Ulasan KDrama: Because This Is My First Life

Weekend kemarin ini, mimin baru mulai nonton kdrama yang judulnya Because This Is My First Life (BTIMFL). OMG, drama ini tuh ya bagus BANGET. Mimin bahkan baru setengah jalan nontonnya (total ada 16 episode), tapi so far udah banyak banget isu perempuan yang diangkat di drama ini. Iya, BTIMFL memang kdrama dan mungkin kalian berpikir, “ah paling juga gak relevan sama kondisi dan budaya di Indonesia.” Oke deh, mimin coba meyakinkan kalian nih buat marathon ngabisin 16 episode di weekend besok. No spoiler.

Because-This-Is-My-First-Life[1]

Plot utama dari drama ini adalah tentang hubungan antara Nam Sae Hee dan Yoon Ji Ho. Kedengeran klise ya? Oh tunggu dulu! Situasi mereka berdua somehow relatable banget. Sae Hee ini salah seorang co-founder di start-up online dating app. Dari luar dia keliatannya orang berduit, padahal situasi finansial dia gak bagus-bagus amat. Karena cicilan apartemennya, basically dia gak bisa menikmati hasil kerjanya sampai 30 tahun ke depan. Dan karena situasi keuangannya ini, dia bertekad untuk melajang seumur hidup. Pernikahan dan keluarga itu butuh biaya cing! Ji Ho, protagonis perempuan di drama ini, adalah seorang lulusan SNU yang memilih untuk mengejar mimpinya untuk jadi seorang penulis walaupun jalan itu tuh surem, gak ada duitnya. Dia juga milih buat melajang karena, pertama, dia sibuk mengejar mimpinya dan, kedua, dia gak punya duit buat dating apalagi menikah.

Udah? Gitu aja? Jadi apa dong bedanya sama kdrama lainnya? Intinya romance doang kan? Well, gak juga. Drama ini punya banyak banget nilai plus di mata mimin.

This scene! And look at the sweater!

Untitled.png

Di adegan ini, dua orang sahabat Ji Ho, Soo Ji (kiri) dan Ho Rang (kanan) lagi ngobrol soal masalahnya Ho Rang. Sekilas soal karakter dua perempuan ini, Soo Ji adalah karakter yang biasanya dipuja-puja para feminis. Dia boss ass bitch banget lah, karir cemerlang, kompeten, dan percaya diri. Ho Rang, on the other hand, adalah tipikal cewek idaman masyarakat patriarki, yang tujuan hidupnya adalah menikah dan punya anak dan merasa harga dirinya rendah ketika dia masih belom menikah. Dua karakter ini sebenernya bagaikan kucing dan anjing dalam konteks perjuangan hak-hak perempuan. Biasanya dua jenis karakter ini paling sering diadu domba, macem wanita karir vs. ibu rumah tangga. Tapi gak begitu di drama ini. They are actually best friends! Dan liat deh tulisan di sweater-nya Ho Rang. Ho Rang tuh sebenernya sadar lagi kalau cara berpikirnya dia itu diracuni patriarki, but at the same time, she just can’t help it sometimes. Mimin jadi terhibur. We’re all human and we’re not perfect and it’s okay to struggle.

Pengingat soal macam-macam jenis pelecehan seksual

Di drama ini, ada satu adegan di mana Ji Ho ada dalam situasi terpojok. Rekan kerjanya datang ke tempat dia tinggal dalam keadaan mabuk dan setelah mereka sempat berargumen, rekan kerjanya ini berusaha mencium Ji Ho. Adegan ini berakhir dengan Ji Ho pergi dari lokasi itu, padahal itu tengah malam. Terus terang, awalnya mimin sempat berpikir “Ah gak apa-apa. Ji Ho baik-baik saja so it’s ok.” NO, IT IS NOT OKAY! Pelecehan seksual itu tidak pernah baik-baik saja walaupun si korban tidak menderita secara fisik. Gila ya, mimin gak sadar kalau pikiran mimin ternyata bisa se-idiot itu!

