti kepribadiannya cakep. Baca deh bukunya, kocak banget, tapi di saat yang sama kita juga diajak berpikir kritis buat hal-hal relevan kayak kasus si Agnes Nitt ini.

***

512uStTrWqL._SX362_BO1,204,203,200_[1]We Should All Be Feminists | Bahasa Inggris | Essay

Buku ini tipis BANGET. Kalo kamu punya akses ke buku ini, kebangetan deh kalo gak ngebaca. Buku ini dikembangin dari TED talk-nya Chimamanda yang bisa kamu liat di sini, dan nyeritain dan ngejelasin bahwa kata “feminis” bukanlah sesuatu yang jahat, yang mungkin bisa diliat sebagai sama dengan “pendukung terorisme”. Dia nyeritain gimana waktu dia kecil, gurunya ngasih kuis di mana murid dengan nilai paling tinggi bakalan jadi semacam ketua kelas gitu. Tapi akhirnya, walau Chimamanda dapet nilai paling tinggi, dia akhirnya gak jadi ketua kelas. Kenapa? Karena dia cewek. Dan yang jadi ketua kelas justru si cowok yang nilainya di bawah dia. Dia juga nyeritain gimana waktu dia udah dewasa nih, dia lagi jalan sama temennya, dan lalu ngasih tip ke tukang parkir. Tapi kemudian tukang parkir ini berterima kasih ke temennya si Chimamanda, yang adalah cowok, bukannya ke Chimamanda. Kenapa? Karena di masyarakat mereka, ada asumsi bahwa laki-laki lah yang nyari dan punya uang. Dan semua uang yang dateng dari perempuan, ujung-ujungnya pasti dikasih sama laki-laki (a.k.a suaminya). Buku ini juga nyentuh topik di mana perempuan itu gak bisa terlalu sukses, takutnya nanti bikin laki-laki takut dan akhirnya bikin si perempuan seret jodoh. Banyak deh isu yang relevan buat kita renungkan.

Mimin gak mau ngasih terlalu banyak detil soal buku ini, bukunya udah tipis banget to begin with. Dan kalo mimin ngasih banyak detil, nanti gak seru lagi baca bukunya. Oiya, kalo kamu mau baca sudut pandang orang lain soal buku ini, baca tulisannya Aggy di My Burumpi deh. Kalo abis ini kamu masih gak tertarik baca juga… Ah yaudahlah…Mimin Nyerah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s