Aku perempuan dan mereka adalah sahabat-sahabatku

Beberapa hari yang lalu di media sosial aku menemukan tulisan ini:

“Behind every successful woman is a tribe of other successful women who have her back.” (Terjemahan bebas: Dibalik setiap wanita sukses adalah wanita-wanita sukses lainnya yang mendukungnya.)

Dan iya, aku tidak akan malu-malu untuk menyebut diriku sebagai wanita sukses. Kenapa tidak? Aku bangga dengan hasil keringatku dan aku akan membela hakku untuk menyebutnya sebagai kesuksesan. Tapi tanpa teman-temanku, yang masing-masing punya jalan hidup dan karakter yang berbeda, aku bukanlah diriku saat ini. Tanpa interaksi dengan mereka yang selalu mendukungku di belakang layar ini, mungkin hidupku tidak akan seperti sekarang. Dan untuk inilah aku menulis artikel ini, untuk menempatkan mereka di depan layar.

Ade adalah seorang ibu rumah tangga yang meninggalkan pekerjaannya untuk mengurus anak-anaknya. Bukan hanya sekali aku bertanya apakah dia tidak ada sedikit pun penyesalan, karena setelah meninggalkan pekerjaannya, hidupnya ya sepertinya untuk anak-anaknya saja. “Lalu apa yang tersisa buatmu, De?” Dan setiap kali, pertanyaanku selalu dijawab dengan jawaban yang sama. “Tidak, aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku. Aku mendapatkan kebahagianku dengan membesarkan anak-anakku.” Keyakinan di matanya dan kesederhanaan jawabannya selalu membuatku tercenung. Kalau kalian bandingkan aku dengan Ade, mungkin kalian bisa bilang aku yang wanita karir ini adalah manusia yang sangat egois. Tidak usah kalian tanyakan soal anak, pikiranku saja belum sampai ke keinginan untuk berkeluarga. Ade adalah pendengar yang setia. Dan walaupun dia jarang sekali punya solusi untuk masalahku, karena hidup kami bedanya seperti langit dan bumi, ketulusannya sebagai seorang sahabat, entah bagaimana, selalu menguatkanku di saat-saat tersulitku.

Sama seperti Ade, Yuli juga seorang ibu rumah tangga. Bedanya, Yuli masih melanjutkan karirnya setelah ia berkeluarga. Aku dan Yuli sudah berteman sejak kecil. Ada beberapa tahun di mana kami seperti kehilangan kontak, karena kami kuliah di kota yang berjauhan. Tapi Tuhan itu baik, kami lalu bertemu lagi. Kalian mungkin juga punya teman seperti Yuli, yang tidak peduli betapa lamanya kalian sudah tidak lagi berkomunikasi, waktu kalian bertemu lagi, seperti tidak ada yang berubah dari persahabatan kalian. Sekarang pun bukannya aku sering sekali berkomunikasi dengan Yuli, tapi setiap interaksi rasanya selalu… Begitu penting. Chat message kami biasanya diawali dari curhatan santai sih. Tapi pasti ujung-ujungnya yang kami bicarakan jadi hal-hal yang lebih serius. Buatku pribadi, ini lah yang membuat Yuli teman yang begitu berarti. Lewat obrolan kami, dia mengingatkanku kembali tentang hal-hal yang prinsip, dan bahwa hal-hal di luar yang prinsip itu, tidak usah lah terlalu dipusingkan. Oh, dan satu hal lagi. Yuli itu superwoman sekali! Dia itu ibu rumah tangga sekaligus seorang insinyur. Kadang aku sendiri saja bingung gimana Yuli bisa membagi waktu untuk anak dan keluarganya dan menjaga kesehatannya. Jempol deh pokoknya!

