Perempuan dan pilihan hidupnya di “Tetangga Masa Gitu?”

Beberapa hari yang lalu, salah satu mimin Kami Perempoean menyampaikan unek-uneknya soal orang-orang yang suka sibuk nge-judge dan ngebanding-bandingin ibu rumah tangga (IRT) dan working mom. Walaupun mimin-mimin lainnya belom berkeluarga apalagi punya anak, sering banget rasanya kami mendengar unek-unek ini dari wanita-wanita lain yang sudah berkeluarga. Yang pro IRT full time biasanya omongan nyakitinnya adalah bahwa anak-anak dari working mom itu kurang kasih sayang. Yang pro working mom juga suka ada aja resenya, misal dalam hal ngumbar-ngumbar prestasi dan kehebatan dan kemandirian, dan bilang kalo IRT bisanya cuma nyinyir. Heran. Kenapa jadi saling serang begitu ya? Padahal kalau dipikir-pikir, mereka sebenernya sama sekali gak tau apa-apa tentang kehidupan pribadi orang yang lagi diserang itu.

Unek-unek tadi itu bikin mimin-mimin lain teringat sama salah satu komedi situasional yang ada di TV Indonesia: Tetangga Masa Gitu (TMG). Komedi ringan ini bercerita tentang dua pasangan suami istri yang tetanggaan. Jadi di sitkom ini digambarkan kontras dari dua pasangan itu, di mana yang satu adalah pasangan yang usia pernikahannya sudah lebih dari 10 tahun (Mas Adi dan Angel), dan yang satu lagi bisa dibilang masih pengantin baru (Bastian dan Bintang). Nah satu lagi kontras yang ditunjukkan adalah profesi suami-istri tersebut. Angel adalah seorang wanita karier, sementara Mas Adi itu “cuma” seorang seniman yang gak berduit. Walaupun Mas Adi sempat menjadi guru SMA, akhirnya dia dipecat dan Angel jadi tulang punggung keluarga. Sementara itu, keluarga Bastian dan Bintang itu lebih “tradisional” — Bastian bekerja sementara Bintang mengurus rumah. Nah, di artikel ini mimin-mimin mau ngebahas soal Angel dan Bintang, dan ekspektasi yang mungkin mengiringi pilihan-pilihan hidup mereka. Yuk mari~

Angel, pengacara lulusan UI dan pencari nafkah

Sebenernya ya, kalau boleh jujur, model keluarga Angel dan Mas Adi ini adalah model keluarga yang dari kecil udah diwanti-wanti sama ibu mimin. “Perempuan itu kalau bisa jangan lebih dari laki-laki. Laki-laki itu egonya tinggi, nanti pasti keluarganya bermasalah,” kata ibu mimin. Maklum, di era ibu mimin memang mayoritas situasinya kayak begini. Tapi kalau dipikir-pikir, kalau si Mas Adi dipecat dari kerjaannya, masa iya si Angel mesti… Ikutan dipecat juga demi gak ngelebihin suaminya? Terus kalau si Mas Adi gajinya kecil, masa si Angel mesti minta potong gaji sama bosnya? Kan gak masuk akal. Ntar keluarganya hidupnya pake duit dari mana dong?

To be fair to my mom, mimin rasa sebenernya karena faktor budaya dan generasi, nyokap gak kepikiran kalau cowok sebenernya bisa juga berkontribusi di rumah tangga tanpa jadi pencari nafkah, misalnya dengan cara ngurusin rumah atau bahkan anak. Gak ada salahnya dong buat seorang wanita untuk berprestasi dalam kariernya. Dengan dia sukses di kariernya, dia kan juga membantu keluarganya secara finansial.

Walaupun Angel sibuk kerja, dia juga gak menelantarkan keluarganya kok! Dia juga sebenernya jago masak. Suaminya aja bahagia-bahagia aja, kok malah orang yang ribut? Kalau dipikir-pikir ya, sebenernya tuh Angel kasian banget. Ekspektasi buat Angel itu tuh berat dan macem-macem banget. Dia sibuk kerja sebagai pengacara dan jadi tulang punggung keluarga. Tapi, sebagai seorang wanita, dia juga dituntut untuk ngurus suami dan rumah! Bayangin dong, udah capek kerja seharian, masih juga mesti masak dan bersih-bersih rumah. Ngebayanginnya aja mimin merinding. Ekspektasi gak wajar buat Angel ini bisa dilihat di potongan episode di bawah, waktu Ibu Mertua Angel dengan pola pikirnya yang lebih tradisional datang berkunjung. Kayak mimin udah bilang di atas, kita sebenernya gak bisa nyalahin si Ibu Mertua juga. Karena memang di generasinya, budaya dan situasi ekonomi Indonesia juga udah lain banget sama sekarang. Yaudah yuk tonton aja langsung potongan videonya.

Bintang, ibu rumah tangga lulusan Harvard

Mimin mesti ngaku dosa. Pas awal-awal nonton TMG nih ya, trus ngeliat gimana Bintang girly banget dan dikit-dikit “so sweeeeeet” (ini juga gara-gara Bastian romantisnya norak parah sih), mimin sempet nge-judge kalo Bintang itu cewek yang cakep doang, tapi trus lemot banget. Well, Bintang kadang emang suka lemot sih, tapi sebenernya dia itu pinter banget, dapet julukan “wikipedia berjalan” malah. Eh trus tau-taunya dia malah lulusan Harvard, sporty dan pecinta alam, dan jago benerin pompa air! Wah, ini nih! Biasanya kan cowok-cowok ya yang diharapkan bisa benerin pompa air ato ganti bohlam lampu. Tapi di TMG peran tukang pipa malah diambil alih sama Bintang. Jempol banget penulis naskahnya, melawan stereotip! Oiya, soal melawan stereotip, Bintang itu gak bisa masak. Nih mimin udah bisa ngebayangin banget nih, pasti ada aja yang gak suka sama Bintang karena “Istri kok gak bisa masak!” Ckck..

