Memangnya kenapa kalau laki-laki menangis?

Seiring dengan semakin banyaknya saya membaca artikel dan buku seputar isu kesetaraan gender, semakin peka pulalah saya dengan hal-hal di sekeliling saya. Pengalaman ini rasanya seolah-olah seperti indera-indera saya dipertajam, if that makes sense. Dan terus terang, pengalaman ini lebih banyak gak enaknya daripada enaknya. Hal-hal yang tadinya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, sekarang jadi sesuatu yang gak bisa saya biarkan begitu saja karena, misalnya, kok ternyata problematik dan seksis. Kayak misalnya “becandaan” soal kemampuan mengemudi ibu-ibu, atau bahwa cewek itu hobinya gosip. Di awal perjalanan melek kesetaraan gender ini, saya bawaannya panas hati melulu. Apalagi kalau yang melontarkan hal-hal seksis macam di atas adalah kaum pria. Tapi semakin ke sini, selain saya semakin terlatih untuk mengoreksi tanpa nada marah, saya juga semakin mengerti kalau budaya patriarki* itu gak hanya menyakiti kaum perempuan tapi juga para pria.

Waktu saya kecil, saya sungguh-sungguh mengidolakan ayah saya. Saya rasa ini hal yang lumrah buat anak-anak perempuan. Beruntungnya, role model saya ini tidak mengkotak-kotakkan apa itu sifat maskulin dan feminin. Saya bahkan baru tahu bahwa di masyarakat itu ada karakter yang dianggap feminin dan maskulin lewat majalah remaja. Nah, di bawah ini saya mau membahas beberapa hal yang kata majalah/ tabloid/ bungkusan kacang rebus adalah hal-hal macho, yang lalu kemudian saya kontraskan dengan bagaimana ayah saya menjalani hidupnya. Dan karena ayah saya adalah pahlawan saya, maka ia selalu benar dan tabloid bungkusan kacang rebus selalu salah. Yuk mari~

***

Cari hobi yang maskulin? Bullshit!

Katanya yah, cowok itu akan terlihat lebih macho atau maskulin kalau hobinya itu lakik banget. Kamu gak percaya ya kalau hari gini masih ada yang ngasih jenis kelamin ke yang namanya “hobi”? Ih ada banget! Nih saya kasih kutipan dari artikel yang cuma saya baca demi kepentingan nulis artikel ini (kalo gak sih ngapain juga saya baca deh):

Nah, agar tampil lebih maskulin Anda wajib menjalani hobi yang juga maskulin, seperti bermain sepak bola, bisbol, memancing, berburu, berenang, memperbaiki dan mengutak-atik mobil, off-road, mengendarai sepeda motor di medan ekstrim, mendaki gunung, menelusuri hutan rimba, menyukai seni, […] Anda juga perlu memperluas pengetahuan mengenai dunia olahraga, update tentang berita-berita terbaru, dan juga memahami tentang perkembangan teknologi. [sumber]

Kalo ayah saya sih gak pernah absen main tenis 3x seminggu. Pulang-pulang dari main tenis biasanya bau “maskulin”-nya menguar kemana-mana (baca: bau ketek). Tapi nih ya, ayah saya juga hobiiiiii banget bercocok tanam, mulai dari anggrek sampai ubi jalar. Dulu pas saya SD, rumah saya penuh tanaman anggrek. Siapa yang rajin ngurusnya? Ayah saya, dan bukan ibu saya. On the other hand, ibu saya hobinya apa coba selain masak? Nukang! Maklum, kakek saya dulunya seorang tukang kayu. Jadinya nurun deh keahliannya.

Mau pakai baju warna pink? Silakan!

Selain hobi, ternyata konsep yang namanya warna juga dikasih jenis kelamin, saudara-saudara! Untuk kasus ini sayangnya saya gak bisa pakai contoh ayah saya, soalnya baju ayah saya ya paling-paling juga batik yang warnanya diprotes melulu oleh ibu saya atau kaos polo garis-garis dengan warna khas oom-oom (?) yang selalu dikomentari oleh adik saya. Sesungguhnya ayah saya agak kasihan sense of fashion-nya. Yang bisa saya jadikan bahan kritikan soal ini adalah tetangga saya di apartemen dan ibunya. Jadi ceritanya arsitek sekaligus pemilik apartemen saya ini adalah seorang laki-laki yang kebetulan ya suka sesuatu yang colorful saja. Jadi apartemen ini pun berwarna-warni sekali. Saya sih suka deh, rumahnya jadi cantik, gak surem kayak bangunan-bangunan sebelah. Tapi rupanya tetangga saya dan ibunya lalu punya ide tersendiri tentang warna oranye. Katanya oranye adalah warna perempuan dan mereka lalu berkesimpulan kalau si pemilik apartemen adalah seorang gay. Saya punya banyak sekali masalah dengan pola pikir mereka ini. Pertama, oranye itu bukan warna perempuan. Oranye itu warna JAKMANIA! Kedua, sejak kapan preferensi warna berkorelasi dengan preferensi seksual? Ketiga, duh Gusti tolong mereka diberikan pencerahan agar jadi manusia yang lebih baik dan gak suka nge-judge orang lain dan ngurusin hidup orang lain. Amiiiinnn… Sesungguhnya jadi laki-laki itu susah, pilihan fashion-nya terbatas sekali. Dan sekalinya mereka ingin keluar dari “comfort zone”-nya, mereka lalu dicap feminin. Salah-salah lalu dianggap transgender dan kita tau sendiri belakangan ada saja berita mengenai perlakuan tidak manusiawi terhadap para transgender.

