Ibu rumah tangga dan feminisme

oleh Annisa Ihsani

 

Kalau bicara tentang feminisme, salah satu elemen yang tidak bisa dipisahkan adalah kemandirian finansial. Gambaran umum yang didapat masyarakat tentang seorang feminis biasanya adalah wanita single dan childless yang berfokus pada karirnya meniti tangga korporat. Jadi ketika seorang wanita bergantung pada pendapatan suaminya untuk bertahan hidup, pantaskah dia disebut seorang feminis?

Sering kali seorang ibu rumah tangga dinilai sebagai wanita yang mengorbankan karirnya demi keluarga. Namun sangat sedikit yang membicarakan isu di balik perlunya pengorbanan ini, yaitu sulitnya menyeimbangkan antara karir dengan keluarga dalam kondisi masyarakat seperti ini. Sulitnya akses child care yang bagus dan terjangkau biayanya. Jam kerja yang panjang dan tidak fleksibel, yang masih harus ditambah waktu yang dihabiskan untuk commuting ke kantor. Jika orangtua Anda menawarkan diri dan bersedia mengasuh cucu, berterimakasihlah pada mereka sekarang juga. Jika Anda memiliki pembantu atau day care yang terjangkau dan dapat dipercaya, itu bagus. Namun pada kenyataannya, ada banyak alasan yang mengharuskan seorang wanita tinggal di rumah dan mengorbankan kemandirian finansialnya.

Bagaimana dengan para ibu dengan anak yang berkebutuhan khusus? Caregiver yang mengurus orangtua mereka yang lanjut usia? Apakah mereka tidak layak disebut feminis hanya karena mereka tidak memiliki penghasilan sendiri?

Saya adalah seorang stay-at-home mom. Selama total enam jam seminggu di saat balita saya sekolah, saya menulis novel. Dan meskipun saya mendapat royalti untuk novel-novel saya, penghasilan ini tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, jadi sumber penghasilan utama di rumah tangga tetaplah dari gaji suami saya. Keputusan untuk tinggal di rumah adalah keputusan yang saya buat secara sadar. Saya tahu saya tidak akan bisa menyeimbangkan kerja kantoran dan parenting dan menulis novel, dan pada saat bersamaan tetap menjaga kesehatan dan jam tidur yang normal. Mungkin ada manusia-manusia super di luar sana yang bisa, tapi saya aware dengan keterbatasan saya yang tidak pernah bisa multitasking dengan hasil memuaskan. Harus ada yang dikorbankan, dan saya memilih mendahulukan novel saya ketimbang pekerjaan lainnya, karena menulis memberi saya emotional fufillment.

Karena bukankah inti dari feminisme adalah kebebasan untuk memilih?

Saya menemui banyak ibu rumah tangga yang mandiri, memiliki pendapat sendiri, memiliki aktivitas dan hobi sendiri di luar keluarga. Memilih secara sadar untuk menjadi ibu rumah tangga bukanlah anti-feminis. Yang anti-feminis adalah ketika kesempatan untuk memilih itu direnggut, ketika seorang wanita diberitahu bahwa tempatnya adalah di rumah dan mengurus anak, bahwa sudah kodratnya untuk menjadi ibu rumah tangga.

Saya rasa jika feminisme adalah tentang memperjuangkan hak-hak wanita, seharusnya di sinilah kita berfokus: dengan mengurangi kesenjangan gaji dan kesempatan kerja, dengan cuti hamil dan melahirkan yang lebih bersahabat, dengan jam kerja yang fleksibel dan akses child care yang terjangkau. Bukan dengan menuding para wanita yang dengan sadar memilih untuk tinggal di rumah sebagai anti-feminis.

Dengan menggunakan kemandirian finansial sebagai sebuah syarat, feminisme justru disederhanakan menjadi salah satu urusan saja, yaitu uang. Di dunia ideal, tentu akan menyenangkan kalau kita bisa meniti karir sekaligus memiliki waktu untuk keluarga sekaligus mengurus diri sendiri. Namun pada kenyataannya, paling tidak sekarang ini, jalan mana pun yang kita pilih, selalu kompromi dan pengorbanan yang harus dibuat, entah itu kemandirian finansial atau kesempatan untuk melihat si buah hati membuat langkah pertamanya. Mungkin suatu saat dunia bekerja akan lebih ramah terhadap para ibu. Namun sampai saat itu datang, mari berhenti menuding dan menilai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s