Terrifying

Bidang yang gue geluti adalah bidang yang sering dianggep bidang “cowok”. Dari jaman S1, temen-temen kuliah gue banyakan cowoknya daripada ceweknya. Jaman S2 juga gak beda jauh. Di tempat kerja, kadang-kadang masih untung kalau ada cewek lain selain gue di satu tim. Di tim gue yang sekarang proporsinya lebih berimbang, tapi dalam satu perusahaan dan di tim-tim lain yang terlibat dengan tim gue, tetep aja proporsi pegawai cowoknya lebih tinggi daripada pegawai cewek.

What I’m trying to say is, gue terbiasa berada di lingkungan yang didominasi cowok. Gue terbiasa dianggep one of the guys. I mostly have no problem with it. Tapi belakangan, gue mulai memperhatikan kalau ada beberapa percakapan gue yang setelah dipikir-pikir terdengar mengkhawatirkan.

Jadi ceritanya, mulai sekitar akhir tahun lalu, I started to get into tabletop RPG. Buat yang gak tau, tabletop RPG itu kira-kira adalah kombinasi antara game dan story-telling, di mana setiap partisipan memainkan seorang karakter dan mereka mesti berinteraksi dalam sebuah narasi. Gue mostly main sama beberapa temen-temen di Indonesia lewat internet. Beberapa bulan yang lalu, gue baru sadar kalau di kantor ada grup yang kadang-kadang suka ngumpul dan main bareng juga. Bulan lalu, beberapa dari kami akhirnya memutuskan untuk mulai main bareng.

Percakapan di bawah ini terjadi ketika gue ngasih tau tentang hal ini ke grup temen-temen yang gue biasa main bareng. Kebetulan, grup pertemanan gue yang ini isinya cewek semua.

Gue: “Mulai minggu depan gue bakalan main sama beberapa temen kantor, tapi seperti biasa gue cewek sendiri.”
Temen 1:OMG so terrifying.”
Gue:IKR.”
Temen 2: “That’s intimidating. Semangat, sis.”

Habis percakapan itu terjadi, gue ngerasa biasa-biasa aja. Tapi, semenjak ngurusin Kami Perempoean, otak gue kayaknya mode defaultnya berubah jadi overthinking. Lama-lama gue mikir juga, why is it terrifying?

Jawaban pertama yang terpikir sama gue adalah gue, temen 1, dan temen 2 itu semuanya sama-sama lebay. Tapi terus gue inget kalau percakapan ini tuh gak terjadi sekali ini doang. Rapat tim terus lo cewek sendiri? Terrifying. Jalan-jalan ke Berlin dan lo cewek sendiri? Awkward. Ke gym terus isinya cowok semua? Intimidating. Dan percakapan ini sama cewek yang berbeda-beda. Mungkin aja ternyata gue dikelilingi orang-orang lebay, tapi penjelasan ini kok kedengerannya kayak gaslighting. Perasaan takut dan terintimidasi itu ada, so the problem is real.

Setelah gue renungkan baik-baik, gue berpikir ada dua kemungkinan kenapa reaksi refleks gue dan temen-temen cewek gue terhadap situasi di mana kami bakal menjadi satu-satunya cewek di sebuah grup.

Kemungkinan pertama: jadi satu-satunya orang yang berbeda di setiap grup selalu menakutkan. Emang sih, gak mungkin ada orang yang sama persis dengan lo dalam sebuah grup. Bahkan clone jahat di buku Goosebumps pun gak sama persis sama Monty. Tapi buat gue pribadi, kalau ada orang yang latar belakang atau situasinya mirip dengan gue di sebuah grup yang benar-benar asing buat gue, gue akan merasa lebih nyaman. Dalam hal ini, hal pertama yang paling gampang diidentifikasi adalah gender. Bisa jadi, gue dan temen-temen cewek gue terintimidasi karena kami gak menemukan orang yang sepintas punya kesamaan dengan kami.

Kemungkinan pertama masuk akal. Tapi dari hasil renungan gue, ada kemungkinan kedua yang mirip sama kemungkinan pertama, tapi lebih menyedihkan.

Gue gak bisa bicara tentang bidang lain, tapi di bidang yang gue geluti dan in the geek/nerd culture, seringkali cewek punya pengalaman yang rada gak enak. Pasti pernah deh lo liat diskusi entah di Twitter/Tumblr/Facebook tentang diskriminasi dan seksisme baik di bidang profesional atau hobi. One of the most infamous example is the Gamergate, di mana beberapa game developer dan tokoh feminisme seperti Zoëy Quinn, Anita Sarkeesian, dan Brianna Wu menjadi korban harrasment yang terkoordinir baik di internet dan dunia nyata. Cewek-cewek yang suka hal-hal yang geeky atau nerdy seringkali dipanggil fake geek girl. Gue sering banget baca dan dengar cerita horor di reddit tentang seksisme terhadap player cewek di tabletop RPG. Matt Colville, seorang penulis dan game designer yang punya Youtube series tentang Dungeons & Dragons, nyinggung hal ini di salah satu videonya.

Terrifying stuff.

Sampai hari ini, gue udah dua kali main dengan grup kolega gue ini di kantor. They are all lovely people, I had a lot of fun and we’re going to have another game tomorrow. Ketakutan gue gak terbukti. Tapi gue rasa, poinnya bukan apakah ketakutan gue terbukti apa gak. Gue memilih untuk tetep main game sama orang-orang ini, but I could’ve easily said “nope, that’s terrifying”. Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, gue memilih untuk tetep masuk IT walaupun bidang ini katanya bidang cowok, but I could’ve easily said “nope, that’s intimidating”. In fact, gue sering denger kok beberapa temen-temen cewek yang bilang mereka gak mau masuk engineering karena katanya cowok semua.

Gue gak bermaksud bilang kalau engineering itu lebih baik daripada bidang-bidang lain, dan gue gak bermaksud bilang kalau orang-orang ini mestinya masuk teknik aja dan bukannya masuk hukum atau ekonomi. I’m saying that, beberapa orang ini mungkin sebenarnya tertarik untuk masuk ke sebuah bidang atau melakukan sesuatu, tapi mundur teratur karena bidang itu gak diverse enough.

And it’s not their fault.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s