Perempuan dan pulang malam

Beberapa waktu yang lalu, gue baca sebuah infografis tentang kota-kota di dunia yang paling tidak aman buat perempuan. Dan, yah, Jakarta ada di daftar top 10 gitu deh. Respon gue seketika itu adalah, “Ah ini lebay deh. Gue gak pernah kenapa-kenapa tuh di Jakarta.” Tapi gak berapa lama kemudian gue sadar bahwa respon gue adalah respon problematik tipikal orang-orang dengan privilege. Kenyataan bahwa gue ada dalam keadaan baik-baik saja bukan berarti bahwa tidak ada masalah sama sekali di luar sana. Masalah-masalah itu ada sekali, tinggal gue-nya yang memperhatikan atau cukup peka atau tidak. Masalah-masalah itu ada sekali, dan gue pun sebenarnya mengalaminya in a way or two, hanya saja gue sudah menganggapnya sebagai hal yang normal, that that’s just the way it is.

Gaya berpakaian dan pembawaan gue selama gue kuliah di Jakarta dulu tuh tomboy banget. Rambut pendek kayak cowok, baju item dari ujung kepala sampe ujung kaki, kaos kegedean, ransel item gede, jaket hoodie gombrong. Begitu aja nyaris tiap hari. Kayanya gara-gara penampilan gue itu, plus lekuk-lekuk kewanitaan gue yang belom keliatan, gue gak jarang dikirain cowok, entah itu sama tukang ojek atau sama temen satu asrama. Dan kalo gue boleh jujur, entah kenapa, I took pride in that, in my male-like appearance. Ibu gue sebenernya sering protes sama pilihan fashion gue ketika itu, seperti di percakapan di bawah:

Ibu:Kamu pake baju yang cerah sedikit dong, jangan kaos-kaos kegedean dan lusuh kamu itu. Rambut kamu juga pendek banget! Yang cantik sedikit dong.
Gue:Ma, ini salah satu bentuk perlindungan diri juga. Aku kan sering pulang malem. Dan semakin aku keliatan kayak cowok semakin bagus, Ma.”
Ibu:Ya kamu jangan pulang malem lah.
Gue:Trus kalo aku gak pulang malem, tugas-tugas aku gimana dong, Ma? Mama kan tau aku juga pulang malemnya bukan karena alasan yang mengada-ada.
Ibu:Aduh anak Mama…” *nada pasrah*

Tentunya setiap kali gue menyampaikan argumen tak terbantahkan itu, soal pilihan fashion atas dasar keamanan, gue selalu merasa lega. “Whew… Apapun deh yang penting Mama gak bolak-balik mempermasalahkan baju yang aku pakai setiap hari. Yang penting biar Mama gak khawatir mulu, gak ada habisnya.” Dan gue juga bersyukur banget Ibu gue gak begitu paham landscape kampus kayak gimana. Gue gak pernah ngungkit-ungkit kalo hutan tempat pembunuhan yang kadang muncul di berita itu adalah daerah yang gue lewati setiap malam menuju ke asrama, dibonceng abang ojek tak dikenal. Gue gak pernah cerita kalo jalan menuju kosan gue itu tuh gang yang super gelap, yang gue sendiri aja selalu setengah berlari ketika melewatinya, takut ada orang jahat.

So, the problem was there, indeed. It’s not that I didn’t experience it. In fact, I lived with it. I lived in fear. And my mom did too.

Sebenarnya ketika itu gue bisa saja tinggal bersama keluarga bibi gue. Dan, yah, topik itu memang muncul beberapa kali di pembicaraan gue dengan ibu gue. Kalo gue tinggal bersama bibi gue, ada banyak keuntungannya sebenarnya. Pertama, gue gak mesti bayar kos dan itu meringankan beban finansial orang tua gue banget. I mean, ibu gue gak akan membiarkan gue makan hidup gratis gitu sih. Tapi biaya hidup gue harusnya memang jadi lebih rendah. Belom lagi pola makan gue yang gak teratur dan gak bergizi ala anak kuliahan pastinya akan diperbaiki, karena gue jadi akan tinggal dengan “ibu kedua” gue. Gue juga bisa jadi lebih dekat sama sepupu-sepupu gue, dan lain sebagainya. Tapi setiap kali topik itu diangkat, soal gimana kalo gue tinggal sama bibi aja, gue selalu menolaknya. Ayah gue pun selalu kurang setuju dengan gagasan itu. Alasannya satu saja sebenarnya, yaitu soal gue yang selalu pulang malam.

