Internalized misogyny: Waktunya kita introspeksi diri

Pernah denger istilah misogyny kan? Isu internalized misogyny ini pernah dibahas di Kami Perempoean lewat artikel Gue nggak kayak cewek-cewek lain, gue beda. Singkatnya, misogyny itu adalah kebencian terhadap perempuan. Kayanya ekstrim banget yah? Siapa juga yang tanpa alasan membenci orang lain kan? Lagian ya masa sih, ada orang yang pokoknya langsung gak suka aja gitu karena seseorang itu perempuan? Well, kalau di sinetron sih kayanya ada. Macem yang pernah disakitin perempuan sekali dua kali, trus abis itu langsung ngecap kalau semua perempuan di jagat raya itu brengsek 😛

Tapi misogyny itu ternyata gak cuma mencakup hal-hal yang ekstrim, gak hanya soal laki-laki yang gak memperlakukan perempuan dengan sepantasnya. Dan misogyny itu juga bukan cuma kesalahan di pihak laki-laki. Kita semua sadar gak sadar pasti pernah melakukan sesuatu yang didasari oleh misogyny, entah itu terhadap orang lain atau malah diri sendiri. Biasanya gak sadarnya ini ya karena internalized misogyny, yaitu waktu misogyny udah jadi bagian dari cara pandang/ berpikir kita. Gampangnya, kita itu punya internalized misogyny kalau kita jadi polisi yang ngatur-ngatur gimana seharusnya perempuan lain membawa dirinya.

Di bawah ini ada beberapa hal yang kemungkinan besar adalah manifestasi internalized misogyny. Warning: Meskipun mungkin kata-kata di daftar ini cukup keras, tidak ada setitikpun maksud daftar ini dibuat untuk nge-judge siapapun. Daftar ini dibuat supaya kita masing-masing introspeksi diri. Penulis sendiri masih banyak salahnya kok, tapi manusia itu punya kemampuan untuk belajar. Jadi, yah, mari sama-sama berusaha jadi lebih baik 🙂

***

1. “Sayang banget sih, cantik-cantik kok tomboy”

Pas jaman kuliah, ada temen yang kebelet banget kepengen ngasih gue make over. Katanya sayang banget, cantik tapi tomboy. Katanya gue mesti didandanin sedikit, trus dipakein baju yang rada feminin. Gue tau sih, dia sama sekali gak ada maksud jelek. Tapi apa yang dia lakukan itu problematik. Kenapa? Sama seperti acara-acara tv soal make over, tindakan ini tuh dilandasi pada kepercayaan bahwa perempuan dengan tipe tertentu itu nilainya lebih daripada yang lain. Ya masa nilai diri gue tergantung sama pilihan fashion gue? Dangkal sekali. Ini masih mending deh kalau soal selera fashion doang, yang adalah pilihan. Tapi gimana dong kalau fisik gue gak menuhin standar kecantikan, macem kulit gue gosong dan secara genetis gue gak akan pernah bisa kurus? Nasib banget dong gue? Ya masa seumur hidup gue dianggap perempuan “kelas bawah”? Kok jadi kayak balik ke jaman perbudakan dan kasta yah?

2. “Gue sih lebih suka cewek dandan natural”

Kalau menurut gue sih ya, preferensi kayak gini nih tuh simpen aja di kepala masing-masing dan apply aja ke hidup masing-masing. Makeup itu kayak baju. Mau orang pake baju warna pastel kek, merah darah kek, ya suka-suka mereka aja kali. Jadi komentar di atas itu sama aja kayak, “Gue sih lebih suka cewek kalau dia pake baju warna ijo neon.” Absurd. Trus kenapa kalau orang lebih suka full makeup? Apakah trus berarti dia cewek gak bener? Cewek matre? Ibu tiri ala sinetron lebay? Dan kenapa lebih suka cewek dengan natural makeup? Karena keliatan manis dan feminin dan keibuan dan sesuai sama standar kecantikan yang dicekokin ke elo seumur hidup lo? Nah. Ketauan kan akar permasalahannya 😛

3. Nge-judge cewek yang keluar banyak duit buat makeup

Orang lain dan uangnya dan bagaimana dia menghabiskan uangnya itu bukan urusan kita. Kecuali misalnya orang ybs adalah orang yang dekat sekali dengan kalian dan kalian agak khawatir dengan spending habit-nya dan kalian sungguh-sungguh peduli sama dia. Jadi, kalau kita menemukan diri kita nge-judge atau nyinyirin cewek lain karena dia beli lipstick seharga 2 juta, yang rese dan kampung itu kita. Kalau kita sotoy soal alasan dia spend uang sebanyak itu buat makeup, misalnya buat gaet laki-laki atau karena dia gak pede sama mukanya, yang brengsek itu kita.

4. Nge-judge cewek yang keluar rumah tanpa makeup

Mau mukanya keliatan pucet kek, keringetan kek, ya kenapa? Yang harus dipertanyakan in the first place justru adalah pikiran kita. Kok ya kita bisa-bisanya sampe mikir kayak gitu tentang perempuan lain? Pernah gak kita mikirin hal yang sama buat laki-laki? Kayanya sih enggak deh. Jangan-jangan kritik kita malah lebih pedes ke cewek no-makeup ketimbang ke cowok bau ketek. Please deh. Yang pertama itu soal preferensi, yang kedua itu soal kebersihan.