Menangislah kalau kamu ingin/ harus menangis

Ketika saya beranjak dewasa, ada masa di mana keluarga saya mengalami masalah yang cukup besar. Dalam masa itu, kami semua terguncang secara mental, dan tidak jarang kami harus “bergiliran” untuk jatuh kelelahan atau jadi pilar untuk mendukung yang lain. Dan, untungnya, hal ini juga berlaku untuk ayah saya. Karena kalau tidak, kalau ayah saya harus selalu menjadi pilar yang tidak tergoyahkan, hanya Tuhan yang tau apa yang akan terjadi padanya. Terkadang ibu saya yang harus menjadi kuat dan mengambil kendali rumah tangga, ketika ayah saya terkulai tak berdaya dan hanya bisa menangis dengan suara yang begitu pilu. Ah, sampai sekarang pun air mata saya masih terus mengalir jika mengingat tangisan ayah saya ketika itu. Tapi selain itu, di keluarga saya, airmata memang tidak pernah dianggap sebagai suatu kelemahan. Dan saya sungguh bersyukur akan hal ini. Kelak, sebagaimana ayah saya menunjukkan kasihnya kepada saya di saat-saat tersulit saya, saya pun akan mengasihi orang lain dengan memberinya waktu untuk menangis. “Menangis saja lah dulu. Ada waktu untuk menangis, dan ada waktu untuk tertawa.”

Perasaan inferior/ superior itu bisa jadi racun!

Di atas kertas, pendidikan ayah saya memang lebih tinggi dari ibu saya. Tapi sejak kecil, bahkan terkadang masih sampai sekarang, ayah saya selalu bilang kalau ibu saya itu pintar sekali. Katanya, tingkat kecerdasan ayah tidak apa-apanya dibandingkan dengan ibu saya. Dan tidak sekalipun hal ini dikatakan dengan nada tidak enak. On the contrary, saya sering sekali bertemu dengan laki-laki yang belum apa-apa sudah keburu minder sama tingkat pendidikan saya. Padahal saya-nya juga gak sombong kok, saya gak pake kaos dengan tulisan “IQ saya 150, IQ jongkok silakan minggir!” Sebenarnya ya, kalau kecerdasan itu sekedar kita lihat sebagai salah satu karakteristik seseorang, tentunya kita gak perlu minder. Misalnya, mungkin saya keliatannya pinter banget nih, tapi saya juga kalau berenang gak maju-maju, trus saya juga suka males mandi. Lalu misalnya ada cowok yang dari luar gak keliatan sepinter saya (karena dia gak pake kacamata), tapi dia jago renang dan wangi terus. Kalo dibandingin, siapa yang harusnya minder? Saya atau dia? Ya gak dua-duanya! Karena gak bisa dibandingin juga. Poin saya di sini adalah, ketika orang lain atau pasangan lebih baik dari kita dalam suatu hal, hal itu seharusnya jadi sesuatu yang dihargai dan diapresiasi, bukannya malah dianggap sebagai kompetisi yang akhirnya malah bikin kamu jadi gak menghargai diri kamu. Setuju gak? Setuju aja lah ya.

***

Segini dulu aja deh ya bahasan soal ekspektasi/ standar ngawur yang dibebankan patriarki ke para laki-laki. Kalau kamu seorang laki-laki dan kamu baca artikel ini sampai selesai, semoga ada hal bermanfaat yang bisa kamu dapat dari sini. Kalau kamu suka warna pink, bodo amatan! Hal itu gak akan mengurangi kegantengan kamu. Lain halnya kalau kamu sukanya warna oranye dan kamu suka bikin rusuh. Enggak, kamu gak ganteng sama sekali karena kamu anarkis. Sekian.

*Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti [sumber].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s