Pelecehan seksual itu gak sebatas hal fisik. Pelecehan seksual itu juga mencakup kategori verbal. Di kantornya, Soo Ji sering banget mengalami hal ini. Setiap hari dia harus nelen aja gitu semua omongan-omongan yang menjurus ke hal-hal seksual yang ditujukan kepadanya oleh kolega lelakinya. Kalian tau hal apa lagi yang termasuk pelecehan seksual? Melihat tubuh seorang perempuan dari kaki sampai kepala dengan mata dan muka nafsu najis.

Oh! Ada hal cerdik lain yang dibuat oleh penulis naskah drama ini yang mengkritik soal gimana kita mungkin bias sama cowok cakep, walau tindakan dia sebenernya sampah banget dan, yah, udah melecehkan sih. Di drama ini ada karakter cowok yang, duh, cakep banget! Lesung pipinyaaaa… Senyumnyaaaa… Pembawaannya yang santai dan bersahabat bikin dia jadi charming banget deh pokoknya. Sayangnya, charm dan lesung pipinya ini gak diimbangi dengan sifat yang baik. Cuma dia hampir selalu can get away with it karena ya cewek-cewek meleleh aja.

By the way, mumpung kita lagi ada di topik pelecehan seksual, kalian mampir ke Twitternya Never Okay Project deh di @neverokayprjct. Mereka ini adalah tempat buat berbagi cerita mengenai pelecehan seksual di tempat kerja di Jakarta dan mereka juga mengedukasi kita soal apa-apa saja yang masuk kategori pelecehan seksual.

Shitty things us women have to deal with on a daily basis

Soo Ji, selain dia mesti nelen aja pelecehan verbal yang dia alami setiap hari, dia juga di-judge sama kolega perempuannya yang seriusan misoginistik aja. Soo Ji itu berhasil karena dia kompeten. Tapi karena dia juga cantik dan badannya bagus, dia digosipin kalau keberhasilannya sebenernya karena dia tuh keganjenan aja sama klien-kliennya, makanya dia bisa berhasil. Soo Ji juga mesti hati-hati kalau dia lembur di kantor dan kebetulan bareng sama kolega lainnya yang adalah laki-laki. Karena dia harus menjaga nama baiknya, nanti digosipin ada main lagi kan di kantor.

Di drama ini ada satu aspek dari kehidupan modern yang juga disorot, yaitu soal online dating. Dan di platform seperti ini, drama ini menyadarkan kita kalau resikonya jauh lebih besar buat perempuan daripada laki-laki. Perempuan harus ekstra hati-hati untuk men-share informasi dan kalau mau menolak laki-laki. Lebih spesifiknya, drama ini mengangkat soal stalker. Serius yah, buat kita para cewek, kita tuh gak bisa hidup dengan tenang di mana pun. Kita harus ekstra hati-hati kalau pulang malam. Belom lagi kalau ada stalker. Mau si stalker harmless atau enggak, bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah dalam banyak kasus, perempuan ada dalam posisi yang gak berdaya dalam menghadapi stalker ini, ketimbang kalau gendernya dibalik jadi laki-laki yang dibuntutin seorang perempuan.

Sebenernya masih banyak banget hal lain dari drama seri ini yang menurut mimin pantas menjadikannya tontonan wajib pejuang emansipasi wanita. Tapi kalaupun kamu gak identify sebagai seorang feminis, dan kamu sekedar suka nonton kdrama, seri BTIMFL ini enjoyable dan relatable banget buat kamu-kamu yang ada di usia 20 sampai 30-an. Serius, drama seri ini jauh dan lebih dari sekedar cerita romance. Drama ini soal persahabatan, soal tantangan hidup anak 90-an, soal pekerjaan, soal pertanyaan kapan dan kenapa menikah, soal kapan punya rumah atau apartemen sendiri, soal mengejar mimpi vs. mengisi perut, dan banyak hal-hal lain yang pastinya kita hadapi sehari-hari. Jadi, tunggu apa lagi? Monggo segera ditonton dramanya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s