Mau gak sama cowok yang “lebih rendah”?

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah diskusi di Quora. Pertanyaannya sendiri menarik sekali, ini kutipannya:

Bagi para perempuan, apakah kamu keberatan memiliki suami yang lebih “rendah” daripadamu? Sebaliknya, bagi para lelaki, apakah kamu keberatan memiliki istri yang lebih “tinggi” daripadamu? Mengapa? (konteks: gaji, usia, pendidikan, tinggi badan)

Jawaban di thread diskusinya sebenernya buat saya pribadi sih menyenangkan sekali untuk dibaca. Menyenangkan bukan dalam artian bahwa semuanya harus seperti pendapat saya, tapi lebih karena kok platform-nya bersahabat, dan orang jadi bisa jujur sambil tetap adem. Tidak perlu pakai marah-marah atau seperti ada nada merendahkan seperti kalau kita lihat “diskusi” di media sosial 😛

Nah, karena pertanyaannya menggelitik, saya jadi ingin ikut menjawab juga. Tapi kalau jawab di Quora, ruang untuk ngelesnya terbatas. Jadi lalu saya menulis artikel saja deh hahaha. Sebelum kita ke poin-poin jawabannya, apa yang saya tulis di bawah adalah murni pendapat saya seorang, dan adalah pendapat saya pada saat artikel ini dituliskan. Manusia kan bisa dan boleh sekali untuk mengubah pemikirannya. Oh, dan kalau ada yang kurang pas untuk Anda dan kok jadi menyinggung, duh saya gak ada maksud seperti itu 🙂

Usia

Dulu, di usia awal 20-an, entah bagaimana saya selalu saja ada cerita dengan laki-laki yang lebih muda dari saya. Dan, ya ampun, terus terang mereka semua menyebalkan sekali sampai-sampai saya sempat jadi anti sekali sama brondong. Sekarang, kalau saya pikir-pikir lagi, di usia belasan atau awal 20-an kebanyakan orang itu masih “beranjak dewasa”, termasuk diri saya sendiri. Jadi, daripada saya ngecap laki-laki lebih muda itu tidak dewasa, lebih baik saya ngaca dulu.

Sekarang nih, karena saya sudah makin tua dewasa (hopefully sih), saya jadi mengerti kalau usia itu hanya angka, dan seringkali tidak mencerminkan tingkat kedewasaan seseorang. Contoh nih. Di kantor saya, ada beberapa kolega yang usianya lebih tua tapi sayangnya (kalau meminjam istilah ayah saya) jiwanya kerdil. Wah judgmental sekali ya saya bilang jiwa orang lain kerdil, atas dasar apa coba?

Waktu itu kami ada acara kantor dan organizer-nya kurang profesional. Salah satu kolega lalu ngomel-ngomel di hadapan semua orang, termasuk organizer-nya, tentang ketidakbecusan mereka sambil membandingkan dengan organizer acara tahun lalu. Kemudian dia saya tegur dong, “Sudahlah. Tidak baik berkata seperti itu di depan semua orang. Kita juga perlu menjaga perasaan organizer-nya, mereka berusaha keras loh despite hasil yang kurang baik.” Kalian tahu apa jawaban dia terhadap teguran saya? “Kenapa saya harus menjaga perasaan orang-orang yang tidak menjaga perasaan saya? Mereka membuat saya tidak senang!” Ok, mari silakan dinilai sendiri ya. Mau tidak hidup dengan orang yang attitude-nya seperti ini?

Salah satu ciri kedewasaan yang biasanya deal-breaker banget buat saya adalah soal tepat waktu dan bisa atau tidaknya perkataan seseorang dipegang. Kalau kamu bilang akan datang jam 3 sore, ya jangan lalu datangnya jam 4 dong! Kecuali ada hal yang tidak terduga, tapi dalam kasus ini pun sebisa mungkin kasih informasi ke orang yang menunggu kamu. Yang kurang ajar sekali sih kalau bilang datang tapi tidak muncul sama sekali tanpa kabar. Ini beberapa kolega saya di kantor ya begini ini kelakuannya, walau umurnya harusnya mengindikasikan kedewasaan mereka.

Eh tapi, catatan terakhir soal usia. Cek undang-undang yang berlaku! Dan say no to pernikahan anak di bawah umur!

Pendidikan

Ngomong-ngomong, saya ini salah satu dari segelintir orang yang lulus S3 di usia cukup muda loh. Jangankan laki-laki dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, mengharapkan yang tingkat pendidikannya sepadan saja buat saya adalah angan-angan yang cukup absurd. Plus, setelah mengenyam pendidikan S3, saya jadi sadar bahwa gelar bukan lah segalanya. Buat saya yang penting adalah kesepadanan intelektualitas. Dan orang-orang dengan tingkat intelektualitas yang sepadan dengan saya bisa saya temukan di mana saja, bukan hanya di pertemuan-pertemuan eksklusif kaum cendekia.

