Renungan di Hari Kartini

Di tengah hari-hariku yang begitu-begitu saja, yang melulu menatap kodingan dan rumus matematika di depan layar komputerku, hiruk pikuk linimasa akun media sosialku lah yang menjadi pengingat apa-apa saja yang sedang terjadi di sekelilingku. Dan minggu lalu aku diingatkan bahwa sebentar lagi adalah Hari Kartini lewat seorang kakak yang sepertinya sedang mempersiapkan lomba pakaian daerah …

Aku perempuan dan aku seorang bidan di kaki pegunungan

Kami Perempoean kali ini berkesempatan untuk mewawancarai seorang perempuan yang berprofesi menjadi seorang bidan, Ibu Ria (demi menjaga etika profesi dan kerahasiaan narasumber, kami tidak menggunakan nama sebenarnya), 29 tahun, yang berdinas di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Selain menjadi bidan, dia juga seorang istri dan seorang ibu bagi anak semata wayangnya. Kami Perempoean …

Mengapa perempuan?

Mengapa perempuan? Dikatakan dia tak boleh terlalu sendiri Tidak boleh melampau batas Jembatan normatif yang juga dibuat oleh istiadat   Ada pembatas, antara kebebasan dan tradisi Yang tak tahu sampai kapan itu berdiri Mungkin harus menunggu Kartini lagi Datang dengan destruktif dan matang mencoba bicara dengan lantang dan tak dinilai sumbang..   Terasakah suaramu tercekat? …

Menyanjung Semua Tanpa Menjatuhkan Yang Sudah Disanjung

Saya mau pengakuan dosa. Pos yang akan kamiperempoean publish di hari Senin selepas hari Kartini hampir saja berisi yet-another-rant tentang bagaimana seharusnya Kartini tidak dijadikan wajah dari perempuan Indonesia secara keseluruhan dan bagaimana masih banyak wanita-wanita lain yang berkontribusi banyak terhadap perjuangan pada umumnya. Saya sudah mulai menyiapkan draft berapi-api tentang bagaimana Martha Christina Tiahahu (pahlawan pribadi saya),Maria …