Aku perempuan dan bagiku standar kecantikan adalah racun

Turun 2 ons, Mak,” atau “Aduh timbangannya rusak, Mak. Beratku 50.5 kg, masa naik lagi, Mak.”

Diet Mama berhasil, Neng. Turun 6 ons,” atau “Mama naik 1 ons, Neng jadi 64.3 kg, tapi tadi Mama timbang sambil bawa lontong.”

(Satuan kilogram di atas hanya fiktif belaka)

Baru-baru ini, ada sebuah kejadian yang semakin menggelitik kesadaranku akan betapa sempitnya standar kecantikan yang aku miliki saat ini. Seorang perempuan berusia 22 tahun, Arina Aliyeva, merilis sebuah video pengakuan setelah dirinya diumumkan sebagai salah satu finalis dalam kontes kecantikan Miss Virtual Kazakhstan 2018. Dalam videonya tersebut, ia mengaku bahwa sesungguhnya ia adalah seorang model laki-laki bernama Eli Diaghilev. Awalnya, ia ingin membuktikan kepada teman-temannya bahwa perempuan muda saat ini hanya menilai kecantikan mereka dari fisiknya saja. Kecantikan di mata mereka bukan lagi tentang kualitas individu seorang perempuan atau karisma mereka. Mereka pikir, cukup dengan mengikuti tren seperti busana, riasan, hingga model rambut akan membuat mereka menjadi cantik. Menurutnya, dengan adanya kosmetik, digital editing tools seperti Photoshop, ditambah lagi dengan persepsi yang salah dalam industri kecantikan selama ini, seorang pria bahkan bisa tampak seperti perempuan cantik. (Sumber)

Melalui tindakannya, ia ingin menyatakan bahwa mengikuti standar kecantikan yang sama tidaklah penting, melainkan individualitas dan kealamiahan mereka. Yang terpenting bukanlah tentang sesuatu yang kamu tunjukkan di muka umum dan bukan tentang dicap sebagai gadis modis dan cantik dengan mengikuti tren yang sebenarnya tidak sesuai dengan dirimu. Ia berharap kisahnya ini dapat menginspirasi para perempuan untuk lebih menghargai individualitas dan kecantikan hati mereka.

Sama halnya dengan banyak perempuan di luar sana yang memiliki standar kecantikan hanya sebatas fisik mereka, kalian pasti berpikir bahwa aku dan Mamaku merupakan salah dua di antaranya. Melalui percapakan di atas pun kami terkesan seperti dua orang perempuan yang selalu saja memberikan alasan ketika angka pada sebuah timbangan berat badan melebihi ekspektasi mereka. Kami seperti tipikal perempuan yang tidak pernah puas akan bentuk tubuh mereka, yang selalu saja mengeluh “Ih gendut bangeeeet!” terhadap diri sendiri, sebesar atau sekecil apa pun sebenarnya tubuh mereka.

Percakapan di atas adalah percakapan rutin yang biasa aku lakukan dengan Mamaku sehabis Ibadah Minggu gereja kami, yang setiap minggunya diadakan di aula sebuah hotel. Di hotel tersebut, tergeletak sebuah timbangan digital di salah satu sudut lobbynya. Timbangan ini sudah usang, sering error, dan terkadang membuat berat badan mingguan kami terkesan sangat fluktuatif. Namun, timbangan ini cukup ampuh untuk membangunkan sisi kompetitif dalam diri kami. Bukan terhadap satu sama lain, melainkan terhadap diri kami masing-masing dalam menurunkan berat badan.

Walaupun begitu, kami berdua memiliki alasan berbeda di balik niat kami dalam menurunkan berat badan. Tujuan utama Mama melakukannya adalah untuk menjaga kesehatan, sedangkan aku untuk memenuhi standar cantikku. Mama begitu disiplin menjaga pola makannya sesuai dengan yang dokternya anjurkan, sedangkan aku kerap masih berpikir untuk melakukan diet brutal tak bertanggungjawab seperti tidak mengkonsumsi nasi tanpa asupan sumber karbohidrat pengganti. Untungnya, Mamaku tidak pernah memperbolehkanku melakukannya. Ya, pada akhirnya aku mengikuti diet pola makan seperti yang sedang Mamaku lakukan.

Jujur, sampai detik ini pun standar cantikku masih sama, hanya sebatas fisik, yaitu bertubuh langsing. Aku akan merasa sangat kesal saat orang lain menilai fisikku dengan berkata bahwa tubuhku melebar atau tentang jerawat di dahiku atau tentang hal lainnya, dengan atau tanpa candaan. Oleh karena itu, aku tidak memakai standar ini untuk menilai orang lain. Ironisnya, aku memaksakan standar ini terhadap diriku sendiri.

Tanpa aku sadari, standar ini menumbuhkan rasa ketidakpuasan dalam diriku. Yang awalnya aku hanya ingin tampil cantik bagi diriku sendiri, lama kelamaan aku semakin mempedulikan bagaimana pandangan orang lain terhadapku. Perlahan, ketidakpuasan ini pun membawa pergi rasa percaya diri, membuatku menanamkan mental “aku tidak mampu” setiap kali aku dihadapkan dengan sesuatu yang berada di luar zona nyamanku yang tentunya menghambat potensi yang ada dalam diriku.

Aku belajar banyak dari kakak perempuanku yang tertua. Kita sama-sama memiliki postur tubuh yang lewat dari ideal, tapi ia tetap menjadi dirinya sendiri dan tidak peduli apa kata orang tentang tubuhnya. Suatu kali ia berkata,

Nih ya dek, gak usah peduli apa kata orang. Emang kenapa kalau gendut? Gak baik ah, Dek, main fisik gitu. Mulut orang memang suka jahat, tapi jangan diambil hati. Kamu jangan malah jadi minder ya.”

Kakak jaga pola makan dan rajin nge-gym bukan karena kakak merasa lebih cantik kalau tubuh kakak langsing. Kakak merasa tubuh kakak sudah terlalu berat untuk dibawa jalan. Jadi, ya kakak ingin lebih sehat aja, Dek.”

Tadi kakak di kampus ngeliat ada satu cewe bule lagi makan sama teman-temannya. Cuma dia yang gendut, sedangkan yang lain langsing-langsing dan tinggi gitu, tapi menurut kakak dia yang paling cantik deh. Dia tahu gimana cara berpakaian dan dia terlihat percaya diri.

Kakakku inilah yang membuat pikiranku terbuka untuk belajar masa bodoh akan perkataan orang lain terhadap fisikku, tentunya yang bersifat negatif. Kakakku ini juga yang membuatku belajar untuk berhenti menilai berharganya diriku dari bentuk tubuhku. Tindakan berani model pria Eli Diaghilev pun semakin membuatku menyadari bahwa kecantikan seorang perempuan tidak seharusnya dinilai dari apa yang terlihat oleh mata, namun dari hatinya.

Standar kecantikanku masih terus menggodaku untuk bersikap tidak adil terhadap tubuhku. Namun kini, aku sedang dan akan terus berjuang untuk mencintai diriku apa adanya.

 

 

Penulis

Aya, Perempuan dengan segudang impian yang juga seorang penulis di blog pribadinya sarahtobing.wordpress.com. Salam dari Aya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s