Teman-teman terdekat saya, yang dengan mereka saya bisa ngobrol panjang lebar dari hal yang remeh sampai yang serius, kebanyakan “hanya” lulusan S1. Ayah saya, yang dengannya biasanya saya bisa bercengkrama berjam-jam tentang filosofi dan nilai-nilai kemanusiaan, dia “hanya” lulusan D3. Di sisi lain, orang dengan pendidikan tinggi belum tentu akan memanifestasikan tingkat kecerdasan dan kedewasaan berpikir seperti yang kita harapkan. Coba saja kita tunggu beberapa bulan lagi, sampai mulai masa kampanye. Saya sih jadi cukup tahu gara-gara Pemilu 2014 silam. Yang katanya lulusan kampus terbaik se-Indonesia dan bergelar S3-pun bisa cacat logika, dan ngotot pula waktu ditunjukkan kesalahannya. Ckckck…

Tinggi badan

Kayanya nih ya, kayanya saya gak terlalu masalah sama tinggi badan. Tapi gak tau juga deh. Soalnya sejauh ini laki-laki yang pernah membuat saya dag-dig-dug minimal tinggi badannya sama seperti saya. Jadi sebenarnya ada juga kemungkinan bahwa di bawah alam sadar saya, saya langsung dismiss laki-laki yang lebih pendek dari saya. Who knows.

Tapi saya ingat kalau dulu, di usia awal 20-an, saya punya kriteria tinggi badan laki-laki harus paling tidak 10 cm lebih tinggi dari saya. Kenapa? Karena waktu itu saya suka sekali pakai sepatu hak tinggi dan saya tidak mau jadi seperti tiang listrik kalau berjalan di samping laki-laki ybs. Alasan yang sebenarnya kalau saya pikir-pikir lagi, berasal dari ketidakpuasan saya terhadap diri saya sendiri. Memang kenapa kalau saya lebih tinggi atau terlihat seperti raksasa atau lebih macho? Kenapa karena saya tidak pede dengan diri saya, lalu saya jadi seperti mewajibkan orang lain untuk mengakomodasi keminderan saya yang terselubung itu?

Alasan sambil lalu yang biasanya juga dilontarkan orang tentang kriteria tinggi badan adalah “untuk memperbaiki keturunan.” Pernyataan ini problematik loh sebenarnya. Dalam kalimat tersebut ada asumsi bahwa kalau seorang manusia tinggi badannya kurang dari x, maka nilainya sebagai manusia adalah lebih rendah. Perbaikan keturunan? Seolah-olah ada yang salah atau cacat dengan seorang laki-laki dengan tinggi badan 150 cm misalnya. Iya, iya, saya tahu kalau ini hanya “becandaan.” Tapi becandaan juga ada yang baik dan ada yang lebih baik untuk dihentikan sama sekali.

Gaji

Di antara semua kriteria di atas, mungkin gaji adalah kriteria yang paling alot untuk saya negosiasikan dengan diri saya sendiri. Kalau lebih rendahnya masih, katakanlah, 20% dari gaji saya, mungkin saya masih tidak apa-apa. Tapi kalau sampai bedanya jauh sekali? Hmm… Sepertinya saya masih tidak rela. Tapi ketidakrelaan saya ini terus terang membuat saya jadi berpikir ulang. Jangan-jangan alasannya adalah karena tanpa sadar pola pikir saya masih dikuasai patriarki? Bahwa laki-laki lah yang berkewajiban menghidupi keluarga, bahwa laki-laki harus selalu “lebih” daripada perempuan, apalagi kalau sudah soal pendapatan? Entahlah. Saya masih kurang tahu juga apa alasan saya yang sebenarnya atas keengganan tadi.

Saya tahu kalau hal ini bisa jadi bahan cibiran oleh orang-orang yang skeptis atau bahkan antipati dengan feminisme. “Tuh kan! Dasar feminis, mau enaknya saja. Katanya kesetaraan gender. Laki-laki tidak apa-apa tuh dengan perempuan yang bergaji lebih rendah, atau bahkan tidak berpenghasilan sama sekali. Di mana kesetaraannya? Harusnya feminis tidak masalah dong dengan laki-laki bergaji lebih rendah, atau bahkan tidak berpenghasilan sama sekali!

Wah, ya gimana ya? Kalau buat saya sih, ini urusan dan pertimbangan pribadi dan prinsip masing-masing orang. Kalau sudah menyangkut uang, terus terang saya ini cenderung perhitungan, dan pakai asas keadilan hahaha. Kalau Anda laki-laki dan tidak masalah dengan perempuan yang tidak berpendapatan karena Anda memang menginginkan pasangan yang seorang ibu rumah tangga, ya itu urusan Anda. Tapi kalau di kemudian hari Anda lalu mengeluh bahwa istri Anda hanya bisa menghabiskan uang belanja… Wah, ya jangan salahin istrinya dong, Pak. Kan Anda sendiri yang punya kriteria calon istri tadi itu. Kalau Anda lalu jadi ngecap kalau semua perempuan itu matre dan cuma bisa menghabiskan hasil jerih payah Anda, yang brengsek sih Anda, Bung! 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s