Boys will be boys, girls have to be women

Dari awal bulan ini, saya baru aja pindah rumah. Kebetulan, rumah baru saya terletak deket banget sama sebuah SMP yang muridnya cukup banyak. Jadi, tiap pagi waktu jalan ke kantor, saya sering banget ngeliat murid-murid SMP berseliweran lari-lari ke sekolah. Gara-gara ini, saya jadi kadang-kadang jadi agak-agak mengobservasi gaya-gaya para bocah ini yang bermacam-macam. Ada yang keliatan sporty, baik cewek ataupun cowok. Ada yang keliatan melek fashion banget. Ada yang keliatan agak-agak kutu buku (mirip saya waktu jaman SMP). Ada juga yang keliatan masih bocah banget. Macem-macem deh pokoknya.

Pas mengamati bocah-bocah SMP ini, yang sering saya perhatiin adalah biasanya cewek-ceweknya keliatan lebih dewasa dari para cowok-cowok, which is not surprising for me. Orang-orang sering bilang kalau anak cewek lebih cepet dewasanya dari anak cowok. Tapi terus, dua hari yang lalu saya mendadak kepikiran, kenapa sih anak remaja cewek itu kelihatan lebih dewasa dari pada cowok? Apakah itu sepenuhnya karena nature atau ada unsur nurture-nya juga?

Di satu sisi, biasanya anak cewek memang memasuki masa akil balik lebih dulu daripada anak cowok. Jadi kalau dilihat dari segi itu, wajar aja kalau anak cewek proses pendewasaannya lebih dulu dibandingkan anak cowok. Proses pendewasaan bagaimanapun gak terjadi dalam sekejap mata (namanya juga proses). Pencarian singkat di Google dengan kata kunci “why are girls more mature than boys” akan mengembalikan banyak artikel tentang aspek-aspek neurologi dan biologi lainnya tentang proses perubahan yang terjadi pada wanita dan pria di masa akil balik.

Unfortunately, those articles are beyond my biological prowess. Berhubung saya gak pernah ngambil jurusan biologi dan cuma bisa menemukan sumber-sumber dari Wikipedia dan beberapa artikel internet lainnya, saya gak sanggup menulis artikel ini dari segi itu. Saya juga gak pernah bekerja secara intensif dengan anak-anak remaja, jadi saya mau ngasih sedikit disclaimer tentang tulisan ini. Apa yang akan saya tuliskan di bawah ini adalah hasil pengalaman dan pemikiran pribadi, jadi please take it with a grain of salt and feel free to argue with me in the comment.

Jadi, ketika lagi ngelamun di jalan ke kantor kemarin, saya berpikir: apa jangan-jangan anak cewek lebih cepat dewasa karena “petuah” dan ekspektasi dari orang-orang dewasa di sekitar mereka?

Saya gak tau deh apakah para pembaca artikel ini punya pengalaman yang sama dengan saya apa gak, tapi waktu saya memasuki akil balik saya, saya dapet “kuliah singkat” dari ibu saya. Ibu saya memberikan petuah-petuah ini dengan maksud baik dan in my best interest. Kemungkian besar, ibu saya juga mendapatkan “kuliah” yang sama dari ibunya sendiri ketika dia memasuki masa akil balik. Tapi, setelah dipikir-pikir balik, sebenernya isi omongan itu cukup mengerikan buat seorang anak yang baru saja menemukan scene pembunuhan di celananya sendiri. Kuliah itu isinya kira-kira begini:

“Nak, kamu sekarang udah gede. Jadi kamu mesti hati-hati bergaul.”

“Nak, kamu sekarang udah gede. Jadi kamu mesti hati-hati sama cowok. Jangan sampai masa depan kamu rusak.”

“Nak kamu sekarang udah gede. Udah bisa jadi ibu. Jadi kamu gak bisa bersikap seperti anak kecil lagi.”