Kalau soal pekerjaan, aku memang sepertinya tidak pernah menceritakannya ke Ade dan Yuli. Bidang pekerjaan Ade sebelum berkeluarga dan pekerjaan Yuli sekarang tidak sama dengan bidang pekerjaanku. Tapi Tuhan itu sungguh baik sekali. Aku diberikan seorang sahabat yang dengannya aku bisa berbagi soal pekerjaanku. Sama sepertiku, Vera adalah seorang praktisi TI (teknologi informasi). Kami berasal dari kampus yang sama dan dulu kami aktif di organisasi kemahasiswaan kampus. Sebenarnya, aku merasa kalau aku dan Vera itu punya banyak sekali kemiripan. Selera fashion kami mirip, jadi belanja dengan Vera itu mengasikkan sekali. Mengasikkan karena aku jadi ada teman untuk belanja kaos atau hoodie di toko fashion laki-laki 😛 Sifat kami sama-sama cukup keras dan logis. Tipe liburan kami pun mirip sekali. Mungkin kami memang akan membayar mahal untuk tiket pesawat pergi ke luar kota atau luar negri. Tapi apa yang kami lakukan di sana paling-paling hanya bermalas-malasan di penginapan dan lalu sesekali keluar untuk makan. Ayahku pernah bilang kalau seorang sahabat itu membuktikan dirinya di saat-saat tersulit. Tahun 2017 bisa dibilang adalah tahun yang cukup kelam untuk kesehatan mentalku. Dan, yah, singkat cerita sih keberadaan Vera di saat itu sungguh menolong. Dia membuktikan dirinya sebagai seorang sahabat, dan bukan sekedar seorang teman di saat senang macam shopping atau liburan 🙂

Cici adalah kolega di kantorku, dia berasal dari Negri Panda. Awalnya kami berteman karena kami bosan sekali dengan makanan di negeri asing tempat kami bekerja ini. Dan kami selalu punya stok sambel dari negri kami masing-masing di kulkas kantor. Apapun makan siangnya, sambel pasti selalu tersedia untuk mengobati kehambaran makanan negri ini. Lalu lama-lama kami pun jadi sering pergi makan di luar kantor, di resto Asia di kota kami. Cici ini lucu, dia mata duitan (lol) dan paling gak bisa liat diskon. Minggu lalu dia beli jaket musim dingin berwarna hitam hanya karena diskonnya sampai 60%. Padahal dia sudah punya TIGA BUAH jaket musim dingin yang warnanya juga hitam. Tapi Cici ini jago sekali soal bisnis dan investasi, walau giliran ditanya soal pajak dia pusingnya bukan main. Sekarang bisa dibilang aku hampir selalu menghabiskan waktu dengan Cici, makan siang, makan malam (kami sama-sama hobi lembur sampai jam 9 malam), belanja ke supermarket, nge-gym (yang menurut dia adalah aktivitas sia-sia karena berat badan dia gak turun sama sekali hahaha), dll. Mungkin kalian juga punya teman seperti Cici, di mana persahabatan kalian diawali dengan hal yang trivial tapi lalu jadi erat karena kalian jadi sering ngobrol mau sesantai apapun obrolannya.

Ade, Yuli, Vera, dan Cici adalah sahabat-sahabatku. Mereka sangat berbeda satu sama lain, dari segi karakter, minat, penampilan, dll. Interaksiku dengan masing-masing juga sangat berbeda. Tapi yang jelas, interaksiku dengan mereka tidak pernah seperti stereotip persahabatan perempuan ala majalah sampah, di mana perempuan-perempuan digambarkan sebagai makhluk bermulut manis yang sebenarnya saling bersaing dan membenci. Laki-laki juga tidak pernah jadi pokok obrolan kami. Hal-hal yang kami bicarakan misalnya bagaimana memilih PAUD, politik, dan bisnis. Kami juga ngobrol hal-hal remeh sih, seperti misalnya kegalauan berkepanjangan soal praktisnya hijrah ke ebook reader atau tetap memilih bau kertas novel yang heavenly banget itu.

Memberikan stereotip ke persahabatan adalah suatu kebodohan. Manusia itu tidak ada yang identik. Dan apakah interaksi antara individu-individu yang unik itu bukan sesuatu dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi? Jadi, kalau kalian apes ketemu artikel yang masih ngasih stereotip begitu, doakan saja penulisnya ya. Doakan penulisnya supaya bertobat dan supaya Tuhan kasih dia sahabat yang baik 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s