Ibu:Ru, Tante nanya lagi tuh. Kamu mau ya tinggal sama Tante aja?
Gue:Ah enggak ah, Ma. Udah aku lanjut ngekos aja. Lagipula kosan kan jauh lebih deket ke kampus daripada rumah tante.
Ibu:Tante bilang itu gak masalah, kamu bisa dianter-jemput sama karyawannya.”
Gue:Aduh, nyusahin orang. Gak usah, Ma.
Ayah:Iya lah gak usah. Kamu kan sering pulang malam. Daripada nanti ada omongan trus hubungan keluarga jadi gak baik.
Ibu:Tante pasti ngerti lah kamu pulang malem karena kuliah kamu.
Ayah:Ini bukan cuma soal mengerti. Kan mana kita tau nanti misalnya tetangga mereka jadi gosip trus mereka yang jadi susah juga. Akhirnya nanti kuliah Ru juga jadi terganggu karena dia gak leluasa, mesti jaga apa kata orang.

That was another problem that I had to deal with. Apa kata orang. Jangan sampai orang bertanya-tanya kenapa gue selalu pulang malem. Jangan sampai orang berpikiran dan berkata buruk karena gue selalu pulang malem. Dan masalah ini lebih mudah diatasi dengan gue tinggal ngekos. Karena walaupun ibu kos gue selalu komentar soal gue yang pulang malem mulu, paling tidak gue gak ada ikatan keluarga dengan dia. Karena walaupun ibu kos gue suka ngomongin anak-anak kosnya di kumpulan ibu-ibu kos di warung sebelah, termasuk ngomongin soal gue yang pulang malem mulu, gue bisa berkata “peduli setan” tentangnya. Tidak ada hubungan keluarga yang akan terganggu. Gue hanya sementara di sana dan gue akan pergi dan kami tidak akan pernah bertemu lagi.

Pulang malam adalah kondisi yang non-negotiable. Kuliah gue saat itu sangat demanding, dan gue membutuhkan teman-teman dan kelompok gue untuk menyelesaikannya. Semua orang di kampus gue menghadapi hal yang sama, kehidupan kuliah kami begitu keras. Dan gue rasa tanpa pandang gender pun, semua orang menghadapi rasa was-was ketika misalnya berjalan di tengah gang yang gelap. Korban pembunuhan di berita-berita itu juga gak eksklusif cewek aja. Tapi, rasa was-was dan bagaimana kami para perempuan harus menghadapinya on a daily basis itu gak bisa disamakan dengan yang dihadapi laki-laki.

Take me as an example. Dengan pandangan sekilas, mungkin orang berpikir bahwa gue anak tomboy yang gak mau ribet dan pusing soal penampilan. Kaos dan celana jins itu praktis. Yang mereka gak tau adalah bahwa gue memilih gaya itu atas pertimbangan keselamatan diri. Jangan sampai gue keliatan kayak cewek, hence target yang gampang banget. To some extent, I had to fake my identity. Yang paling problematik di sini sebenarnya bahkan bukan hal itu sih. Yang harusnya membuat kalian dan kita semua berpikir lebih jauh adalah fakta bahwa gue lebih memilih hidup dalam perasaan was-was akan keselamatan gue ketimbang hidup dalam kendali “apa kata orang.” Kenapa harus ada “apa kata orang” untuk perempuan yang pulang malam? Apakah kritik dan cibiran yang sama juga dilontarkan kepada para laki-laki? Lalu, kalau ada perempuan yang jadi korban kejahatan pemerkosaan di malam hari misalnya, seberapa banyak orang-orang justru menyalahkan si korban seperti “salah sendiri malam-malam kok masih di luar” dan lain sebagainya. Sementara, kalau ada laki-laki yang jadi korban begal ato geng motor, ada gak sih komentar menyalahkan macem “Makanya malem-malem gak usah lah keluar rumah!”

Terus terang, gue gak punya usulan apapun untuk membuat Jakarta jadi lebih aman dan nyaman buat semua orang, khususnya perempuan. Buat gue Jakarta itu kayak benang kusut. But, if anything, tujuan gue menulis artikel ini tuh untuk menyampaikan bahwa hidup gue di Jakarta adalah hidup yang penuh rasa was-was, rasa takut yang sudah begitu menyatu dengan pola pikir gue sampai-sampai gue sempat tidak mengenalinya sebagai sebuah masalah. Dan gue rasa gue gak sendirian dalam hal ini. Pengalaman gue ini masih belom ada apa-apanya mungkin. Gue ini manusia golongan kelas menengah yang masih punya tempat yang nyaman untuk berteduh. Bagaimana dengan mereka yang tidur di tempat yang kurang layak atau bahkan di jalanan? Apakah mereka punya waktu untuk mengistirahatkan sejenak ketakutan-ketakutan dan kekhawatiran mereka?

Dari segi keamanan, Jakarta is a shitty place. But it’s much shittier place for us women.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s