Being a kid in a country that seems to have a personal vendetta against sex education, pertanyaan pertama yang muncul di otak saya adalah, “Maksudnya apa?”. Emang kenapa saya mesti hati-hati bergaul? Emang kenapa mesti hati-hati sama cowok? I mean, technically I kinda knew where baby came from, tapi saya gak tau teknisnya gimana. Saya gak ingat apa yang ibu saya katakan ketika saya bertanya pada beliau, tapi yang saya ingat di antara penjelasan itu adalah deskripsi tentang apa sebenarnya “pemerkosaan” yang sering saya lihat di berita laporan kriminal di Indosiar itu.

Percakapan yang cukup traumatis itu gak berakhir di situ aja. Saya termasuk remaja yang cukup beruntung karena sekolah saya (walaupun agak telat) mengadakan pendidikan seks untuk murid-muridnya. Penjelasan yang kami terima di sesi itu sebenernya cukup klinis, tapi lebih baik daripada gak ada sama sekali. Saya gak tau temen-temen saya yang cowok diajarin apa karena sesi kami dipisah, cuma saya ingat kalau kami mendapatkan petuah yang sama dari para guru kami.

“Nak, kamu sekarang udah gede. Jadi kamu mesti hati-hati bergaul.”

“Nak, kamu sekarang udah gede. Jadi kamu mesti hati-hati sama cowok. Jangan sampai masa depan kamu rusak.”

“Nak kamu sekarang udah gede. Udah bisa jadi ibu. Jadi kamu gak bisa bersikap seperti anak kecil lagi.”

Sekali lagi, saya sama sekali gak menyalahkan para guru apalagi ibu saya. They’re acting on my best interest. Tapi, buat saya omongan mereka secara gak langsung menuntut anak cewek (yang mungkin belom juga sebulan akil balik) to grow up already. Menurut saya, walaupun petuah-petuah di atas gak salah, tapi ada beberapa hal yang problematik yang melatarbelakangi petuah-petuah tersebut. Yang pertama adalah asumsi bahwa semua perempuan pada akhirnya ingin dan akan menjadi ibu, tapi yang mau saya bahas hari ini adalah aspek yang lain.

Sejak sekitar umur 12 tahun (dan bahkan lebih dini akhir-akhir ini), anak cewek udah diajarkan kalau laki-laki itu “ancaman”. Anak cewek udah diajarkan kalau cowok itu bisa bikin “masa depan kamu rusak”. Sejak dini, anak cewek udah diajarkan untuk “hati-hati sama cowok”. Walaupun ada alasannya kenapa petuah ini bisa keluar dari mulut ibu dari masa ke masa, buat saya petuah ini mengimplikasikan “beban” pada perempuan untuk menjaga dirinya dari “serangan” laki-laki. Karena beban untuk menjaga diri ada pada perempuan, ketika terjadi sesuatu seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan, seringkali perempuan berada di pihak yang disalahkan karena tidak “berhati-hati” dan “menjaga diri”.

That’s a lot to handle for a 12 years old. Temen cowoknya yang kemaren masih main petak umpet bareng-bareng, sekarang tiba-tiba jadi pemangsa. Belum lagi dengan berita-berita tentang pemerkosaan wanita, baik oleh laki-laki seumurnya ataupun oleh laki-laki yang lebih tua di atasnya. Sejak saat itu, I didn’t see adult males the same way I saw them before. Gak heran kalau anak cewek cepat dewasa.

Sebenarnya yang bikin saya penasaran adalah, apakah anak cowok juga dapat kuliah yang sama dari orang-orang dewasa sekitarnya ketika mereka memasukin masa akil balik? Saya kok curiga gak ya? Soalnya, kalau misalnya ada anak cowok yang berulah, seringkali kedengeran ucapan “Boys will be boys”. Lha, kalau misalnya anak cewek mesti berhati-hati supaya gak dihamilin orang, kenapa anak cowok gak dididik untuk gak menghamili anak orang? Kalau anak cewek disuruh untuk gak kekanak-kanakan karena akan jadi ibu, kenapa anak cowok gak disuruh untuk gak kekanak-kanakan karena akan jadi bapak? Emangnya yang ngedidik dan ngerawat anak itu ibu doang ya, gak pake bapak?

If boys get to be boys, why do girls have to be women?

If boys don’t get the same speech that girls got when they reached puberty, it’s high time they do.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s