Mona Lisa Smile dan kodrat perempuan

Film Mona Lisa Smile adalah sebuah film fiksi sejarah yang dirilis di tahun 2003. Latar belakangnya adalah Amerika pada tahun 50an. Mimin sebenarnya sudah tahu film ini dari jaman mimin sekolah dulu, pas jaman-jamannya mimin rajin ke tempat rental VCD tiap akhir minggu. Anak jaman sekarang masih tau VCD itu apaan gak sih? Hahaha… Walaupun mimin sering banget liat VCD ini mejeng di barisan depan, entah kenapa mimin selalu enggan buat minjemnya. Baru weekend kemaren nih mimin akhirnya nonton film ini. Dan kalau dipikir-pikir lagi, ada bagusnya juga mimin baru nonton sekarang-sekarang ini. Dulu mah pas masih anak ingusan, mimin kayanya gak bakalan bisa mengapresiasi pentingnya film ini seperti sekarang. Film ini adalah film yang feminis BANGET, yang menyampaikan tentang pentingnya pendidikan, tentang bagaimana perempuan bisa memilih jalan hidupnya masing-masing, entah itu untuk berkeluarga atau mengejar pendidikan/ karir.

monalisasmile1.png
Nuff said.

Tokoh utama dari film ini adalah Katherine Watson (Julia Roberts), seorang fresh graduate yang mendapatkan posisi mengajar di Wellesley Women’s College, sebuah kampus khusus perempuan yang bergengsi namun sangat konservatif. Di kampus ini, perempuan-perempuan yang berasal dari keluarga berada mengenyam pendidikan demi “mengisi waktu” sebelum bertemu calon suami dan pada akhirnya menikah. Nilai utama yang dianut kampus ini sepertinya ya bahwa tujuan hidup dan fungsi perempuan di masyarakat hanya satu, yaitu untuk menikah, membina keluarga, sambil tetap tampil cantik dan elegan dan mempesona, supaya suami gak malu. Mata kuliahnya ada yang namanya “Speech, Elocution, and Poise,” yang ngajarin perempuan gimana berbicara dan membawa dirinya dengan syantik dan elegan 😛

monalisasmile2.png
“How to let a Man take your Outer Coat”

Katherine di sini diceritakan sebagai seseorang yang ingin membawa perubahan, terutama dalam hal pemberdayaan perempuan. Di kelasnya (yang ngomong-ngomong adalah kelas Art History atau Sejarah Seni Rupa), dia mengajarkan murid-muridnya untuk berpikir kritis, alih-alih menerima mentah apa kata buku teks. Dan yah seperti yang mungkin kalian sudah duga, akhirnya Katherine mendorong murid-muridnya untuk berpikir kritis bukan hanya di kuliahnya, tapi juga untuk pilihan hidup mereka. Katherine mendorong mereka untuk berpikir untuk diri mereka sendiri. Tapi di film ini juga diceritakan sebuah konflik yang membuka mata Katherine bahwa dia sempat memiliki pemikiran yang tidak tepat, yaitu bahwa menjadi ibu rumah tangga juga adalah sebuah pilihan yang legit.

monalisasmile3.png

Selain Katherine, film ini juga menceritakan beberapa tokoh lain. Betty Warren (Kirsten Dunst) adalah seorang murid Katherine yang mematuhi “kodrat wanita” seperti kita patuh sama UUD 1945 dan Pancasila, tanpa bertanya, dan bahkan marah dan tidak suka ketika ada orang lain yang mempertanyakan atau melenceng dari kodrat tersebut. Giselle Levy (Maggie Gyllenhaal) adalah karakter yang liberal, yang bertolak belakang sekali dengan Betty yang konservatif. Mereka berdua sering adu argumen. Joan Brandwyn (Julia Stiles) adalah seorang murid yang bercita-cita menjadi seorang pengacara. Katherine mendorong dia untuk melamar ke Yale Law School dan dia akhirnya diterima. Maaf, spoiler alert, Joan akhirnya memilih untuk menikah dan tidak melanjutkan pendidikannya, dan dia lah yang menyadarkan Katherine bahwa choosing to be a wife and mother does not make her any less intelligent. End of spoiler. Lalu ada Connie Baker (Ginnifer Goodwin) yang diceritakan sebagai perempuan yang bisa dibilang agak timid dan polos, dia gampang sekali percaya apa kata orang. Tapi akhirnya dia pun bisa dan berani mengejar kebahagiannya sendiri.

Salah satu hal lain yang mimin sangat apresiasi dari Mona Lisa Smile adalah bahwa kisah cinta tidak menjadi plot utama dari filmnya. Iya, tentunya masih ada bumbu-bumbu kisah cinta juga, karena ya what are the chances hidup seseorang gak ada romansa-romansanya dikit. Walaupun begitu, yang ditampilkan bukan hanya aspek berbunga-bunganya saja, tapi bahwa kisah cinta itu beragam sekali, and that it does not have to have a happy ending. Spoiler alert. Katherine sempat berhubungan dengan Bill Dunbar (Dominic West),seorang dosen di kampus Wellesley. Dia ganteng, charming, dan whatnot lah. Tapi akhirnya diceritain kalau dosen ini sebenarnya cemen. Dia merasa terintimidasi dengan karakter dan pikiran “progresif” Katherine. Dan, horeee, Katherine gak lalu “membodohkan” dirinya demi mengakomodasi laki-laki yang insecure ini, dia memilih untuk berlalu pergi. End of spoiler.

Segini dulu aja deh ya ulasan filmnya. Sebenernya masih banyak banget yang mimin pengen bahas dan ceritain di sini, tapi kalau mimin lanjutin, nanti isinya spoiler muluuuk. Daripada kalian bete mimin spoiler-in, mendingan kalian nonton sendiri dulu. Nah nanti kalau gemes pengen cari temen buat ngebahas, kontak mimin deh, kita bisa bahas sampe berbusa dan bibir jontor hahaha. Ok deh, selamat nonton yaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s