5. Nge-judge working mom atau, sebaliknya, ibu rumah tangga

Baca artikel Perempuan dan pilihan hidupnya di “Tetangga Masa Gitu?” deh. Nuff said.

6. Nge-judge cewek yang gak bisa masak

Emang kenapa kalau cewek gak bisa masak? Kenapa cowok rasanya kok gak di-judge untuk hal itu juga? Padahal mau apaan kek jenis kelamin lo, ya lo sama-sama butuh makan. Kalau mau makan, ya masak. Kecuali warteg terdekat buka 24 jam. Gitu aja kok ribet. Apa? Istri yang baik itu yang bisa masak? Situ suaminya? Bukan? Yaudah sih diem aja.

7. Ngerasa malu waktu beli pembalut

Ini hal yang sebenarnya belom lama ini gue sadari sebagai hal yang gak wajar. Menstruasi itu bukan kejahatan sodara-sodara! Menstruasi itu bahkan bukan pilihan! Menstruasi itu fenomena biologis yang SANGAT NORMAL. Gue juga gak tau siapa yang ngajarin gue untuk malu dengan darah yang keluar dari badan gue setiap bulannya. Ya ampun, dulu tuh waktu gue SMP sampe SMA, kalau beli pembalut, kalau bisa jangaaaan sampe deh kasirnya laki-laki. Gini yah, gue ini cewek dan menurut hukum alam, gue ini mesti berdarah-darah setiap bulan. Dan terkadang bukan sekedar berdarah, tapi dibarengi sakit yang luar biasa. Harusnya yah, kita perempuan bukannya malu. Harusnya kita super bangga sama diri kita karena bisa melewati periode itu setiap bulannya.

8. Soal bulu ketek dan bulu kaki

Terus terang ini hal yang masih susah banget buat gue. Kita perempuan itu punya tuntutan gak wajar soal bulu-bulu di badan kita. Rambut semakin tebel semakin bagus. Alis tebel Sinchan akhir-akhir ini lagi nge-tren. Bulu mata kalau bisa tuh diusahain biar badai (?) Tapi bulu ketek? Entah kenapa kita kok ya mesti banget bohong ke seluruh dunia soal ini. Buat cewek-cewek yang berbulu ketek, kayanya mesti banget dicukur. Dan bakalan malu banget rasanya kalo pake baju trus si bulu keteknya ngintip keluar. Atau bulu kaki. Kenapa kaki kita kayanya harus banget mulus gue juga kurang paham. Tapi, sampe saat ini, gak peduli betapa absurdnya ekspektasi soal bulu ketek dan bulu kaki ini, terus terang gue masih belom sanggup keluar rumah kalau bulu-bulu itu masih kemana-mana dan belom dijinakkan.

9. Perasaan kasihan terhadap perempuan berusia >30 tahun dan single

Pernah gak kalian tanpa sadar ngerasa kasian sama perempuan matang dan single? Itu sih salah satu internalized misogyny lho. Kenapa? Well, kenapa dia harus dikasihani coba? Apakah nilai perempuan bakalan menurun seiring bertambahnya usianya? Apakah hidup perempuan baru dianggap lengkap ketika dia sudah berkeluarga? Kedua hal tersebut berlaku juga untuk laki-laki gak? Breaking news: Perempuan adalah manusia!

10. Perasaan bahwa lo gak pernah cukup baik karena “gue gak cantik”

Internalized misogyny itu gak cuma ngerugiin orang lain, kita sendiri juga kena getahnya. Hal di atas itu pasti banget internalized misogyny ketika, gak peduli seberapa jago dan berhasilnya elo, lo tetep ngerasa “I feel like crap” karena lo gak suka dengan apa yang lo liat di cermin, entah badan atau wajah lo. Di antara poin-poin yang udah disebutin sejauh ini, hal inilah yang paling sulit buat gue taklukkan. Kayak misalnya waktu gue ngeliat foto di mana gue sedang jadi pembicara di sebuah konferensi internasional yang cukup besar dan gue rasanya pengen foto itu dihapus saja untuk selama-lamanya. Kenapa? Karena di foto itu gue keliatan pendek dan gendut. Padahal ya, I was actually totally nailing the talk and the audience loved me! Serius deh. Topik yang gue sampaikan itu cukup teknis, tapi gue berhasil membuat penontonnya antusias dan gue bahkan sekali dua kali bercanda dari atas podium. Gak seharusnya gue merasa kayak sampah karena gue pendek dan gendut. Pendek dan gendut adalah deskripsi fisik saja, yang tidak seharusnya diasosiasikan dengan sifat baik atau buruk.

One Reply to “Internalized misogyny: Waktunya kita introspeksi diri”

  1. Loving this article! Yang terakhir gw juga masih harus belajar huhu, susah banget ya unlearning hal2 yang udah kita dapatkan dr kecil ttg ekspektasi seorang cewek. Kadang gw sadar diri dan berpikir, kenapa sih gw ribet ttg berat badan dan bulu ketek gw?! Kesel sendiri! I shouldn’t feel crap! Thanks for the reminder 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s