Renungan di Hari Kartini

Di tengah hari-hariku yang begitu-begitu saja, yang melulu menatap kodingan dan rumus matematika di depan layar komputerku, hiruk pikuk linimasa akun media sosialku lah yang menjadi pengingat apa-apa saja yang sedang terjadi di sekelilingku. Dan minggu lalu aku diingatkan bahwa sebentar lagi adalah Hari Kartini lewat seorang kakak yang sepertinya sedang mempersiapkan lomba pakaian daerah untuk anaknya.

“Ah, it’s that time of year again.”

Minggu lalu, aku dan kolega-kolegaku pergi menonton pertandingan persahabatan hoki es di kota kami. Kami semua janjian untuk bertemu paling lambat 30 menit sebelum pertandingan dimulai di depan stadion olahraganya. Karena stadionnya sangat dekat dengan rumahku, aku nyaris saja lupa kalau janjian bertemunya cukup awal. Dan, yah, akhirnya aku pun terlambat sekitar 2 menit. Waktu aku tiba, kupikir aku sudah terlambat sekali. Eh lalu ternyata malah ada yang mendadak batal datang dan 2 orang kolega lainnya ngaret. Bete sama yang ngaret, salah satu kolega yang juga adalah teman baikku nyeletuk, “Emang ya dari dulu mereka ini tuh kayak perempuan, tukang telat.” And there, at that exact moment, I was stunned. Bukan karena komentar seksis itu, tapi karena reaksiku terhadapnya. Aku enggan, atau malah mungkin takut, mengoreksi temanku karena dia adalah temanku dan bukan sekedar orang asing atau kolega di kantor. Tapi apakah pembiaran seperti ini bukannya malah wujud keegoisanku? Bukankah pembiaran seperti ini justru menunjukkan bahwa mungkin aku membela hak-hak perempuan hanya dalam situasi yang lebih memihakku? Ketika orang asing melontarkan kalimat seksis, aku marah karena aku merasa direndahkan dan, in a way, aku harus merebut kembali posisiku yang sejajar atau kalau bisa lebih tinggi dari mereka. Tapi kalau temanku yang berkata begitu, biar sajalah, daripada nanti ada friksi di antara kami. Begitukah?

Tahun lalu, di minggu menjelang Hari Kartini seperti saat ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku protes ke siapapun yang kebetulan berbincang-bincang denganku. “Kenapa harus Kartini sih? Kenapa Kartini jadi standar pukul rata buat semua perempuan Indonesia? Gak relatable banget tauk!” Aku tidak terlalu punya masalah dengan bagaimana orang-orang merayakan Hari Kartini, entah itu dengan lomba peragaan busana atau lomba memasak. Walaupun sebenarnya cukup sedih juga sih, seolah-olah penghargaan tertinggi bagi seorang perempuan adalah hanya soal penampilan dan kemahirannya di dapur. Tapi ya sudahlah. Siapa aku sehingga aku bisa mendikte orang lain bagaimana harus merayakannya? Aku juga tidak terlalu punya masalah dengan mereka-mereka yang mengagumi Kartini dan menjadikannya inspirasi. Ada masa di mana aku begitu judgmental dan ignorant, meremehkan apa yang Kartini lakukan sebagai “hanya menulis.” Walaupun sampai saat ini aku masih belum juga memberikan niat dan waktuku untuk membaca lebih banyak soal Kartini, paling tidak sekarang aku mengerti bahwa aku lah yang memiliki privilege yang begitu besar sehingga aku bisa berkata seperti itu, “Ah, Kartini kan hanya menulis, semua juga bisa!” Karena tidak semua orang bisa menulis dan mengungkapkan pikiran dan pendapatnya tanpa konsekuensi apapun. Di Indonesia masa sekarang saja konsekuensi ini tidak jarang berupa pengucilan sosial, persekusi, pengusiran warga, ancaman penjara, dan banyak hal-hal seram lainnya.