“Ih Bintang kan pinter banget, sayang banget cuma jadi ibu rumah tangga!”

Selain soal Bintang gak bisa masak, yakin deh, pasti ada aja yang berpikir kayak di atas. Biasanya judgment kayak gini tuh alur “logika”-nya yang “Ngapain capek-capek dan susah-susah kuliah di kampus keren kalo ujung-ujungnya ilmunya gak kepake?” Atau ada juga yang sok-sok membela Bintang, padahal ya sebenernya masih judgmental aja, cuma kambing hitamnya jadi si suami biasanya. “Ini pasti suaminya kolot deh dan gak ngebolehin istrinya kerja!” Buset, sok tau amat. Tau apa kita soal rumah tangga orang lain? Mimin juga pernah denger argumen yang lebay banget, bawa-bawa negara segala! “Egois banget sih! Ilmunya kan bisa dipake buat membangun Indonesia, kita butuh orang-orang pintar yang peduli!” Lhaa… Presiden aja santai kok mau orang berkarir atau mengabdi buat keluarganya. Kenapa jadi situ yang sibuk?

Sebenernya di episode-episode selanjutnya, Bintang lalu punya pekerjaan, dia punya online shop gitu. Familiar banget kan situasinya? Kalian pasti punya deh minimal satu orang kenalan yang jualan online. Atau malah kalian sendiri yang punya olshop? Dan terus terang mimin gak ngerti kenapa ada aja orang yang nyinyirin IRT yang punya bisnis sampingan olshop. Mungkin emang dasar haters gonna hate  aja kali ya? “Lulusan Harvard jualan baju di olshop? Gak sayang tuh sama gelar?” Kok kayanya serba salah banget ya jadi IRT? Tadi udah di-judge karena gak kerja, sekarang giliran udah kerja, ya masiiih aja salah. Sebenarnya memang kenapa kalau lulusan Harvard jualan baju? Seolah-olah jualan di olshop itu pekerjaan yang gak se-elit nama Harvard. Padahal, kalau kita pikir-pikir lagi, mau pedagang, karyawan kantoran, dosen, dokter, semua itu ya sama-sama profesi aja, cara untuk mendapatkan penghidupan. Apalagi nih ya, kalau orang ybs menikmati pekerjaannya dan happy-happy aja, yaudah sih simpen aja “kritik dan saran”-nya. Gak ada yang minta juga. Atau kalau masih kekeuh pengen ngasih kritik dan saran, coba sih telpon ke 0800-11-43469 ke ABC Cares, bilangin mimin pengen sambel pete kemasan. Bebas pulsa kok Senin sampe Jumat, mulai jam 9 pagi sampe 4 sore.

***

Kalau kita ngomongin soal hidup perempuan, duh, sebenarnya ekspektasi yang dibebankan oleh masyarakat dan budaya kita terhadap perempuan itu berat banget. Gak ada habisnya lho kalau kita mau bikin daftar nyinyiran-nyinyiran klise yang diarahkan ke wanita-wanita yang sudah berumah tangga, mulai dari soal gak bisa masak, kapan punya anak, soal gaji jangan lebih tinggi dari gaji suami, dll. Sadar gak sadar, “kritik dan saran” seperti itu pasti membebani masing-masing pribadi. Padahal, kita itu manusia bebas. Sebagai perempuan dan sebagai manusia, seharusnya kita itu bebas dalam memilih dan mempertimbangkan sendiri apa yang baik untuk kita dan keluarga kita. Tapi, pada kenyataannya, ya ekspektasi-ekspektasi seperti di atas sebenarnya mengikat dan membatasi kebebasan pilihan hidup kita.

Mimin-mimin di sini bukan mau ngasih saran sih buat gimana menghadapi ekspektasi-ekspektasi tadi. Terus terang kami pun masih menghadapinya setiap hari dengan cara yang kami tau, despite baik buruknya. Tapi, mungkin yang mau kami ajak untuk kita semua lakukan di sini adalah supaya kita berhenti nge-judge satu sama lain, berhenti ngasih “kritik dan saran” ketika gak ada yang meminta sama sekali. Kita mesti pinter-pinter menimbang apakah omongan kita akan jadi bermanfaat atau malah menyakiti orang lain. Soalnya nih ya, gak peduli maksud kita baik atau sekedar rese, kalau omongan kita jadinya nyakitin, ya pokoknya kita yang jadi tokoh jahatnya di situasi itu. Dan untuk kebaikan kita semua, beneran deh, kita gak mau menyakiti orang lain. Hidup itu sendiri sudah sulit dan panjang, dan yang kita butuhkan bukanlah musuh melainkan teman yang saling mendukung satu sama lain. Dan kami rasa ini bukan ajakan yang absurd, karena kita semua tau dan kita semua mengalami betenya menghadapi pertanyaan-pertanyaan rese bin gak sensitif macem kapan lulus, kapan kerja, kapan nikah, kapan punya anak, kapan mantu, dan kapan-kapan lainnya. Jadi, yuk, mulai hari ini, mari kita sama-sama berusaha jadi orang yang lebih baik buat orang lain. Selamat hari Senin dan selamat beraktivitas! 😀

2 Replies to “Perempuan dan pilihan hidupnya di “Tetangga Masa Gitu?””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s