Karena Kartini tidak relatable buatku, waktu itu aku memutuskan bahwa Bu Susi adalah Kartiniku, tokoh yang aku jadikan panutan buatku. Apakah Bu Susi lebih relatable buatku sehingga aku memilihnya? Sebenarnya, kalau bukan karena kami hidup di masa yang sama, Bu Susi tidak lebih relatable juga buatku dibandingkan Kartini. Dan kalau aku menyelidiki hatiku dalam-dalam, mungkin sebenarnya aku memilih Bu Susi karena pemberontakanku terhadap cetakan Kartini dan karena aku sendiri yang membangun imajinasiku tentang Bu Susi sebagai all that is not Kartini. Dan di situlah aku jatuh ke dalam lubang yang sama. Ketika aku dengan butanya mengidolakan Bu Susi, sesungguhnya aku melakukan kesalahan yang jelas-jelas sama saja dengan pemaksaan cetakan Kartini yang aku sungguh tidak suka tadi itu. Kenapa harus Bu Susi yang hanya satu orang individu? Kenapa hanya karakter-karakter yang ada pada Bu Susi yang kuanggap sebagai sesuatu yang harusnya diaspirasi oleh semua perempuan Indonesia? Bukankah dengan begitu berarti aku memandang sebelah mata perempuan-perempuan lain yang lebih mirip dengan seorang Kartini? Bukankah ini ujung-ujungnya akan berakhir di adu domba macam ibu rumah tangga versus wanita karir?

Hampir setiap hari, perjalananku menuju dan pulang dari kantor kuhabiskan dengan mendengarkan podcast. Dan hari ini aku baru saja mendengarkan satu episode essay di The Lonely Hour Podcast yang judulnya I’m Not Lonely But I’m Not Bragging. Dan potongan essay di bawah merangkum apa yang ada di pikiranku beberapa minggu belakangan ini.

On the one hand, independence is seen as a virtue. All hail the single ladies! We aspire to take care of ourselves, to be financially and emotionally autonomous, and yet, we’re also defensive about being alone. We write things to justify and exoticize our behavior, straining to prove that we are indeed okay for wanting true independence. (Sumber)

Terjemahan bebas: Di satu sisi, kemandirian dianggap sebagai sebuah kegagahan. Kita sungguh ingin menjadi wanita lajang yang mandiri dan stabil secara finansial dan emosional. Tapi, di sisi lain, kenapa kita defensif soal kesendirian kita? Kita mencari-cari alasan dan mengeksotikkan tindakan kita, berusaha membuktikan kepada dunia kalau kita sungguh-sungguh baik-baik saja waktu kita menginginkan kemandirian yang sejati.

Orang-orang di sekelilingku tahu bahwa aku adalah seorang self-proclaimed feminist. Bagaimana tidak? Tidak jarang aku mengenakan hoodie atau kaos dengan slogan feminis tertulis besar-besar. More often than not, aku juga paling cepat protes kalau ada komentar seksis terlontar di sekelilingku. Aku wanita lajang yang mandiri finansial dan emosional. Aku tidak merasa kekurangan suatu apapun dan aku hampir tidak pernah merasa kesepian. Tapi, haruskah aku merasa khawatir dengan emotional state-ku yang selalu merasa cukup dengan diriku sendiri ini? Satu per satu, teman-temanku yang tadinya sepertiku, either sudah berkeluarga atau paling tidak sudah mengungkapkan keinginannya untuk mengakhiri masa lajangnya. Apakah ada yang salah dengan diriku ketika keinginan itu tidak terbersit di kepalaku? Apakah aku sungguh-sungguh menginginkan kemandirian? Atau, jangan-jangan sekali lagi ini adalah pemberontakanku terhadap cetakan perempuan sejati versi masyarakat patriarki, perempuan yang sudah berkeluarga? Jika iya, jika aku menginginkan kemandirian semata-mata karena kedengkianku terhadap patriarki, bukankah itu berarti bahwa aku tetap saja hidup di bawah kendalinya? Dan di masa depan, jika keinginan itu datang padaku, akankah aku menurutinya atau melawannya? Akankah aku menganggap diriku lemah for wanting a company?

Aku mendeklarasikan diriku sebagai seorang feminis. Tapi, apakah sesungguhnya aku masih memiliki hak untuk memanggil diriku seorang feminis? Aku masih belum bisa sepenuhnya melakukan hal yang sepatutnya dilakukan, aku masih lebih memilih kenyamananku sendiri, dan aku masih kebingungan dengan begitu banyak hal. Am I still a feminist? Or am I an un-feminist?

One Reply to “Renungan di Hari Kartini”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s